
"Asisten Angga," ucap Rembulan yang tak percaya dengan kehadirannya yang telah menemukan keberadaan di rumah sakit ini.
Tak ada yang tak mungkin bagi Rembulan, sudah biasa bagi seorang asisten pribadinya suaminya itu bisa menemukan keberadaan dirinya karena Tuan Raditya punya banyak koneksi luas dan banyaknya pengawalnya yang ikut andil dalam pencarian Rembulan. Dengan mudah Rembulan segera di temukan.
Asisten Angga mendekat dan memastikan nyonya Rembulan baik-baik saja.
"Nyonya pergi jauh pun Tuan pasti akan menemukan keberadaan nyonya," ucap asisten Angga yang membuka keheningan di ruangan yang biasa ini.
Rembulan memalingkan wajahnya, ia tak ingin menimpali ucapan asistennya yang telah menemukan keberadaannya.
"Saya sudah menghubungi Tuan, dan dia akan kemari untuk menjemput Nyonya," sambungnya lagi yang membuat Rembulan langsung menatap asisten Angga yang tak percaya jika asisten itu langsung melaporkan keberadaannya.
"Setia itu kah dirimu wahai asisten Angga pada Tuan mu," ejek Rembulan yang mulai membalas perkataan asisten Angga.
"Itu tidak penting untuk saya memberitahukan hal itu pada nyonya, biar itu jadi urusan saya," jawab asisten Angga dengan santai.
.
.
.
Diluar, Tata merasa kaget dan syok dengan para mengawal yang menjaga di pintu kamar majikannya sedang di rawat. Para pengawal yang Tata kenali membuat Tata segera masuk dan menghampiri majikannya untuk melihat keadaan Rembulan.
"Ulan, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Tata yang begitu khawatir dengan adanya asisten pribadinya Tuan Raditya ada di ruangan ini.
Cepat sekali Tuan Raditya dan para anteknya menemukan keberadaan dirinya dan majikannya yang sedang kabur dari kediaman itu.
"Kamu telah melanggar aturan, Tata. Membawa nyonya Rembulan tanpa seizin Tuan Raditya," ucap asisten Angga pada Tata.
"Maaf, Tuan. Saya tidak tega melihat kondisi majikannya yang butuh pertolongan," jawab Tata yang berani menjawab perkataan asisten pribadinya Tuan Raditya.
"Lancang sekali kamu," ucap asisten Angga.
"Saya hanya membantu orang yang tak bersalah dan meminta pertolongan saya," jawabnya lagi sambil mendekati majikannya yang sedang tertekan adanya asisten Angga.
"Kamu tak sendirian, ada aku di sini yang akan menemanimu," ucap Tata yang meyakinkan majikannya agar tak ketakutan.
Tak berselang lama Tuan Raditya datang bersama pengawalnya dan ia membuka pintu kamar inapnya istrinya yang sedang di rawat di rumah sakit ini.
Semua orang yang ada di dalam sana melihat kearah Tuan Raditya yang melangkah dengan pelan namun dengan tatapan dingin tak seperti kemarin yang hangat pada Rembulan.
"Kamu ingin mencoba kabur dari ku, Ulan," tanya Tuan Raditya pada Rembulan.
__ADS_1
Rembulan memalingkan wajahnya, ia tak ingin menatap kearah suaminya yang telah tega memperlakukan dirinya begitu kejam tak kemanusiaan, Tuan Raditya yang tak menghiraukan rengekan dan rintihan Rembulan ketika meminta tolong untuk di hentikan hukuman yang telah di berikan. Rembulan dengan pasrah hidupnya yang sudah tak berdaya.
"Apa kau ingin bebas dan menikmati tubuh pria lain dengan sesuka hatimu, Hem." hina Tuan Raditya yang di layangkan pada Rembulan.
Dan seketika Rembulan menoleh, ia bangun dengan tubuh yang lemah dengan selang infus yang masih menempel di tangannya. Menghampiri suaminya dengan pelan, Rembulan menatap tajam kearah suaminya yang telah menghinanya dengan rendah.
Plak...
Satu tamparan di layangkan oleh Rembulan, ia sudah tak tahan lagi dengan semua ini. Hidupnya yang telah hancur oleh orang yang ia sayangi.
Tuan Raditya memegang pipinya yang terasa panas, ia tersenyum mengejek pada Rembulan yang telah berani padanya. Asisten Angga yang ingin membantu Tuannya di cegah oleh Tuan Raditya.
"Biarpun aku wanita yang telah di jual oleh kedua orang tuaku, aku masih punya harga diri dan martabat sebagai seorang wanita sekaligus sebagai istri, aku juga tau gimana seorang wanita baik-baik harus dilakukan apa. Aku masih sadar aku sebagai istri dari mu, Mas," ucap Rembulan yang sudah muak dengan keadaan ini.
"Kamu tak mencerminkan sebagai seorang istri tapi sebagai wanita murahan," jawab Tuan Raditya yang tak kalah emosi.
"Aku tak seperti itu, Mas. Aku tak mungkin memberikan tubuh ku pada pria lain, yang mengambil kesucian ku saja kamu, Mas." teriak Rembulan sama emosinya.
Tuan Raditya terdiam, memang dirinya lah yang pertama merasakan nikmat yang ada di tubuh istrinya. Mengambil kesucian Rembulan untuk pertama kalinya.
"Itu tak menjamin, setelah itu kau melakukan itu dengan pria lain," tuduhnya lagi.
"Percaya tidaknya kamu, Mas. Aku sudah bilang yang sejujurnya dan janin yang aku kandung pun itu juga darah daging mu,"
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, aku sudah memberitahukan kabar tersebut." ucap Rembulan dengan senyum mengejeknya.
"Aku perlu bukti jika itu anakku," sahut Tuan Raditya.
"Bukti seperti apa yang kau inginkan wahai Tuan Raditya yang terhormat," jawab Rembulan.
"Tes DNA,"
"Silahkan jika anda ingin melakukannya," ucap Rembulan yang sudah pasrah dengan hidupnya.
"Akan ku bawa kamu untuk tes DNA jika itu benar yang di kandung mu itu anak ku,"
Rembulan menghampiri suaminya, ia akan memberikan pilihan pada Tuan Raditya.
"Aku punya syarat dan keinginan," ucap Rembulan tiba-tiba.
"Apa?" tanya Tuan Raditya.
"Jika benar ini adalah anakmu darah daging mu, aku tak akan memaafkan mu yang telah memperlakukan ku dengan kejam seperti ini dan keinginan ku hanya satu aku ingin keluar dari kediaman itu yang penuh dengan luka. Dan jika benar anak ini bukan darah daging mu, kamu bisa sesuka hatimu melakukan apapun termasuk menghukum mu hingga aku mati," ucap Rembulan yang penuh dengan mantap ia akan pasrah hidupnya pada yang maha kuasa.
__ADS_1
"Baik, kita lihat saja." jawab Tuan Raditya yang mengkode asistennya untuk mengurus semuanya. Tuan Raditya yang akan pergi dari rumah sakit ini menuju tempat rumah sakit terbesar dengan alat-alat yang canggih.
Asisten itu mengurus semua tentang nyonya Rembulan di rumah sakit ini untuk di pindahkan ke rumah sakit yang lebih canggih. Untuk membuktikan jika Rembulan sedang mengandung buah hati dari Tuannya.
Perjalanan yang tak jauh dari rumah sakit biasa itu membuat Rembulan refleks menoleh ke arah pelayan pribadinya untuk meminta semangat atas semua yang lalui saat ini. Ingin mengeluh dan pasrah tapi ada nyawa yang harus ia pertahankan.
Sampai di rumah sakit terbesar, Rembulan turun dan duduk di kursi roda yang di dorong oleh Tata. Pelayan pribadinya ini selalu menyemangati dan memberi saran atas semua yang ia lewati.
Sampai di ruangan khusus, Rembulan di tanya kondisinya. Rembulan hanya mengikuti perintah sang dokter tersebut.
"Apa Nyonya sudah siap?" tanya dokter tersebut.
Rembulan mengangguk dan memantapkan hatinya, ia ingin segera selesai dan pergi dari kehidupan suaminya yang kejam itu.
Selesai melakukan tes DNA, semua orang menunggu dokter tersebut akan menyampaikan sesuatu tentang hal tersebut.
"Hasil tes DNA nya akan keluar dua Minggu lagi, itu sudah menurut prosedur Tuan dan Nyonya," ucap seorang dokter tersebut.
"Baik, Dok. Kami akan menunggunya, jika sudah selesai tolong kabari asisten saya saja," perintah Tuan Raditya.
"Baik, Tuan." jawab seorang dokter.
Rembulan maupun Tata akan kembali lagi ke kediaman rumah Tuan Raditya untuk menunggu hasil tes DNA tersebut.
Rembulan akan di rawat dan di obati di kediaman rumah Tuan Raditya sambil di pantau kesehariannya.
Rembulan tak perduli dengan aturan itu ia ingin segera mendengar ucapan dokter itu dan pergi dari kehidupan suaminya tersebut.
.
.
.
.
.
.
.
Renungkan lah kesalahan mu, Ulan...
__ADS_1