
"Sedang apa kalian?" tanya Vino yang masuk tanpa mengetuk pintu, ia melihat pintu itu terbuka sedikit dan masuk tanpa mengetuk dan mengucap salam. Saat ia masuk melihat pemandangan yang membuat hatinya memburuh karena melihat apa yang di lakukan oleh pria itu.
Tuan Raditya dan Rembulan pun menoleh secara bersama-sama, ia pun kaget juga dengan kedatangan Vino tanpa mereka ketahui.
"Kak Vino, kapan kakak datang?" tanya Rembulan yang mengalihkan pertanyaan yang tadi Vino tanyakan. Ia yang tadi malu sekarang berubah menjadi gugup.
Vino tak menjawab pertanyaan tunangannya, ia langsung menghampiri kedua mereka yang tadi berbuat apa yang di luar batas menurutnya.
"Apa yang tadi kamu lakukan pada tunangan ku?" tanya Vino yang mulai emosi, ia tidak terima jika pria yang ia baru kenal beberapa itu telah kurang ajar dan mengganggu tunangannya yang sebentar lagi akan menjadi miliknya.
"Tunangan, dia tuh istri ku bukan tunangan mu," jawab Tuan Raditya dengan cepat, ia sekarang akan berani karena Rembulan sudah mengingatnya dan kembali padanya.
"Jangan percaya diri bung, dia tuh tunangan ku dan kami sebentar lagi akan melangsungkan pernikahannya." balas Vino ia dengan percaya dirinya mengatakan hal itu.
"Iya kan, Sayang?" sambungnya lagi sambil senyum mengejek.
"Maaf, Kak. Mungkin benar jika hubungan ini kita putuskan karena benar jika aku adalah Rembulan istrinya bukan tunangan mu," jelas Rembulan, ia harus tega mengatakan hal itu walaupun akan sakit di awal.
Vino malah tertawa, ia tidak percaya dengan apa yang di katakan tunangan seolah jika dirinya hanya mengerjai saja.
__ADS_1
"Sudah lah, Sayang. Jangan bercanda gak baik," sahut Vino lagi seolah ia tak percaya dengan apa yang di katakan oleh tunangannya.
"Itu benar, Kak. Aku sudah mengingatnya dan akan kembali pada keluarga ku yang sesungguhnya. Maaf," jawab Rembulan yang berulang kali ia mengatakan hal itu jika ini semua benar dan ia pun sudah mengingatnya siapa dirinya sebenarnya.
Deg...
Hati Vino begitu sakit saat perkataan yang tak ia suka selama ini. Hidupnya yang begitu tenang tanpa ada gangguan pun membuat ia begitu santai saat menghadapi semua ini. Tapi, lagi dan lagi ia di bikin kecewa dengan kenyataan bahwa tunangannya sudah mengingatnya kembali siapa dirinya sendiri.
"Kamu tuh bukan istrinya tapi tunangan ku, sayang. Dia bohong, hanya ingin memisahkan kita saja." ucap Vino, ia menghampiri sang tunangannya dan merayu jika itu semua adalah salah.
"Jangan pernah mencuci otak istri ku lagi, dia sekarang sudah mengingat kami," sahut Tuan Raditya yang tak terima dan langsung menimpali ucapan pria tersebut.
"Kamu yang seharusnya terdiam dan jangan bikin orang hilang ingatan terus." ucap Tuan Raditya, ia menghampiri sang istri dan tak membiarkan pria itu menyentuh sejengkal pun.
"Cukup. Aku sudah mengingatnya, Kak. Siapa aku sebenarnya dan aku adalah istri dari pria ini dan kamu tak pernah memberitahukan atau pun mencari tahu siapa aku sebenarnya. Dan sekarang aku sudah mengingatnya." bentak Rembulan yang pusing, ia baru mengingat semua ini dan butuh istirahat karena masih pusing.
"Gak, gak mungkin, sayang. Kamu tuh milik ku bukan milik nya," ucap Vino yang menggelengkan kepalanya. Ia belum bisa terima dengan kenyataan bahwa tunangannya sudah mengingatnya dan kembali pada keluarga kecilnya.
"Terima atau pun tidak itu urusan mu, yang terpenting adalah istri ku sudah kembali pada keluarga sendiri dan jangan pernah mengganggu dan menyentuh istri ku lagi." ucap Tuan Raditya dengan tegas dan membuat di ruangan itu terdiam termasuk Revan yang memandangi perdebatan antara Papih dan Om tersebut.
__ADS_1
Vino pun tersenyum dengan berbeda lalu menghampiri lawannya dan berkata bahwa dirinya tak takut sama sekali padanya. Ia sangat mencintai wanita yang kini menjadi bahan rebutan nya sekarang.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku tak perduli, yang aku inginkan hanya Laura dan Laura...
__ADS_1