
Flashback....
Ketika Tata ingin membuat minuman untuk Rembulan pelayan lain menghampiri Tata yang sedang mengaduk minuman tersebut.
"Kamu lagi ngapain?" tanya pelayan itu.
"Kamu gak lihat aku sedang apa," bukannya menjawab Tata malah balik bertanya.
"Kamu di suruh untuk membersihkan gudang," titah pelayan itu pada Tata, seketika Tata menoleh dan mengernyitkan dahinya.
"Kok aku, itu kan tugas pelayan lain," jawab Tata yang aneh.
"Semuanya sedang sibuk," jawab pelayan.
"Aku juga lagi sibuk, kamu gak lihat aku sedang apa?"
"Sudah selesai kan, biar pelayan lain yang mengantarkan minuman itu pada majikan mu," ucap pelayan itu yang mengambil alih yang sedang Tata lakukan.
"Tapi," cegah Tata, ia yang mulai curiga pada pelayan ini.
"Tidak ada tapi tapian, sekarang cepat," titahnya lagi yang mendorong tubuh Tata untuk pergi.
Sepeninggalnya Tata, pelayan itu mulai mengeluarkan obat tidur yang di berikan oleh majikannya untuk Rembulan dan ini adalah kesempatan untuk memberikan obat ini pada Rembulan.
Pelayan itu melihat sekitarnya agar tak ada yang melihat dan curiga ia pun menuangkan obat tersebut pada minuman Rembulan dan mengaduknya agar tidak curiga. Setelah selesai pelayan itu pun membawa minuman tersebut sampai pada tangan Rembulan.
Selesai dengan tugas lain, pelayan itu pun melaporkan pekerjaannya pada majikannya dan Siska merasa senang karena kerja pelayan itu berhasil tinggal ia menunggu kabar dari Chiko yang telah merencanakan sesuatu agar rencananya berjalan dengan lancar.
.
.
.
Di halaman samping tempat penjaga dan pegawai sedang berada tugas masing-masing, Chiko pun menghampiri pengawal yang bernama Eko itu sedang berjaga.
"Hey, kamu, bisa tolong aku?" tanya Chiko pada penjaga itu.
"Ada apa, Tuan?" tanya Eko yang tak tahu jika Chiko merencanakan sesuatu.
"Tolong kasih makanan ini pada nyonya Rembulan," titah Chiko pada Eko.
__ADS_1
"Kenapa harus saya, Tuan? Itu kan tugas wanita, dan tidak mungkin saya masuk ke kamarnya Nyonya Rembulan. Karena aku takut sama Tuan Raditya, kan nyonya Rembulan itu istri kesayangannya Tuan," ujar Eko pada Chiko adik dari Tuannya.
"Ini perintah nyonya Rembulan juga, semua pelayan wanita itu sibuk dengan tugasnya masing-masing, ayo cepetan." titah Chiko yang memaksa dan mau tidak mau pun Eko menuruti perintah Tuannya walaupun ada rasa lain dari yang lain yang ia rasakan saat ini.
Eko pun melangkah dengan lesu karena tak pernah masuk atau sekedar lewat di kamar milik Nyonya Rembulan. Tuan Raditya yang posesif terhadap Rembulan membuat semua mahluk pria tak boleh dekat ataupun berurusan dengan istrinya.
Dan itu yang Eko dengar dari rekan kerjanya, dan sekarang ia harus mengantarkan pesanan nyonya Rembulan langsung. Ia takut pada Tuan Raditya.
Melangkah dengan pelan saat di depan pintu kamar Nyonya Rembulan yang ia ketuk berulang-ulang kali tak ada sahutan sama sekali. Dan rasa penasaran yang melanda Eko pun membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Nyonya Rembulan takut terjadi sesuatu di dalam sana dengan majikannya itu. Saat ia masuk kedalam kamar tersebut tiba-tiba..
Brukk..
Ada seseorang yang memukulnya dan Eko pun tak tahu dan detik itu juga ia tak sadarkan diri setelah ia merasakan sakit di pundaknya.
Chiko pun tersenyum dan langsung mengangkat tubuh Eko untuk di tidurkan pada ranjang Rembulan yang sudah ada Rembulan yang tertidur pulas karena pengaruh obat tersebut.
Rembulan sudah di lepaskan pakaian olah pelayan itu dan setelah itu menutupnya dengan selimut tebalnya. Kini saatnya Chiko juga melakukan hal yang sama, membuka pakaian Eko untuk tidur di samping Rembulan seolah mereka sedang berbuat hal seperti itu.
"Ayo cepetan, Chik. Aku takut Mas Raditya datang dan rencana kita gagal." titah Siska yang ketakutan. Ia tidak ingin rencananya hancur berantakan yang sudah di susun dengan sempurna.
"Sebenar, Sayang. Aku ingin memotret mereka berdua," ucap Arga yang mengeluarkan ponselnya untuk mengambil gambar majikannya yang tak tahu diri telah mengetahui rahasianya.
Cekrek.. Cekrek ..
"Ayo cepetan, Chik. Aku takut dan sebentar lagi Mas Raditya akan segera tiba," ucapnya lagi.
"Ok, ok. Kita lihat saja beberapa menit lagi kita akan menonton pertunjukan yang spektakuler, dan akan heboh di kediaman ini," ucap Chiko yang tersenyum penuh dengan kelicikan.
Keduanya pun keluar dari kamar Rembulan, mereka tinggal menunggu bom itu akan meledak.
Flashback off..
Tuan Raditya menghampiri Rembulan yang sudah di ikat kedua tangannya dan kakinya. Dan Tuan Raditya mengambil ikat pinggangnya untuk di cambukan pada Rembulan yang sudah mengkhianatinya terang-terangan.
"Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan saat ini, Rembulan. Gimana sakit melihat kalian sedang.... Aaargghh..," ucap Tuan Raditya yang mengeluarkan kekesalannya dengan berteriak. ia tak sanggup untuk membayangkan hal itu lagi.
Rembulan yang masih menangis, ia sudah berusaha untuk meyakinkan suaminya kalau dirinya tak melakukan hal itu dan Tuan Raditya tak pernah mendengarnya atau pun memberi ia kesempatan kedua.
"Jangan so polos kamu. Buang air mata buaya mu," bentak Tuan Raditya pada Rembulan.
"Aku tak bohong, Mas. Aku berani bersumpah aku tak melakukan hal sekeji itu." jawab Rembulan.
__ADS_1
"Aku tanya di dalam kandungan mu itu apa benar anak ku , hah," bentak Tuan muda Raditya seolah tak percaya jika anak yang sedang Rembulan kandung adalah anaknya.
"Ini beneran anak kamu, Mas. Aku berani bersumpah," ucap Rembulan dengan lirih menahan sakit yang telah suaminya lakukan.
"Rasakan ini," Tuan Raditya melayangkan cambukan pertama pada Rembulan karena tak percaya jika itu adalah anaknya.
"Aarghh, sakit, Mas." keluh Rembulan yang merasakan cambukan pertama yang begitu perih mengenai punggungnya.
"Itu baru cambukan pertama, Ulan. Aku akan memberikan 5 cambukan pada mu,"
Rembulan syok, ia harus bagaimana lagi untuk meminta tolong dan bantuan. Di kediaman rumah ini Rembulan tak ada yang ia bisa tolong, hanya Tata menjadi temannya di kediaman ini.
Cetas..
Cambukan kedua Rembulan masih bertahan.
Cetas...
Cambukan ketiga Rembulan masih bertahan walaupun ia sudah tak berdaya. Rembulan hanya bisa pasrah dan menangis saja meratapi nasibnya sekarang. Baru ia menikmati hidup dengan bahagia karena di perlakukan oleh Tuan Raditya dengan kasih sayang dan cinta tulus darinya. Tapi sekarang, ia melihat orang yang ia cintai kini telah melakukan hal ini pada dirinya.
Cambukan ke empat Rembulan tak berdaya, tapi ia menunjukkan senyum mengartikan sebuah sakit yang ia rasakan saat ini.
Dan, cambukan ke lima Rembulan sudah tak sadarkan diri, ia tak bisa bertahan lagi dari sakitnya yang ia rasakan saat ini. Tubuhnya ambruk dan lemah tak berdaya sambil memegangi perutnya agar calon anaknya tak kenapa-napa.
Tuan Raditya yang melihatnya langsung pergi tak menghiraukan Rembulan yang sudah tak berdaya itu.
.
.
.
.
.
.
.
Kau yang memberikan kebahagiaan dan kau juga yang memberikan luka ini.." ucap Rembulan dalam hati ia melihat suaminya keluar dari ruangan ini dan mulai menghilang dari pandangan Rembulan yang mulai melemah.
__ADS_1
Tinggalkan jejaknya ya kakak-kakak yang cantik dan ganteng, dan baik hati dan tidak sombong yuk di komen dan minta vote nya 🤗🤗🤗