
Perkataan asistennya membuatnya tak berdaya, ia berharap jika ia membuka kedua matanya hal pertama yang ia lihat adalah istrinya. Tapi, kenyataan itu tak hanya sebuah harapan saja sampai sekarang kabar dari istrinya pun belum di ketahui.
"Tambah orang lagi untuk mencari keberadaan istri ku, dia pasti kedinginan dan butuh pertolongan," lirih Tuan Raditya yang kini sedih dengan derai air matanya. Ia tak sanggup lagi harus berpisah dengan istrinya.
"Baik, Tuan," jawab asisten Angga yang patuh melaksanakan tugasnya. Semenjak menjadi asisten pribadinya Tuan Raditya Angga tak pernah melihat keadaan Tuannya yang kacau.
Tuan Raditya mengingat putranya masih berada di rumah sakit, ia tersenyum saat membayangkan dengan istrinya. Rembulan pernah berbicara jika dirinya akan mengurus anaknya tanpa bantuan siapapun kecuali jika dirinya sedang ada urusan penting.
.
.
.
Papah Haris menjemput cucunya dan melihat kondisi Tata hanya mengalami luka tak parah. Tata pun di izinkan pulang oleh dokter. Ia pun pulang bersama Tuan besar sambil membawa cucunya.
Keduanya pulang sambil membawa bayi montok cucunya sendiri yang sudah ia nanti-nantikan sejak dulu akan meneruskan perusahaan yang ia miliki
Sampai di rumah, papah Haris dan Tata melangkah menuju kamar putranya yang sedang kacau karena Rembulan yang belum di temukan.
Tata menggendong bayi montok itu kedalam kamar Tuan mudanya untuk melihat kondisi ayahnya.
"Tuan muda," panggil Tata membuyarkan lamunan Tuan muda Raditya.
Seketika Tuan muda Raditya menoleh dan tersenyum melihat Tata menggendong bayinya yang sudah bisa di bawa pulang.
"Bawa ke sini, Ta." titah Tuan muda Raditya pada Tata yang sedang menggendong bayinya. Tata pun menghampiri dan menyerahkan bayi montok itu ke dekapan ayahnya.
__ADS_1
Tuan muda Raditya pun menggendongnya dengan erat sambil ia mencium wajah yang mirip dengan sang istri.
"Doakan Mamih ya.. Anak Papih harus kuat ya jadilah putra kebanggaan kita." ucap Tuan Raditya yang berharap jika putranya akan menjadi orang yang berguna dan sukses.
"Papih akan beri nama mu adalah Revan Putra Raditya Bagaskara, semoga kita bisa berkumpul lagi dengan Mamih mu ya.. Papih berharap doa kita di kabulkan ya, Nak." lirih Tuan Raditya yang mencium wajah putranya yang menggemaskan.
Tuan Raditya memanggil Tata untuk menjaga putranya, ia ingin pergi dan mencari keberadaan sang istri yang entah sampai sekarang belum ada kabarnya.
Tiba-tiba telpon itu berbunyi, Tuan Raditya merogoh sakunya dan mengambil benda pipih itu. Ia melihat dilayar tertera nama sang asisten pribadinya.
"Iya, ada apa, Ga?" tanya Tuan Raditya pada asistennya.
"Maaf, Tuan. Saya belum menemukan jejak nyonya Rembulan," ucap Angga yang memberitahukan tentang pencariannya.
"Kemungkinan Nyonya Rembulan sudah--," belum sempat asistennya melanjutkan ucapannya Tuan Raditya mencegah dan berbicara dengan nada tinggi lewat sambungan teleponnya.
Asisten Angga hanya terdiam, ia hanya menyampaikan sesuatu dalam benaknya jika nyonya Rembulan tak mungkin bisa selamat di sungai yang deras ini.
"Cari lagi dan kamu suruh orang yang banyak untuk mencari keberadaan istriku, Ga. Aku tidak mau tahu," perintah Tuan Raditya yang tegas, ia tak ingin hal itu terjadi. Entah apa yang ia rasakan jika tak ada sang istri untuk menemaninya dan mengurus buah hatinya yang butuh sosok ibu.
Tuan Raditya pun keluar, ia ingin mencari langsung tak perduli dengan kesehatannya yang sekarang belum stabil. Ia begitu merindukan istri kecilnya.
.
.
.
__ADS_1
Papah Haris yang mendengar putranya akan mencari keberadaan mantunya itu segera ia ingin mencegahnya, ia tak ingin membiarkan putranya merasakan seorang diri saat mantunya belum di temukan.
"Dimana putraku?" tanya Papah Haris pada pelayan lain yang lewat.
"Tuan muda di teras depan, Tuan besar." jawab pelayan itu dengan tertunduk.
Segera papah Haris menghampiri putranya dengan kondisi yang belum stabil untuk mencari keberadaan mantunya itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Mau kemana, Dit? Jangan egois, putramu sedang membutuhkan mu sekarang...