Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 122


__ADS_3

"Iya, gue tantang Lo." jawab Revan dengan tegasnya. Awalnya ia cuma bercanda tapi melihat wajah gadis itu membuat Revan begitu tertantang.


"Lo serius pengen tantangin gue?" tanya Aluna menghampiri pria itu dan bertanya sekali lagi. Ia yang tak percaya dengan pria itu pun membuat Aluna jadi penasaran.


"Hem," jawab Revan hanya berdehem saja. Setelah itu ia berlalu ke kelasnya karena dosen sebentar lagi akan masuk.


"Gue tunggu di jalan xxxxxx ya." teriak Aluna, ia akan mengabari temannya itu untuk mempersiapkan semuanya untuk pertandingan itu.


Revan yang tak sempat menoleh hanya mendengar teriakkan gadis itu saja, ia serahkan pada gadis itu dan terima beres saja karena harinya akan sibuk di pulang kuliah nanti.


.


.


.


"Lu yakin, Lun?" tanya Hesti, ia takut pada temannya itu yang menerima tantangan dari cowok ganteng tersebut, ia melihat cowok itu yang punya kendaraan sepeda motor seperti temannya itu. Tak mungkin seorang pria yang tak bisa mengebut di jalanan dan menguasai jalanan tersebut. Yang ia lihat cowok itu begitu lihai dalam mengendarai sepeda motor sportnya.


"Kayanya dia jago juga deh, Lun. Kalau ku kalah gimana?" tanya Hesti, ia hanya berpikiran jika temannya itu tak mungkin menang kali ini.


"Siapa yang bisa ngalahin gue, hah. Lo dengar baik-baik ya, Hes. Valentina saja kalah sama gue kalau tanding," ucap Aluna yang membanggakan dirinya sendiri sambil menepuk dadanya.


"Sejak kapan itu Valentine Rossi di ganti nama seperti itu? Yang dia nanti balapan pake rok selutut." balas Hesti tak kalah iseng, kedua wanita itu sama-sama cekikikan dengan obrolan yang tak masuk akal tersebut.


"Sudah-sudah, lama-lama gue jadi orang gila di kiranya ketawa terus, kan sayang cantik-cantik gila." sahut Aluna masih tertawa memperlihatkan gigi putihnya saking lucunya temannya itu.


"Bagus itu julukan itu," ucap Hesti yang mengangkat dua jempolnya sekaligus.


.


.

__ADS_1


.


Di kediaman rumah Tuan Raditya, Rembulan yang sudah rapih dengan dress maron nya ia pun turun ke lantai bawah untuk bersiap-siap pergi karena sudah janjian dengan teman barunya itu.


"Kita mau kemana, nyonya?" tanya supir itu sambil membukakan pintu mobil tersebut, si supir akan mengantarkan majikannya ke tempat tujuan yang sudah di perintahkan oleh Tuannya.


"Nanti saya beritahu ya, Mang. Jalan saja dulu." jawab Mamih Rembulan yang sudah duduk dengan manis.


Supir itu pun menganggukkan kepalanya tanda setuju, ia pun menyalakan mesinnya dan kendaraan itu pun melaju dengan kecepatan sedang. Sesuai perintah Tuannya tidak boleh mengendarai kendaraan dengan kecepatan sedang. Ya, Tuan Raditya selalu memperingati para supir pribadinya maupun yang ada di rumah, ia masih trauma dan sedih jika mengingat kejadian dimana ia harus kehilangan anak keduanya itu yang sebentar lagi akan menyapa dunia.


Itu karena kelalaiannya saat mengemudikan mobilnya dalam keadaan ngantuk dan penyesalan itu pun masih Tuan Raditya rasakan saat ini. Tapi, ia sadar bahwa kehidupan dan takdir Tuhan sudah di catat yang maha kuasa ia hanya bisa pasrah dan ikhlas saja karena ia masih ada istri dan anak yang harus ia perhatikan terutama sang istri yang selalu menyalahkan dirinya sendiri karena ngidam di tengah malam tersebut.


Tak terasa tempat tujuan yang Mamih Rembulan sampaikan pada supir itu pun sudah sampai dengan selamat, Mamih Rembulan pun turun dari mobil tersebut dan memerintahkan supir itu untuk menunggunya.


"Baik, nyonya. Saya akan menunggu di tempat sana, jika sudah selesai kabari saja." ucap supir tersebut setelah membukakan pintu mobil untuk majikannya.


Mamih Rembulan pun menganggukkan kepalanya tanda setuju dan ia pun berterima kasih karena telah mengantarkannya sampai tujuan dengan selamat. Mamih Rembulan pun melangkah di mana ia sudah janjian dengan teman barunya itu untuk membahas dan mengenal lebih dekat lagi dengan teman barunya itu.


Ia pun masuk setelah mendapatkan notifikasi dari ponselnya jika temannya itu sudah sampai dan menunggunya di tempat yang sudah ia janjikan. Mamih Rembulan pun masuk kedalam resto tersebut dan mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan temannya itu.


"Maaf ya baru datang, biasalah namanya juga sudah tua maklum lah banyak yang harus di kerjakan kalau my suami belum berangkat." jelas Mamih Rembulan pada temannya itu, ia tak enak hati karena telat beberapa menit saja.


"Tidak apa-apa, saya juga baru datang." jawab wanita yang tak lain adalah Mamah Mentari. Ia dua wanita itu janjian untuk bertemu dan mengenal lebih dekat lagi karena dari kesibukannya yang susah untuk keluar di tambah lagi suami selalu posesif jika membiarkan sang istri keluar tanpa dirinya.


"Sudah pesan?" tanya Mamih Rembulan, ia melihat meja itu masih kosong dan hanya ada minuman saja.


Mamah Mentari menggelengkan kepalanya, ia akan memesan makanan itu setelah kedatangan istri rekan kerja suaminya itu.


Setelah selesai memesannya kedua wanita yang tak muda itu mengobrol dan mengenal lebih dekat lagi. Mamih Rembulan begitu senang karena Mamah Mentari begitu nyambung dengannya terutama soal menghabiskan uang suami mereka.


"Putri mu belum punya pacar atau pendamping?" tanya Mamih Rembulan yang mengorek informasi tentang putrinya yang cantik itu.

__ADS_1


Mamah Mentari mengernyitkan dahinya, ia pun mengerti dengan pembahasan di luar tema tersebut hanya tersenyum dan menjawab pertanyaan tersebut.


"Yang saya lihat sih belum, Jeng. Dia tuh susah banget kalau bahas soal pria, hidupnya hanya kesenangan dunia saja. Aku juga pusing, Jeng. Dia gak bisa ku atur." keluh Mamah Mentari yang pusing jika sudah menyangkut penampilan putrinya itu yang tak mau berubah.


"Kenapa? Kayanya putri mu penurut deh," tanya Mamah Rembulan yang ia lihat dengan sosok gadis itu yang cantik dan imut membuat ia tertarik untuk menjodohkan dengan putranya itu.


Mamah Mentari pun menceritakan kebiasaan putrinya itu dan kesehariannya selama di luar sana. Tapi, jika Aluna selalu membantah jika menyangkut penampilannya ia tetap menjadi gadis yang penurut dan tak mencoreng nama baik keluarganya terutama pergaulannya itu. Ia masih bisa menjaga kehormatannya terutama dengan pria yang selalu mengajaknya terang-terangan.


Mamah Rembulan hanya tersenyum mendengar keluh kesah dari teman itu, ia juga tak masalah dengan penampilan gadis itu yang terpenting adalah bagaimana caranya agar gadis itu membuat putranya merasakan cinta seperti pemuda lainnya. Tidak seperti putranya yang selalu sibuk dengan kuliahnya dan membantu Papih nya saja.


"Gimana kalau kita lanjutkan saja perjodohan kita ini? Anggap saja kita lagi merubah mereka agar bisa mendapatkan cinta dan penampilan dan karakter masing-masing," ucap Mamih Rembulan, ia masih kekeh ingin menjodohkan putranya dengan gadis cantik yang malam itu bertemu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Setuju, semoga saja tuh gadis bisa berubah penampilannya yang seperti cowok itu. Saya tuh pusing harus gimana lagi memberitahukan dia, semoga saja kali ini berhasil ya, Jeng...


Gimana kalau kisah mereka di buat kamar sendiri? Pada setuju gak ya🤔🤔🤔

__ADS_1


yuk kepoin cerita ya sudah update ya.. kisah Revan dan Aluna 😘😘😘



__ADS_2