
Di tempat ruangan khusus, Siska merasakan sakit karena hukuman yang di berikan Tuan Raditya padanya. Cambukan pada kedua tangannya membuat ia merasakan perih luar biasa.
"Sakit, Angga. Aku sudah tidak kuat lagi," keluh Siska tangannya mulai merah kebiruan.
"Seharusnya kamu bersyukur, Siska. Tuan tak memberikan hukuman itu pada tubuh mu hanya di tangan mu saja. Rembulan lebih parah di bandingkan dengan mu dia seperti dirimu sedang mengandung tapi Rembulan masih bisa bertahan tanpa meminta ampun," jelas Angga.
"Jangan samakan aku dengannya, dia adalah membawa masalah," sahut Siska dengan ketus.
"Tutup mulut mu, jangan sampai Tuan Raditya tahu jika kau telah menghinanya," ucap Angga yang memperingatkan pada Siska karena Rembulan sekarang akan di jaga sampai kapanpun.
"Adit hentikan ku mohon aku sudah tak kuat lagi, beri aku kesempatan untuk berubah aku janji," teriak Siska yang memanggil suaminya agar hukuman ini di hentikan.
.
.
.
Di ruangan yang berbeda, kini Tuan Raditya sedang duduk di berhadapan dengan adik angkatnya itu yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri, tapi apa yang telah dia lakukan mengkhianatinya dan bermain dengan istri pertamanya itu.
Chiko sedang di ikat di kursi kayu dan menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan sang Kaka yang mengerikan. Ingin mencoba memberontak tapi
tenaga tak kuat untuk melawan anak buahnya yang banyak, Chiko pun pasrah apa yang akan di berikan oleh sang kakak.
"Kenapa kau lakukan ini, hah? Apa kamu ingin mati?" tanya Tuan Raditya penuh dengan selidik.
"Aku hanya di minta sama kak Siska, kak. Dia lebih dulu menggoda ku," jawab Chiko yang menimpali ucapan Kakaknya.
"Hanya di minta! Dan kamu mau? Dan kamu tak memperhitungkan atas perbuatan mu ini," tanya Tuan Raditya yang ingin mengoreksi lebih banyak lagi tentang hubungan istrinya dengan adik angkatnya yang ada di hadapannya sekarang.
"Dan sekarang kamu harus terima frekuensinya jika berkhianat dan bermain di belakang ku," ucap Tuan Raditya dengan dingin dan tatapan tajam.
Tuan Raditya mengeluarkan pisau yang tajam yang di berikan oleh anak buahnya. dan memegang sambil mengelus pisau itu.
__ADS_1
"Kamu tahu kan pintu ini sangat tajam?" tanya Tuan Raditya.
Chiko ketakutan, ia gemetaran melihat pisau itu sangat
tajam. Apakah hidupnya akan berakhir sampai detik ini. Ia belum menyelesaikan misinya dengan seorang yang bersamanya saat ini.
Tuan Raditya bangun dari duduknya, ia menghampiri Chiko yang lagi gemetaran.
"Kamu kenapa? Takut. Mana Chiko yang berani, hah." ejek Tuan Raditya.
"Atas kesalahan mu, aku salah menghukum mu, Chik. Aku tak perduli jika kamu adalah adik sendiri, Aku pun menghukum istri ku sendiri, istri yang aku cintai yang kini sedang mengandung darah daging ku. Hampir saja aku membunuhnya, jika saja aku sampai membunuhnya aku tak akan memaafkan mu termasuk Siska juga."
Chiko menelan ludahnya dengan susah payah, ia menikmati keindahan hanya sebentar dengan kakak iparnya sendiri.
"Ampuni, Kak. Aku tak akan mengulanginya lagi," mohon Chiko untuk di bebaskan nyatanya itu tidak mungkin terjadi.
"Kamu ingin bebas?" tanya Tuan Raditya yang kini sudah ada di samping Chiko.
Chiko mengangguk tanda mengiyakan, ia ingin pergi jauh dari sini dan tak ingin bertemu lagi dengan kakaknya.
"Benarkah, Kak?" tanya Chiko dengan wajah berserinya.
Tuan Raditya menganggukkan dan membisikkan sesuatu pada telinga adik angkatnya itu.
"Bebas ke alam yang berbeda, mau?" busik Tuan Raditya.
Membuat Chiko menggelengkan kepalanya, ia kira akan di bebaskan nyatanya ia akan di kirim ke alam sana dan itu artinya ia akan mati di tangan Tuan Raditya.
"Kamu pilih mau pistol atau pisau?" Tuan muda Raditya menunjukkan dua benda tersebut pada adik angkatnya itu.
Kedua membuat Chiko membulat ia takut dan gemetaran, ia belum berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan di kediaman rumah ini.
"Aku tak ingin membunuh dengan cepat, kita main-main dulu," ucap Tuan Raditya.
__ADS_1
Tuan Raditya menyimpan pistol itu dan mengambil pisau itu, ia menghampiri adiknya yang sudah bermain api dengannya sudah terikat di kursi itu. Dan tanpa berpikir Tuan Raditya menggoreskan pisau itu di pipi kanan adiknya yang dia anggap seperti adik kandungnya sendiri.
**Aaargghh** ....
Darah segar mengalir dari pipi kanan Chiko, Arga kesakitan dan rasa perih itu di pipinya sebelah kanan. Ia pun memberontak ingin di lepaskan tapi lagi lagi tenaganya tak cukup untuk melawan kakaknya sendiri.
Tak sampai di situ, Tuan Raditya mengambil air alkohol untuk di siramkan pada luka yang telah dirinya lakukan.
cairan itu pun di taburkan pada lukanya dan jeritan Chiko pun menggema di seisi ruangan ini.
Aaargghh....
Orang yang mendengarnya merasa takut, ia tak ingin berkhianat dan melakukan kesalahan.
Ketika Tuan Raditya ingin mengambil garam, ada teriakan suara yang ia kenal.
.
.
.
.
.
.
.
Cukup, Adit. Jangan sakiti dia lagi, biar Papah kirim Chiko ke luar negeri agar tak mengganggu hidup mu lagi..
Ayo siapa ya??... bikin penasaran 🤔🤔🤔
__ADS_1
yuk tinggalkan jejak jempol ya kak 🤗🤗🤗