
Pagi harinya seperti biasa keluarga Tuan Raditya beraktivitas seperti biasa, Revan akan pergi ke kampus dan setelah itu ia akan mengecek dan meninjau kembali proyek yang di limpahkan oleh Papih nya itu untuk ia kelola. Revan juga tak akan sendirian ia juga bersama dengan asisten pribadinya Papih nya itu yang selalu setia menemani Papih nya itu.
Sarapan pagi ini Revan tidak ikut, ia bangun kesiangan harus pergi buru-buru karena waktunya tak sempat untuk ia sarapan.
"Revan, sarapan dulu." teriak Mamih Rembulan yang melihat sang anak melewatinya tak menghampirinya yang sedang sarapan dengan suaminya.
"Aku buru-buru, Mih. Di kampus saja." jawab Revan dengan teriak juga, ia pun mengendarai sepeda motor sportnya dengan kecepatan sedang membuat menjaga gerbang itu menggelengkan kepalanya.
"Itu si Aden apa gak takut ya," ucap penjaga itu sambil menutup gerbangnya lagi.
Berlalunya Revan, Rembulan pun menyudahi sarapannya dan pamit pada suaminya untuk mengambil tasnya yang ada di dalam kamar. Hari ini tujuan adalah bertemu dengan teman yang baru ia kenal kemarin setelah makan malam tersebut siapa lagi kalau bukan nyonya Reyhan.
Rembulan dan Mentari berhubungan semakin dekat saat bertukar nomor ponsel saat itu, Rembulan begitu senang dengan karakter dan sifat wanita yang tak jauh umurnya dengannya.
"Jangan kelayapan, jangan lirik cowok lain dan jangan--," belum sempat Tuan Raditya memberikan pesan pada sang istri, Rembulan sudah menimpali ucapan sang suami yang sudah hafal di luar otaknya itu.
__ADS_1
"Dan jangan tebar pesona saat melihat berondong atau pun pria yang tak seganteng Papih." lanjut Rembulan yang sudah hafal, ia sudah bosan saat di ingatkan saat ia keluar rumah. Sang suami yang begitu posesif terhadapnya yang sudah tak muda lagi.
Tuan Raditya yang tersenyum lalu mengecup pipi sang istri, ia begitu gemes dengan raut wajah sang istri yang sudah hafal dengan pesan yang ia berikan.
"Bagus, itu namanya istri yang baik," ucap Tuan Raditya mengangkat jempolnya tanda memberikan penghargaan pada sang istri.
"Dari dulu kan aku istri yang baik tak seperti pria yang tak setia saat memperistri lebih dari satu." sindir Rembulan pada suaminya itu, ia mengingat masa-masa di mana ia menjadi madu dari istri pertamanya itu.
"Kalau gak nikah lagi kamu tak mungkin menjadi istri yang aku sayangi, Mih. Seharusnya kamu tuh bersyukur sekarang kan sudah menjadi nyonya Raditya satu-satunya." jawab Tuan Raditya yang tahu tentang sindiran dari sang istri. Saat itu ia tak mencintai istri pertamanya.
"Bersyukur sih, Mih. Kan Mamih cinta tulus sama Papih." balas Rembulan, ia akan mengutarakan isi hatinya saat ini karena dirinya adalah istri satu-satunya sang suami.
"Harus, cinta Papih juga tulus sama Mamih." jawab Tuan Raditya.
Ehemm...
__ADS_1
Sahut Tata yang melewati ruang tamu di mana Tuan dan nyonya itu sedang bermesraan di tempat umum membuat Tata begitu iri dengan keduanya.
Tuan Raditya dan Rembulan pun jadi salah tingkah saat mendengar suara Tata yang mengagetkannya. Dan Rembulan pun buru-buru pamit pada suaminya untuk keluar.
Di kediaman Tuan Reyhan pun sama, keluarga yang begitu harmonis itu juga sedang sarapan bersama putrinya. Kali ini Aluna tak ada jadwal pagi, ia pun santai untuk pergi ke kampus tersebut.
Mamah Mentari menghela nafasnya karena penampilan putrinya seperti semula lagi dengan kemeja kesayangannya dan celana jins dengan gaya seperti cowok.
"Itu kapan berubahnya sih," keluh Mamah Mentari melihat penampilan putrinya itu.
"Entar habis ayam melahirkan," sahut Aluna dengan asal, ia sudah terbiasa saat sang Mamah mengomel setiap hari saat melihat penampilannya.
"Pah," protes Mamah Mentari, ia ingin sang suami menegur putrinya tak mau berubah seperti cewek pada umumnya.
"Biarin saja, Mah. Yang penting Luna nyaman dengan penampilannya." jawab Tuan Reyhan dengan santai, ia tak mempermasalahkannya yang terpenting sang putri tidak melakukan hal di luar pikirannya.
__ADS_1
Tuh kan, Mah. Papah juga tak mempermasalahkannya, Mamah gak usah khawatir Luna akan berubah jika Luna sudah menikah ya...