Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 42


__ADS_3

Tata membawa Rembulan ke rumah sakit terdekat, perjalanan yang menempuh sangat jauh dari kediaman rumah Tuan Raditya membuat Tata semakin khawatir dengan keadaan Rembulan yang meringis sakit bagian perutnya. Tata hanya bisa berdoa semoga Rembulan dan bayinya tidak terjadi sesuatu.


Perjalanan yang menempuh 2 jam akhirnya sampai di rumah sakit biasa, Tata memapahnya dengan pelan agar Rembulan segera di periksa.


"Tolong, sus. Majikan saya," teriak Tata yang meminta bantuan pada suster tersebut yang sedang melintas. Segera suster itu membantu sambil membawakan kursi roda untuk pasiennya.


Rembulan pun di bawa ke ruangan darurat untuk diperiksa lebih lanjut.


"Mohon tunggu di sini ya, Mbak. Saya dan tim dokter akan memeriksakannya," ucap suster itu yang mencegah Tata untuk masuk kedalam.


Tata mengangguk dan duduk di tempat duduk yang sudah di sediakan rumah sakit, ia berdoa semoga calon bayinya dan majikannya selamat keduanya.


.


.


.


.


.


Di kamar Siska, keduanya merasakan senang dan bahagia karena rencananya berjalan lancar dan berhasil. Siska menatap Chiko partner ranjangnya sedang senyum penuh arti.


"Kamu senang, Sayang." tanya Chiko di dekat Siska.


Siska pun menganggukkan kepalanya, ia merasakan senang karena sudah lama ingin menghancurkan Rembulan karena berani melawannya dan mengambil perhatian Tuan Raditya dan Papah mertuanya sampai sekarang tak menerimanya dalam kehidupan putranya itu

__ADS_1


"Aku akan lakukan asal kamu bahagia, Sis. Dan kita rayakan keberhasilan kita dengan menghabiskan waktu bersama di dalam kamar, gimana?" tanya Chiko yang punya niat terselubung. Ia hanya ingin menikmati tubuh mulus Siska yang bikin ia candu dengannya.


"Jangan senang dulu kamu, Chik. Ada satu lagi yang harus kita lakukan," ucap Siska yang mengingatkan itu pada Chiko.


"Apa?" tanya Chiko yang mengernyitkan dahinya.


"Ini bayi yang aku kandung gimana nasibnya, aku tidak mau ya harus menggugurkan kandungan ku, melenyapkan darah dagingku sendiri, aku lebih baik melenyapkan orang lain dari pada anakku, PAHAM." bentak Siska yang berulang kali mengatakan hal itu, ia tak ingin membunuh anaknya sendiri.


"Mau gimana lagi, itu satu-satunya cara agar kita tak ketahuan oleh Kakak ku. Aku tidak ingin hidup ku berakhir gara-gara ini." sahut Chiko yang tak kalah meninggikan suaranya.


"Kamu harus cari cara lain lah, jangan enaknya saja," ucap Siska yang menyalahkan selingkuhan karena itu semua berawal darinya yang selalu menggodanya yang butuh belaian seorang pria. Siska yang membutuhkan belaian dari seorang pria. Tuan Raditya yang tak pernah menyentuh sekali pun atau tidur di tempatnya, berbagai macam Siska sudah melakukan untuk menarik perhatian dan simpati Tuan Raditya tapi semua itu sia-sia karena Tuan Raditya tak pernah meliriknya sama sekali membuat Siska nekat untuk melakukan dengan pengawalnya.


"Ok, ok, aku akan cari cara lain agar Tuan Raditya tak tahu," ucap Chiko yang pasrah untuk memikirkan bagaimana cara untuk menyembunyikan kehamilan Siska pada Tuan Raditya.


"Kamu harus cari cara, Chik. perutku lama-kelamaan akan membesar," titah Siska pada adik iparnya itu untuk mencari cara tak ketahuan oleh suaminya itu


"Cepat keluar dari tempat ku, dan cari cara agar kita tak ketahuan," usir Siska pada Chiko yang bingung dan mulai merasakan kecemasan yang ia alami sekarang.


"Iya, iya, aku akan pergi." sahut Chiko yang keluar dari tempat Siska, seperti biasa Chiko akan keluar dan masuk melihat sekeliling dulu jika keadaannya aman barulah ia keluar.


"Apa nyonya ingin sesuatu?" tanya pelayan itu yang mengalihkan perhatian majikannya agar tidak stres.


"Aku ingin asinan buah mangga, Dan." ucap Siska yang tiba-tiba membayangkan buah itu berenang di air yang berwarna kemerahan.


"Siap, nyonya." jawab Santi yang berlalu meninggalkan nyonya nya sendiri untuk membikinkan pesanannya.


Saat di dapur, pelayan yang fokus lagi memotong buah mangga muda untuk di bikin asinan seorang pelayan lain mengagetkan Santi dengan menepuk pundaknya.

__ADS_1


"Sedang apa kau?" tanya pelayan itu.


"Heh, aku sedang membuat asinan buah untuk nyonya ku," jawab Santi dengan santainya. Membuat pelayan tersebut mengernyitkan dahinya karena heran dengan permintaan majikannya yang satu ini. Nyonya Siska yang tak suka dengan buah asem terutama dengan mangga muda di buat heran kali ini.


"Bukannya nyonya Siska tak menyukai itu?" tanya pelayan itu.


Deg...


Santi terdiam, ia menghentikan aktivitasnya yang sedang mengupas kulit mangga tersebut. Benar yang di katakan pelayan itu jika nyonya nya tak suka dengan buah asam ini.


"Memang kenapa?" tanya Santi yang memancing pelayan itu.


.


.


.


.


.


.


.


Seperti orang yang lagi ngidam...

__ADS_1


__ADS_2