
"Gak bisa kayak gitu dong, Van. Itu tuh istri Papih ya," sahut Tuan Raditya tak bisa menerima keputusan sang putra yang ingin menguasai istrinya itu. Ia juga butuh belaian dan kasih sayangnya selama 10 tahun tak bersama.
"Papih tuh seharusnya ngalah sama Revan ya," balas Revan tak mau kalah. Ia tak ingin berbagi sedikit pun pada Papih nya itu.
"Sudah-sudah, kalian apaan sih. Malah ribut lagi," ucap Rembulan yang menghentikan perdebatan antara dua pria yang berbeda umur itu.
Keduanya terdiam, tapi tidak dengan Vino yang malah cengengesan melihat kekonyolan kedua anak dan ayah tersebut.
"Kenapa Lo malah ketawa? Ada yang lucu?" bentak Tuan Raditya yang tak terima jadi bahan tawa oleh saingannya itu.
Vino terdiam saat ia di tegur oleh pria itu, dan ia pun pamit karena akan mempersiapkan keberangkatan untuk pergi dari kota ini dan belajar untuk melupakan wanita yang ia cintai dan kenangannya.
"Aku pergi dulu ya, Ulan. Jaga dirimu baik-baik ya?" ucap Vino untuk terakhir kalinya dan membuat hatinya sakit karena harus meninggalkan wanita yang ia cintai itu.
Ia sadar karena cinta tak mungkin ia paksakan sampai kapanpun, ia tahu jika Laura tak mencintai dan hanya kasihan karena tak enak hati selalu di paksa untuk menjadi miliknya.
Rembulan mengangguk dan tersenyum, ia hanya berdoa semoga kak Vino mendapatkan seorang wanita yang lebih darinya dan menjaganya.
Setelah kepergian Vino, Tuan Raditya menghampiri istri dan putranya yang sedang duduk di atas ranjang pasien.
"Pih, Revan laper, pengen sesuatu?" pinta Revan, ia mulai merasa lapar saat setelah kejadian tadi pagi.
"Mau makan apa?" tanya Tuan Raditya.
__ADS_1
"Bagaimana setelah ini kita makan di luar saja, Mas?" sahut Rembulan yang memberi ide, ia ingin memulai hidupnya dengan dua pria yang ia tinggalkan itu.
"Asiaaapp," ucap Tuan Raditya dan Revan berbarengan. Mereka semangat seperti mendapatkan undian berhadiah besar.
Ceklek...
Tata masuk, ia jadi tak enak hati melihat Tuannya sedang bersama dengan Rembulan.
"Maaf, saya akan keluar," ucap Tata yang ingin membalikkan badannya tapi panggilan dari Rembulan membuat Tata berhenti sejenak.
"Kamu tak kangen padaku, Ta?" teriak Rembulan yang tersenyum.
"Kamu..," ucap Tata yang tak percaya jika majikannya sudah mengingatnya.
"Kamu ingat aku, Ulan?" tanya Tata yang ingin memastikan langsung jika majikannya benar-benar mengingatnya.
Segera Tata menghamburkan tubuhnya kedalam dekapan wanita yang ia rindukan itu, rasa rindunya seolah terbayar dengan apa yang kini ia rasakan. Tanpa Rembulan ia seolah bukan siapa-siapa dan tanpa Rembulan juga ia tak ada artinya.
"Aku kangen sama kamu, Ulan. Dan benar dugaan ku jika kamu adalah majikan ku yang hilang," ucap Tata sambil terisak karena ia tak percaya dengan apa yang ia rasakan saat ini.
"Makasih ya, sudah merawat putra ku sampai sebesar ini. Dan kamu sudah menempati janjimu itu, Ta." ucap Rembulan, ia yang selalu merepotkan pelayan pribadinya itu yang selalu setia padanya.
"Itu sudah jadi kewajiban ku, Ulan. Dan aku percaya jika kamu akan kembali kepada kami," jawab Tata.
__ADS_1
"Bibi Ta udah dong jangan peluk Mamih Revan terus," protes Revan, ia seolah tak ingin berbagi pada siapapun termasuk Papih nya sendiri.
"Ya ampun Tuan muda bibi Ta kan kangen juga sama Mamihnya Tuan muda," sahut Tata yang lucu dengan tingkah laku Tuan mudanya posesif terhadap Mamihnya.
"Revan juga kangen sama Mamih ya?" ucap Revan tak mau kalah.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ini bocah lama-lama aku masukin juga nih ke dalam kamar mandi, kesal banget sih...
__ADS_1