Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 107


__ADS_3

"Kamu lagi," ucap Revan yang melihat orang yang telah menabraknya barusan, entah kesalahan apa yang ia perbuat hingga detik ini pun ia sial dan bertemu dengan gadis itu lagi. Di kampus, di mana-mana selalu bertemu dengannya. Luka di tangannya saja belum sembuh total dan sekarang gadis itu sudah membuat ulah lagi yang seperti ia juga tak sengaja.


Aluna, iya Aluna di gadis yang bikin darah pemuda yang bernama Revan Putra Raditya itu di buat murka dengan kelakuannya yang tak di sengaja. Ia berlari buru-buru karena orang tuanya sudah ada di dalam menunggunya untuk makan malam bersama dan ia sudah telat hampir satu jam karena kemacetan yang ia alami.


"Maaf, Kak. Aku tak sengaja," jawab Aluna, ia seperti merasakan bersalah karena ini adalah kesalahannya tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya dan melihat kanan kiri untuk ia masuk ke dalam resto tersebut.


"Lo benar-benar ya? Gadis bikin membawa sial tahu gak? Bisa gak satu hari saja jangan pernah muncul di hadapan ku, bisa?" titah Revan, ia mulai pusing di tambah lagi dengan tindakan gadis itu yang seolah biasa saja.


"Aku kan sudah minta maaf dan menjelaskan bahwa aku lagi buru-buru," jelas Aluna, ia juga tak ingin berurusan dengan pria yang ada di hadapannya ini dan bertemu dengannya lagi.


"Pergi pergi sana..," usir Revan, ia mulai tak mood dan pergi meninggalkannya dan menghampiri orang tuanya yang sudah masuk kedalam.


Aluna yang merenggut kesal, mau cepat sampai di tempat di mana orang tuanya berada malah ia bertemu dengan pria itu lagi. Aluna pun bergegas juga dan masuk kedalam resto tersebut untuk menghampiri kedua orang tuanya.


.


.


.

__ADS_1


Revan duduk dengan wajah di tekuk tak seperti biasanya dan membuat kedua orang tuanya bertanya-tanya dan saling pandang untuk mencari sesuatu pada putranya itu.


Rembulan maupun Tuan Raditya tak menemukan jawaban dari pertanyaannya. Rembulan pun langsung bertanya pada putra tunggalnya itu.


"Kamu kenapa, Van?" tanya Rembulan dengan lembut, ia akan menjadi teman buat putranya jika sang putra merasakan ada sesuatu yang membuat ia sedih.


"Gak apa-apa, Mih. Setelah ini langsung pulang ya?" pinta Revan, ia ingin segera pulang dan merebahkan tubuhnya dengan istirahat. Tubuh dan pikirannya lagi gak mood untuk hari ini.


Rembulan memanyunkan bibirnya karena kesal dengan sikap putranya, ia sudah merencanakan sesuatu dan tempat di mana seorang wanita akan menghabiskan uang suaminya itu. Tapi, tidak dengan Tuan Raditya, ia malah tersenyum dengan bangganya karena keputusan sang putra membuat ia merasakan kebahagiaan dan angin segar untuk dirinya.


"Ngapain Papih senyum senyum sendiri?" tanya Rembulan yang aneh dengan gelagat suaminya setelah sang putra memutuskan untuk pulang setelah makan bersama.


Semuanya pun melanjutkan makan malamnya sedang nikmat tapi tidak dengan Revan, ia sepertinya kurang semangat dan hanya mencicipi sedikit makanannya.


Selesai makan dan Tuan Raditya membayar semua tagihan makanan yang mereka makan, setelah ini keluarga Tuan Raditya bergegas keluar untuk pulang ke rumah yang sudah di rencanakan di awal makan oleh Revan.


"Kamu benar, Van. Mau langsung pulang? Tak mau nemenin Mamih kemana gitu?" rayu Rembulan, ia akan bertanya lagi agar putranya berubah pikiran.


"Gak, Mih. Revan capek pengen istirahat," jawab Revan dengan cepat, ia ingin segera sampai di rumah.

__ADS_1


Tuan Raditya malah cengengesan tak jelas, sang istri yang merayu Revan pun dan dengan jawaban yang sama seperti yang sudah di sepakati dari awal.


Rembulan pun membuang napasnya dengan kasar dan mulai berjalan keluar untuk menghampiri mobilnya berada dengan wajah kusut Rembulan pun menatap kearah suaminya dan berkata.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Gak ada jatah malam ini ya, Mas. Semuanya GAGAL


__ADS_2