
Pagi hari yang begitu cerah tapi tak secerah hati Rembulan saat ini, ia merasakan jengkel tiba-tiba karena suaminya tidur di sampingnya tanpa pengetahuannya. Entah sejak kapan Tuan Raditya tidur ada di sampingnya sambil memeluknya dengan erat.
Rembulan pun menyingkirkan tangannya yang melingkar di perutnya. Ia bangun menuju kamar mandi, tiba-tiba ia merasakan mual yang tak tertahankan olehnya.
Oeek... Ooek... Oeeek...
Rembulan terus saja mengeluarkan isi perutnya yang semalam ia makan begitu banyak, semua makanan itu keluar tanpa ia tahan. Tubuhnya yang lemas dan tak bertenaga lagi.
Tuan Raditya yang mendengarnya langsung berlari ke arah kamar mandi dimana istrinya berada.
"Kamu gak apa-apa, Ulan?" tanya Tuan Raditya yang khawatir dengan keadaan istrinya.
"Stop, jangan dekat-dekat, Mas. Aku mual, kamu bau bikin eneg dan pusing kepalaku saja," cegah Rembulan pada suaminya yang sedang ada di ambang pintu itu.
Membuat Tuan Raditya mengernyitkan dahinya, ia tak mengerti dengan kelakuan istrinya itu. Bau, Tuan Raditya mengendus-endus badannya yang katanya istrinya bau.
"Gak bau kok, masih sama seperti dulu bau parfum ku ini," ucap Tuan Raditya, ia pikir bau dari mana Tuan Raditya tak pernah mengganti parfumnya yang baunya enak.
"Tapi kamu bau, Mas. Sana jangan dekat dekat," usir Rembulan yang mual jika mencium bau has Tuan Raditya.
"Tapi kamu gimana, Ulan? Aku gak bisa bantu kamu kalau gini caranya," sahut Tuan Raditya.
"Panggilkan Tata cepat, aku sudah tak tahan lagi," titah Rembulan yang sudah tak kuat lagi menopang tubuhnya sendiri karena lemas sehabis mengeluarkan sisa makanan yang semalam.
Tuan Raditya pun pasrah dan mencari keberadaan pelayan pribadinya istrinya itu, ia tak habis pikir dengan kelakuan calon anaknya itu yang tak mau dekat dengannya.
"Baru di dalam perut sudah posesif banget, awas saja kalau sudah keluar," gerutu Tuan Raditya yang menyalahkan calon anaknya yang tak tau apa-apa itu.
"Tuan kenapa?" tanya asistennya yang ingin bertemu dengan Tuannya untuk menyampaikan sesuatu.
"Panggilkan Tata cepat," perintah Tuan Raditya pada asistennya.
"Baik, Tuan," jawab asisten Angga yang menuruti keinginan Tuannya walaupun di benaknya banyak sekali pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada Tuannya.
__ADS_1
Tuan Raditya tak kembali lagi ke kamar Rembulan, ia pergi ke kamar pribadinya untuk membersihkan tubuhnya yang katanya bau oleh sang istri.
.
.
.
Di dalam kamar mandi, Rembulan duduk di lantai ia tak bisa menopang tubuhnya yang lemas setelah mual itu. Ia tak pernah merasakan hal ini sebelumnya.
"Ulan, kamu kenapa?" panik Tata yang langsung menghampiri majikannya yang duduk di lantai kamar mandi.
"Bantu aku, Ta. Tiba-tiba aku mual dan pusing setelah mencium bau badan Tuan mu itu," adu Rembulan yang kini di bopong oleh Tata menuju tempat tidurnya.
"Kok bisa? Memangnya Tuan bau apa?" tanya Tata yang penasaran ingin tahu apa yang terjadi dengan Rembulan dan Tuan Raditya.
"Entah, tiba-tiba aku merasakan mual setelah mencium bau badannya itu," ucap Rembulan yang kini merebahkan tubuhnya.
"Apa calon bayimu dendam kali ya sama ayahnya," sahut Tata yang berpikir kearah itu.
"Oh, iya, Ta. Buah apel yang semalam ada?" tanya Rembulan.
"Gak ada, sudah di berikan oleh Tuan pada yang lain. Memangnya kenapa?" tanya Tata yang heran.
"Tiba-tiba aku pengen makan buah itu," ucap Rembulan tanpa dosa, saat Tuan Raditya mengambil dengan susah payah Rembulan menolaknya dan sekarang ia meminta lagi.
"Jangan bilang kamu mau mengerjai ku juga, iya?" ucap Tata yang waspada.
"Gak lah, aku beneran pengen loh. Kamu mau calon anakku ileran, hah?" bentak Rembulan.
"Iya, iya, aku akan petikan untuk mu," sahut Tata yang berlalu meninggalkan Rembulan seorang diri.
.
__ADS_1
.
.
.
Siska yang sudah di pindahkan setelah mendapatkan hukuman itu, dia tak sadarkan diri karena kesalahannya yang telah berbuat hal diluar dugaannya. Dia bermain dan mengkhianati suaminya.
"Gimana keadaannya?" tanya Tuan Raditya pada asistennya yang datang ke rumah Papahnya.
"Dia hanya kelelahan dan luka itu tidak serius bisa di obati, Tuan. Tentang kehamilannya juga baik-baik saja," jawab asisten Angga.
Tuan Raditya menarik napasnya, ia yang sudah kecewa pada Siska yang telah berbuat hal gila di belakangnya dan menuduh Rembulan yang melakukan itu.
Saat ingat nama Rembulan, Tuan Raditya ingin mengecek keadaan istrinya yang ia tinggalkan dengan rasa mualnya yang katanya karena dirinya bau.
Sampai di depan pintu kamar Rembulan, Tuan Raditya mengetuk pintu itu dan membukanya perlahan. Ia tidak ingin mengganggu istirahatnya Rembulan di siang ini.
Masuk dengan pelan, Tuan Raditya membuka pintu itu dan betapa terkejutnya ia melihat istrinya sedang memakan buah yang tadi Rembulan tolak.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bukannya tadi kamu menolaknya? Dan sekarang.....