Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 14


__ADS_3

"Pah, Ulan, pengen pulang," pinta Rembulan, ia tak mungkin tinggal di rumah ini satu atap dengan madunya itu. Melihat suaminya bermesraan dengan istri pertamanya pun hati Rembulan begitu sakit.


Papah Haris pun menghampiri menantunya dan memeluknya dengan erat, ia beri ketenangan agar menantunya tenang.


"Kita pulang ke rumah Papah ya, mau kan?" pinta Papah Haris, ia tak ingin besannya tahu tentang kehidupan putrinya yang di perlakukan oleh anaknya. Entah apa yang akan di tunjukkan oleh besannya itu jika tahu putri seperti ini, kecewa sudah pasti tapi ia akan berusaha mempertahankan rumah tangga putranya.


"Ulan pengen pulang ke rumah Papah Hermawan, Pah." pinta Rembulan lagi, ia begitu merindukan sosok orang tuanya.


"Jangan ya, Ulan. Kamu harus ngertiin posisi Papah ya, Papah tak ingin jika orang tua mu tahu soal ini l, biar kita cari jalan solusi ya," pinta Papah Haris, ia akan menyelesaikan masalah ini setelah tak ada jalan keluarnya baru mengantarkan Rembulan pada orang tuanya.


Rembulan terdiam dan mencerna ucapan yang di katakan oleh Papah mertuanya, ia juga berpikir ke sana jika orang tuanya juga akan kecewa pada dirinya sendiri karena menyerahkan putrinya pada pria yang tak bisa menjaga putrinya dengan baik.


"Baiklah, Pah. Ulan akan panggil Tata dulu," ucap Rembulan mengambil keputusan, ia akan tinggal di rumah Papah mertuanya sebelum ada penjelasan tentang rumah tangganya.


"Silahkan, Papah tunggu di sini ya,"


Rembulan pun masuk kedalam dan mencari keberadaan pelayan pribadinya itu, dan mengajaknya pulang bersamanya.


"Ta," panggil Rembulan yang bertemu dengan pelayan pribadinya itu.


"Ada apa? Apa kamu perlu sesuatu?" tanya Tata, ia yang mendengar keributan hanya bisa terdiam tanpa menghampiri dan ikut campur dalam masalah Tuan dan nyonya nya.


"Kita pulang, kamu bereskan baju mu itu," ucap Rembulan yang memberitahukan lalu memerintahkan Tata untuk membereskan pakaian yang ia bawa.

__ADS_1


Tidak dengan Rembulan, ia yang sudah di siapkan di rumah Papah mertuanya dan di rumah ini hanya membawa tubuh saja tanpa membawa barang satupun, semua kebutuhannya sudah terpenuhi di rumah Papah mertuanya.


"Baiklah, saya akan membereskan pakaiannya." patuh Tata yang berlalu meninggalkan Rembulan yang berjalan ke teras untuk menemui mertuanya.


Ketiganya masuk kedalam mobil yang sudah di nyalakan mesin mobilnya, Rembulan maupun Tata duduk di belakang dan Tuan Haris duduk di samping pengemudi.


"Sudah selesai? Tak ada yang ketinggalan?" tanya Papah Haris yang ingin memastikan barang-barang yang akan di bawa oleh menantunya dan pelayan itu tak tertinggal.


"Sudah, Pah." jawab Rembulan tanpa senyuman, ia seolah tak bisa menunjukkan senyuman itu walaupun terpaksa.


Perjalanan yang menempuh lumayan lama karena jarak dari rumah putranya dan kediamannya cukup jauh dan Rembulan pun tak terasa memejamkan kedua matanya yang merasa lelah, lelah hati, pikiran dan raganya.


.


.


.


Melihat sekeliling tak ada satu orang pun membuat Tuan Raditya mengecek kamar Rembulan.


"Gak ada, kemana dia. Dan Papah pun tak ada," gumam Tuan Raditya yang mencari keberadaan istri keduanya itu. Ia pun bertanya pada kepala pelayan itu keberadaan istri keduanya itu.


"Nyonya muda pergi bersama dengan Tuan besar, Tuan." ucap kepala pelayan itu yang melihat Rembulan pergi bersama Tata.

__ADS_1


"Pergi," ulang Tuan Raditya merasa kacau. Belum masalah satu terselesaikan kini datang lagi dengan sang istri yang pergi dengan Papahnya.


"Bagus lah, bocah tengil itu ternyata sadar juga," sahut Siska begitu senang dengan kepergian madunya itu.


Tuan Raditya tak menghiraukan perkataan istri pertamanya, ia pun bergegas ke kamar untuk mengambil kunci mobilnya untuk menyusul istrinya yang di bawa oleh Papahnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Siska, ia pikir kepergian bocah tengil itu membuat ia senang tapi tidak dengan suaminya yang mulai respon dengan adanya madunya itu.


Tuan Raditya tak menjawab atau pun menoleh pada Siska, ia melangkah sedikit berlari untuk pergi ke rumah Papahnya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Aaaaarrhhhh... Kenapa bocah tengil itu menjadi prioritas semua orang sih, Mas Raditya pun seperti mulai tertarik padanya....


__ADS_2