
"Kamu anaknya Tuan Raditya kan?" tanya seorang pria paruh baya yang masih tetap ganteng yang tak lain adalah Tuan Reyhan, ia datang karena akan mengadakan meeting bersama rekan kerjanya itu yang tak lain adalah Tuan Raditya yang punya perusahaan ini. Beberapa bulan lagi ia menandatangani surat perjanjian kerja sama dengan perusahaannya dan sekarang ia akan membahasnya dengan sang pemilik perusahaan ini.
"Iya, Tuan. Saya putranya ada apa ya?" tanya Revan yang begitu sopan, ia akan bersikap ramah pada yang lebih tua dan tak bermasalah dengannya tapi kalau ada orang membuat atau pun mencari masalah dengannya Revan tak akan seramah dan baik padanya.
Tuan Raditya tersenyum dan berjalan beriringan bersama putra pemilik perusahaan ini karena tujuan yaitu sama akan ke ruangan meeting yang kini Papih nya sudah ada menunggunya.
"Mari, Tuan." Ajak Revan mempersilahkan tamunya untuk masuk duluan dan di susul olehnya.
Tuan Reyhan begitu terpesona dengan tingkah sopan putra pemilik perusahaan ini, kebanyakan orang jika yang punya perusahaan dan memiliki kekuasaan akan bertingkah seenaknya tanpa mengenal usia atau sekitarnya tapi pemuda ini beda dari yang lain dan Tuan Reyhan menyukainya. Ia pun membalasnya dengan senyuman dan setelah itu masuk kedalam yang sudah ada pemilik perusahaan yang sebenarnya.
"Selamat pagi, Tuan Raditya," sapa Tuan Reyhan, ia bahagia bisa bertemu langsung dengan yang punya perusahaan ini. Begitu sulit untuk membahas secara langsung dan selalu di wakilkan dengan asistennya saja.
"Siang , Tuan Reyhan. Senang bertemu dengan anda," jawab Tuan Raditya yang menjabat tangan kliennya yang akan berkerja sama dengan perusahaannya.
Asisten Angga pun mempersilahkan kliennya untuk duduk dan membahas apa yang seharusnya di bahas dalam kerja sama ini. Revan hanya mendengar dan menyimaknya saja, ia masih banyak belajar lagi tentang bisnis terutama menyangkut nama perusahaan yang akan ia pimpin entah itu kapan, yang jelas sekarang ini Revan belum siap dikarenakan adanya kesibukan sendiri yaitu kuliahnya itu.
__ADS_1
Rapat pun selesai, Tuan Reyhan pun bangun dari duduknya dan menjabat tangan sebagai tanda jika kerja samanya antara dua perusahaan akan menghasilkan keuntungan bagi kedua perusahaan itu. Dan Tuan Raditya pun menyambut uluran tangan dari kliennya dan tersenyum sebagai tanda bahwa ia menerima ajakan dari kliennya itu.
"Terimakasih, Tuan. Atas waktu dan kerja samanya." ucap Tuan Reyhan yang begitu senang, ia pun melirik kearah putra dari pemilik perusahaan yang kini sedang sibuk memegang ponselnya.
Belum sempat Tuan Reyhan menyapa pemuda itu, Revan sudah bangun dan pamit untuk ke kampusnya yang sebentar lagi jadwal ia masuk dijam yang sudah Revan beritahu.
Baru Revan melangkah suara klien Papih nya itu menghentikan langkahnya yang akan pergi.
"Kamu kuliah di sana juga?" tanya Tuan Reyhan.
"Jangan panggil Tuan panggil saja Om," tolak Tuan Reyhan, ia ingin mengenal lebih dekat lagi dengan pemuda itu.
Revan tak langsung mengiyakan tapi ia mengernyitkan dahinya takut dengan Papih nya karena tak boleh seenaknya pada klien dan orang yang sudah tua.
Tuan Raditya menganggukkan kepalanya tanda ia mengizinkan seseorang itu untuk di panggil Om oleh putranya, dan Tuan Raditya juga tak keberatan panggilan itu dengan sebutan hal yang wajar.
__ADS_1
"Iya, Om." jawab Revan sambil tersenyum.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kamu kenal dengan putri Om yang namanya Aluna? Dia juga kuliah di sana...