
Setelah mengatakan itu Tuan Raditya pergi dari kamar Siska, ia tak lupa pada asistennya untuk mengurus keduanya yang akan mendapatkan hukuman yang mereka terima termasuk Santi juga yang terlibat bersama majikannya.
Orang ketiga itu hanya bisa memikirkan nasibnya entah akan di berikan hukuman apa oleh Tuan Raditya yang terkenal kejam itu.
"Gimana ini, Nyonya. Kita akan dapat hukuman apa?" tanya Santi yang cemas dan takut. Mendengar Rembulan saja sebagai istri kesayangannya saja pernah di hukum oleh Tuan Raditya tak mengenal ampun dan mendengar permohonannya, apa kabarnya dengan dirinya Santi hanya bisa pasrah untuk menerima semua frekuensinya.
Siska yang terisak-isak, ia tak memikirkan itu yang ia pikirkan hanya dirinya dan nasib calon bayinya yang di kandungnya. Sedangkan pria yang ada di sampingnya sekarang akan menerima hukuman yang sudah dirinya perbuat.
Chiko pun merasakan hal yang sama walaupun ia sebagai adik tapi hanya adik saja, ia mulai gelisah dan ketakutan yang ia rasakan, mencoba menarik napas panjang lalu membuangnya perlahan. Mimpi yang semalam pun jadi kenyataan ada yang ingin memenggal kepalanya oleh seseorang yang tak ia kenal. dan ini jawaban atas mimpinya.
"Mau jalan sendiri atau kami seret," ucap pengawal yang lain.
Ketiganya saling berpandangan dengan pemikiran masing-masing, dan saat ini juga mereka tersadar dari lamunannya ketika pengawal itu membentaknya.
Tapi, tidak dengan Chiko ia menghampiri ponselnya yang berada di atas nakas milik Siska, ia ingin meminta bantuan pada papah Haris agar membantunya untuk meringankan hukuman yang akan sang kakak berikan.
Mau tak mau pun mereka melangkah dengan langkah gontai ke ruangan yang sudah di sediakan untuk mereka, Siska ingin sekali menangis sekencang-kencangnya agar ada yang menolongnya saat ini.
"Ayo cepetan, Nyonya. Jangan bikin saya memberikan kekerasan pada Nyonya," ucap salah satu dari pengawalnya.
"Tunggu sebentar aku ingin berbicara dengan suami ku," cegah Siska yang ingin negosiasi pada suaminya agar hukuman tak seberat yang telah terjadi pada Rembulan. Membayangkan saj
Siska sudah mengidik ngeri.
.
.
.
__ADS_1
Dirumah Papah Haris, Rembulan sedang menikmati perannya sebagai calon ibu itu hanya tersenyum dengan senangnya. Di sini ia di perlakukan sebagai putri yang sesungguhnya. Ia hanya bermalas-malasan di atas kasur empuknya. Ia keluar hanya menikmati keindahan dan kebebasan yang ia rasakan.
Tok... Tok...
Tata mengetuk pintu kamar Rembulan, kini saatnya makan malam sudah waktunya, Tata di perintahkan oleh Tuan besar untuk mengurus dan memperhatikan makanan dan keinginan Rembulan yang sedang hamil muda.
"Masuk.," sahut Rembulan dari dalam, ia enggan melangkah untuk membukakan pintu tersebut.
Ceklek...
Tata masuk sambil membawa tampan berisi makanan sehat untuk ibu hamil, Tata menyimpan makanan itu di atas nakas yang tak jauh dari ranjang Rembulan.
"Makan dulu, Ulan." titah Tata yang menghampiri majikannya sedang rebahan sambil memainkan ponselnya.
"Aku tidak mau," tolak Rembulan yang masih fokus pada ponselnya.
"Kamu gak boleh begitu, Ulan. Sekarang ada nyawa yang butuh nutrisi dari ibunya," balas Tata yang mengambil piring yang sudah ada isinya.
"Ini malam loh, Ulan." ucap Tata yang tak habis pikir dengan majikannya.
"Aku pengen itu gimana dong," jawab Rembulan seperti anak kecil yang meminta uang jajan pada ibunya.
Tata mulai berpikir apa mungkin Rembulan sedang ngidam, dan orang lagi ngidam itu harus di turutin permintaannya yang aneh itu.
"Kamu ngidam?" tanya Tata yang ingin memastikan.
"Entah, yang aku inginkan hanya itu," ucap Rembulan sudah duduk di atas kasurnya.
"Oh, iya, Ulan. Kamu sudah dengar kabar nyonya Siska sekarang?" ucap Tata.
__ADS_1
"Apa?" tanya Rembulan.
"Dia sekarang sudah ketahuan oleh Tuan Raditya dengan kelakuannya bersama Tuan Chiko dan sekarang Tuan Raditya sangat marah pada mereka. Dan sekarang mereka di hukum sesuai perbuatannya." ucap Tata yang memberitahukan pada Rembulan saat tadi ada keributan.
"Kabar yang mengejutkan ternyata Nyonya Siska sedang mengandung anak dari Tuan muda Chiko," sambungnya lagi dengan antusias menceritakan itu semua.
"Baguslah, itu karma yang harus mereka terima karena telah memfitnah ku yang tak tau apa-apa," jawab Rembulan yang senang karena pembalasan dendamnya sudah tercapai.
"Aku kaget loh, Ulan. Nyonya Siska sampai tekad gitu,"
"Mungkin kurang belaian Tuan Raditya mungkin," jawab Rembulan dengan asal.
"Tapi ku lihat saat datang ke rumah itu Tuan Raditya tak pernah merespon dan menganggap nyonya Siska sebagai istrinya,"
"Kenapa?" tanya Rembulan yang ingin tahu.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Mungkin karena tak mencintai nyonya Siska...