Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 89


__ADS_3

Ucapan terimakasih Rembulan tak sebanding yang telah pria itu korbankan dari segi materi dan waktunya untuk Rembulan. Tapi apa yang dilakukan olehnya memang salah dan membuat semua orang mencari keberadaan Rembulan seolah ia sembunyikan.


Ia punya alasannya yaitu cintanya begitu besar pada wanita yang ia namakan Laura itu. Cinta telah membutakan nya dan tak memberitahukan pada siapapun tentang keberadaan wanitanya cukup hanya ia saja yang bisa memilikinya.


Vino mengangguk dan melangkah pelan menuju Rembulan, ia takkan perduli dengan tatapan pria itu yang seakan membunuhnya sekarang juga, yang ia inginkan hanyalah sebuah pelukan untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi jauh meninggalkan wanita yang ia cintai itu.


"Terimakasih, Laura. Aku akan tetap mengenang masa-masa kita berdua dan jangan lupakan aku ya?" pintu Vino di sela pelukannya dengan Rembulan.


Dan, Rembulan pun menganggukkan kepalanya, ia tidak mungkin melupakan kebaikannya dan kedua kakek dan neneknya itu. Rembulan hanya bisa berterima kasih tanpa bisa berbuat apapun, cintanya pun tak bisa ia berikan karena hatinya sudah terpenuhi oleh nama suaminya itu.


"Aku pergi dulu, jaga dirimu ya? Jika suami mu berbuat apapun segara kabari aku ya?" pesan Vino, tapi membuat Tuan Raditya mengepalkan kedua tangannya karena kesal dengan sikap pria itu yang seolah ia tak bisa menjaga istrinya itu.


Rembulan hanya mengangguk tanpa berkata atau pun membalas perkataannya. Karena Rembulan tahu jika suaminya sedang menahan amarahnya yang seakan ingin segera di keluarkan.


Ceklek...


Dokter pun masuk untuk memeriksakan pasien itu dan menghampiri Rembulan yang sedang berdiri dengan selang infus nya.

__ADS_1


"Tolong rebahan dulu ya, Mbak. Kita periksa dulu," titah sang dokter pada pasien yang sedang berdiri.


Rembulan pun mengangguk dan mengiyakan perintah dokter itu, ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang pasien.


Dokter pun memeriksa dengan teliti dan berkata. "Kondisinya sudah membaik dan hari ini juga sudah bisa pulang," ucap dokter tersebut yang membuat Rembulan senang.


"Tapi, harus di periksa dulu ya kepalanya," titah dokter tersebut, ia mengonfirmasikan pada suaminya tentang masalah ini. Takut terjadi sesuatu pada kepala pasien yang hilang ingatan beberapa tahun.


"Baik, Dok." ucap Rembulan, ia akan menuruti apapun yang di perintahkan oleh dokter tersebut. Ia pernah periksa bersama Vino di kota tempat ia tinggal bersamanya. Dokter itu mengatakan jika tak terjadi apa-apa saat ia mengeluh di bagian kepalanya.


Vino terdiam, ia yang memerintah pada dokter di sana untuk berbohong dan menuruti kemauannya agar rencananya berjalan dengan lancar, ia selalu menyuap dokter dan para perawatnya agar berbohong dan menuruti perintahnya. Tapi, sekarang. Semua itu telah sirna dan rencana yang telah ia susun berantakan dengan Rembulan yang sudah mengingat semuanya.


Rembulan senang melihat putranya begitu ceria, ia akan memberikan waktunya yang telah berlalu untuk mengurusnya hingga dewasa nanti.


"Mamih pulang ke rumah Papih kan?" tanya Revan, ia tak ingin di tinggalkan untuk kedua kalinya.


Rembulan tak langsung menjawab, ia memandang ke arah suaminya dan meminta izin padanya.

__ADS_1


"Iya dong, itu juga kan rumah Mamih juga," sahut Tuan Raditya yang menimpali ucapan putranya, ia seolah mengerti dengan tatapan istrinya padanya yang meminta lewat sorot matanya.


"Tuh kan, Mih. Nanti malam Mamih tidur bersama Revan ya?" pinta Revan yang begitu senang, tapi tidak dengan Tuan Raditya yang melotot tak percaya dengan apa yang di inginkan putranya itu. Ia yang sudah menantinya selama 10 tahun lalu hanya tidur sendirian tanpa ada yang menemani.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Gak bisa kayak gitu dong, Van. Itu istri Papih ya...


__ADS_2