Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 117


__ADS_3

"Jangan sedih, Mih. Kan Revan ada buat Mamih sekarang, Revan akan turutin apa maunya Mamih." sahut Revan, ia juga begitu sedih saat adik yang ada di kandungan Mamihnya itu harus pergi sebelum menyapa ke dunia dan bermain dengannya.


Mamih Rembulan pun tersenyum, ia masih mempunyai seorang anak laki-laki yang harus ia perhatikan walaupun Revan sudah besar dan tahu apa itu artinya kehilangan seorang yang kita dambakan.


Rembulan pun menganggukkan kepalanya, ia tidak boleh egois dan sudah mengikhlaskan walaupun hati kecilnya masih sedih jika mengingat kejadian itu semua dan sampai sekarang ia belum di kasih kepercayaan lagi oleh yang maha kuasa.


"Jangan sedih, Ulan. Gimana kalau kalau Revan saja yang kasih cucu buat kalian," sahut Tata yang menggoda majikannya. Ia berkata cuma bercanda untuk mencairkan suasana yang begitu sedih.


Revan yang melongo mendengar ucapan pengasuhnya itu, ia tak habis pikir jika pengasuh itu punya pemikiran dan ide seperti itu.


"Nah, benar tuh. Seharusnya Revan yang kasih kita cucu." ucap Tuan Raditya yang mengikuti ide konyol pelayan itu.


"Pih, apa-apaan sih, Revan masih kuliah ya," protes Revan, ia tak ingin pemikiran sejauh itu dan belum ada di dalam catatannya. Yang ia pikirkan hanya belajar dan belajar saja, untuk pendamping hidup pun Revan belum kepikiran dan pacar pun Revan tak punya.


"Gak apa-apa, Van. Masih kuliah juga, Mamih nih lulus sekolah sudah di nikahi oleh Papih mu," ucap Rembulan lagi, ia sangat kesepian dan butuh seorang untuk menemani kesehariannya itu.


"Gak mau ya, dan jangan paksa Revan. Titik." jawab Revan begitu tegas.


"Aluna cantik loh, Van. Emang kamu tak tertarik dengannya? Apa jangan-jangan kamu--," ucap Mamih yang memotong ucapannya dan memandang kearah putranya dengan tatapan menyelidik.


"Revan normal ya, Mih. Jangan punya pikiran ke sana." jawab Revan, ia tahu apa yang sedang Mamihnya pikirkan.


Setelah perdebatan antara Mamih Rembulan dan Revan, Tuan Raditya menderai perdebatan antara ibu dan anak itu karena sudah tengah malam. Semuanya pun membubarkan diri masing-masing dan masuk kedalam kamarnya masing-masing.

__ADS_1


.


.


.


Di kediaman rumah Tuan Reyhan, Mamah Mentari menghampiri putrinya untuk bicara soal candaan istri rekan kerja suaminya itu. Tapi jika semua itu benar dan ada keseriusan ia pun bahagia dan senang bisa ber besanan dengan keluarga yang terpandang itu.


Tok... Tok...


"Luna tolong buka pintunya, sayang." sahut Mamah Mentari, ia ingin mengorek informasi tentang putrinya yang mengenal pemuda itu tapi seolah tak mengenalnya.


Tak ada jawaban atau pun sahutan dari dalam membuat Mamah Mentari begitu khawatir dan ia pun langsung membuka pintu itu tanpa mengetuk lagi.


"Kamu sudah, Nak." ucap Mamah Mentari mengedarkan pandangannya tapi tak ada sosok yang ia cari melainkan ia mendengar gemercik air di dalam kamar mandi.


Mamah Mentari menunggu sang anak, ia duduk di pinggiran ranjang putrinya dengan has seorang gadis pada umumnya. Hiasan dan pernak pernik lucu dan berwarna merah muda adalah kesukaan sang putri entah kenapa jika penampilan dan sikapnya tak seperti karakternya.


Saat Aluna membuka pintu itu ia kaget dengan tatapan aneh pada Mamah itu.


"Ada apa, Mah?" tanya Aluna, ia penasaran dengan adanya sang Mamah ada di dalam kamarnya.


"Mamah hanya ingin memastikan jika kamu tak apa-apa," ucap Mamah Mentari yang begitu khawatir dengan keadaan putrinya setelah istri dari rekan kerja suaminya itu menggoda dan mengatakan akan menjodohkan mereka.

__ADS_1


Aluna mengernyitkan dahinya, ia tak mengerti dengan ucapan sang Mamah barusan.


"Maksudnya, Mah?" tanya Aluna yang tak paham.


"Soal perjodohan, Lun. Kamu gak marah kan? Tante Ulan hanya bercanda saja." jelas Mamah Mentari.


.


.


.


.


.


.


.


.


Oh, tentang itu. Luna tuh benci sama pria itu, dia bikin Luna apes Mulu, Mah. Syukur deh kalau gak jadi...

__ADS_1


__ADS_2