Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 67


__ADS_3

10 tahun kemudian....


Rembulan yang sekarang ini tinggal bersama pasangan Nenek dan kakek yang pernah menolongnya waktu kejadian itu, Rembulan yang dulu dan sekarang jauh berbeda dari segi penampilan dan perkataannya. Rembulan sekarang lebih kalem dan pendiam tak seperti Rembulan yang dulu dengan tingkah tengilnya.


Kakek dan neneknya pindah dari desa itu ke tempat tinggal anaknya dari kota B, ia berharap jika berada di sana bisa memulihkan kondisi Rembulan yang saat itu semakin parah tak ada perubahan. Dan kakek itu membawa untuk ke rumah sakit di kota B itu tempat tinggal putranya.


Dan kini Rembulan duduk seorang diri dengan kondisinya yang stabil tapi ia tak ingat siapapun termasuk masa lalunya. Jika ia di tanyakan pun Rembulan tak ingat nama dan identitasnya.


Nama Laura yang selalu di panggil oleh kakek dan nenek itu untuk panggilannya saat ini sebelum Rembulan mengingat semuanya.


"Laura makan dulu, Nak?" tanya Nenek itu yang menghampiri cucu yang ia rawat dari 10 tahun lalu.


"Bentar, Nek. Laura belum lapar," tolak Rembulan yang entah sering-sering ini ia selalu melamun.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya nenek itu lagi.


Rembulan menggelengkan kepalanya, ia selalu memberikan senyum terbaiknya untuk menutupi apa yang saat ini mengganjal di dalam hatinya. Ada perasaan yang belum bisa ia pecah saat ini. Mimpi buruknya yang akhir-akhir ini selalu mengganggu pikirannya saat ini.

__ADS_1


Nenek itu tahu, tapi ia pura-pura tak tahu dengan sikap wanita yang ia temukan saat itu, pernah ia mencari tahu tapi selalu nihil tak ada seorang pun yang tahu dengan sosok wanita yang ia temukan saat itu.


Wajar jika Rembulan tak ada yang mengenali, dia selalu di kurung di sangkar emasnya Tuan Raditya yang tak pernah membawa atau sekedar jalan-jalan keluar kediamannya.


.


.


.


10 tahun itu pun Tuan Raditya selalu mencari dan ada waktunya ia pasrah dengan keadaan hidupnya. Dan sekarang ia hanya fokus untuk mengurus putranya dan perusahaannya. Tapi di dalam hatinya sang istri masih ada dan akan kembali ke sisinya entah itu kapan.


"Jadi kan , Pih. Hari ini antar Revan sekolah?" tanya Revan, ia selalu di antarkan oleh Tata suster yang mengurus setiap hari.


"Jadi, Van. Sekarang Papih ada waktu senggang bisa antar kamu sekolah," jawab Tuan Raditya yang sudah merapihkan pakaian putranya.


"Hore... Makasih, Pih. Revan senang banget," balas Revan dengan wajah yang ceria, ini adalah momen yang di tunggu-tunggu oleh Revan yang jarang sekali quality time bersama Papih nya yang selalu sibuk dengan urusan bisnisnya.

__ADS_1


Tuan Raditya yang gila kerja dan kerja, ia habiskan waktunya hanya berkerja tak pernah memperdulikan perasaan putranya yang sekarang ini butuh kasih sayangnya dan waktunya. Tuan Raditya yang kini semakin dingin dan tegas pada siapapun. Hatinya yang seakan tertutup rapat saat kepergian sang istri tercinta Rembulan.


Tuan Raditya kali ini ia tersadar, ada yang butuh dirinya yang masih terpuruk dalam kejadian itu. Revan yang butuh perhatiannya selama 10 tahun ia abaikan, Tata yang selalu mengurus dan menjadi keluh kesah bocah yang berumur 10 tahun itu. Ada rasa kasihan dan iba pada bocah berumur 10 tahun bernama Revan Putra Raditya itu.


Perjalanan menuju tempat sekolahnya, Revan selalu menggenggam tangan Papih nya dan tersenyum lebar. Sebahagia itu kah seorang bocah yang ingin di antar sekolahnya. Kadang Tuan Raditya merasa bersalah karena mengabaikan dan tak ada waktu untuk putranya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Ayo, Pih. Evan kenalkan pada mis Laura, kalau Evan di antar oleh Papih....


__ADS_2