
Setelah kejadian itu Rembulan tidak pernah memerintahkan Tata untuk mengambilkan makanan untuknya. Kejadian itu membuat Rembulan malu karena telah berbohong pada Tuan Raditya, ia sempat akan dihukum karena kebohongannya. Dan Rembulan pun memohon jangan memberikan hukuman yang berat, jadinya ia harus berlari berkeliling tiga putaran, rasanya sangat lelah karena kediaman ini terlalu luas untuk Rembulan berlari.
Satu putaran saja Rembulan sudah merasakan lelah , bercucuran keringat yang membasahi tubuhnya.
Setelah menyelesaikan hukumannya, Rembulan segera membersihkan tubuhnya. Ia berendam di bathtub dengan tetesan aroma terapi membuat Rembulan rileks dan memejamkan kedua matanya karena lelah sehabis berlarian mengelilingi kediaman ini.
Ia ingin sekali mengutuk suaminya itu yang sudah beraninya menghukum dirinya karena kesalahan sepele saja. Ketika ia sedang kesal bayangkan wajah suaminya terlintas, Rembulan tersenyum ia tak membohongi dirinya kalau Tuan Raditya segitu tampan, gagah dan berwibawa. Tapi sayangnya terlalu dingin jika sedang berinteraksi dengannya.
.
.
.
Setelah selesai membersihkan diri, Rembulan memutuskan untuk jalan-jalan disekitar rumah ini. Rasa bosannya selalu Rembulan rasakan, ia hanya terdiam saja dan melihat orang-orang yang sedang mengerjakan tugasnya.
"Huh, bosen banget. Aku pengen jalan-jalan," ucap Remabulan dengan lirih, dan saat itu juga ia mengingat keluarganya yang entah apa kabarnya sudah lama tidak berjumpa ataupun mendengar suaranya saja. Tuan Raditya memutus komunikasinya dengan orang tuanya. ponselnya yang dulu di sita oleh Tuan Raditya dan di belikan yang baru hanya ada nomor teleponnya saja membuat Rembulan semakin membenci pria itu yang sudah seenaknya memisahkan antara ia dan kedua orang tuanya.
"Kangen Mamah dan Papah, apa kabarnya sekarang," lirih Rembulan menitikkan air matanya.
Melangkah dengan pelan tanpa ditemani Tata, Rembulan ingin menghilangkan kebosanannya saat di rumah ini. Ia ingin pulang dan bertemu dengan orang tuanya. Tapi lagi lagi Rembulan hanya bisa pasrah dengan nasibnya. Kehidupannya sekarang tak sebebas saat dirinya masih gadis meriang dan ceria.
__ADS_1
"Apa aku main ke rumah Papah mertuaku saja ya!! Dan meminta bantuan padanya untuk pulang sebentar," idenya saat mengingat Papah mertuanya itu.
Rembulan melirik kearah kamar milik istri pertamanya itu, ada rasa bahagia dan senang melihat kak Siska tak di restui oleh Papah mertuanya. Dan menjadikan dirinya sebagai menantu satu-satunya.
"Emang enak jadi istri tak di anggap ," ucap Rembulan dengan pelan. Ia terkekeh jika membayangkan wajah kak Siska yang selalu kesal jika bertemu dengannya ada saja omongan yang selalu bikin kepala Rembulan rasanya ingin pecah karena ocehan dari mulut kak Siska.
Saat ingin berlalu dari kamar kak Siska, Rembulan terkejut melihat Tuan Raditya keluar dari paviliunnya Kak Siska, segera Rembulan bersembunyi agar tidak ketahuan kalau dirinya ada disekitaran kamar istri pertamanya itu.
"Cuih, Bilangnya tidak tertarik, apaan ini dia keluar dari tempat Kak Siska. Sok-soan nolak di belakang mau juga, dasar kadal buntung," umpat Rembulan pada Tuan Raditya itu.
Saat Rembulan mengumpat Tuan Raditya dari belakang guci hias yang tinggi, membuat Rembulan merasa di permainkan dengan ucapan yang kemarin telah mengambil kesuciannya itu.
saat ingin melangkah dan pergi dari sini, ia tidak ingin ketahuan dan terlihat oleh kak Siska jika ia berada di sekitaran kamarnya bisa makin marah saja. Baru beberapa langkah ia di kagetkan oleh tangan yang menepuk pundaknya.
Apa ia ketahuan oleh seseorang jika ia berada di sekitaran kamarnya Kak Siska, sudah cukup dirinya dihukum karena masalah sepele dan Rembulan tidak ingin hal itu terjadi lagi pada dirinya.
"Sedang apa kau di sini?" tanya seseorang pria yang bukan suara Tuan Raditya melainkan suara orang lain tapi Rembulan pernah mendengarnya.
Ia membalikkan tubuhnya ingin melihat orang itu yang mengagetkan dirinya yang ingin pergi dari sini.
"Kamu kan adiknya Tuan Raditya kan," tanya Rembulan ingin memastikan jika ucapannya benar.
__ADS_1
"Iya, gue Chiko yang kemarin berantem sama kamu," ucap pria itu yang mengingatkan istri kecilnya sang kakak yang kemarin bertengkar dengannya.
"Oh, iya. Aku ingat, kamu pria rese yang bikin tanganku sakit,"
jawab Rembulan sudah mengingatnya.
"Bagus lah jika kau ingat, gara-gara kamu aku kena hukuman dari Kakak ku, yang memotong uang jajan ku cuma gara-gara istrinya," kesal pria itu.
"Salah siapa kamu yang duluan," ucap Rembulan tidak ingin di salahkan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Ngapain kamu ada di sini? Lagi ngintip ya... Gue laporin lu...