Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 15


__ADS_3

Setelah sampai di kediaman rumah Papahnya, Tuan Raditya bergegas turun dan berlari ke dalam rumah. ia berteriak memanggil sang Papah.


"Pah.. Pah.. Papah dimana?" teriak Tuan Raditya memanggil Papahnya yang entah berada di mana. Tujuan bukan mencari sang Papah melainkan istrinya yang di bawa oleh Papahnya. Ia ingin Rembulan tinggal bersamanya walaupun Siska masih menjadi istri pertamanya.


Tuan Raditya melangkah begitu tergesa ia pun naik anak tangga ingin segera sampai di kamar Papahnya.


"Pah, Papah... Papah ada di dalam kan?" teriak Tuan Raditya memanggil Papahnya ia ingin menanyakan keberadaan istrinya itu.


Cek lek.


"Berisik, ngapain ke sini?" tanya Tuan Haris setelah membukakan pintu kamarnya karena mendengar suara putranya memanggil namanya.


"Dimana istri ku, Pah?" tanya Tuan Raditya pada sang Papah.


"Istri? Bukannya ada di rumah mu," tanya Tuan Haris yang ia pikir jika putranya tak akan mencari keberadaan Rembulan.


"Jangan bercanda, Pah. Dimana Rembulan?" tanya kedua kalinya. Ia yang tak ingin rumah tangga di ganggu terutama orang tuanya.


"Ngapain nanyain Rembulan?" tanya Papah Haris yang sudah tahu jika putranya akan ke sini dan mencari keberadaan Rembulan.


"Dimana istri ku, Pah?" tanya Raditya pada Papahnya.


"Jangan ganggu dia dulu, Dit. Sebelum kamu selesaikan masalah mu dengan istri mu yang lain." sahut Papah Haris begitu tegas, ia tak ingin melihat Rembulan sedih.


"Tapi dia istriku, Pah. Papah gak berhak atas Rembulan." ucap Raditya.


"Kata siapa? Papah yang meminta Rembulan pada orang tuanya dengan cara baik-baik dan kamu seenaknya memperlakukan dia begitu, hah." bentak Papah Haris yang mulai emosi, ia tak enak hati pada besannya jika tahu putrinya itu di perlakukan tak seperti istrinya melainkan di duakan dan menjadi istri kedua.


Tuan Raditya terdiam, ada benarnya yang di katakan oleh Papahnya tapi ia punya alasan lain tentang apa yang ia jalani saat ini. Dan Papahnya belum bisa ia beritahu apa yang ia rasakan saat ini.

__ADS_1


Di kamar, Rembulan merenung seorang diri di dalam kamar yang pernah ia tempati saat datang di sini. Ia melamun memikirkan tentang nasib pernikahannya yang entah akan seperti apa setelah ini.


Cek lek.


Pintu terbuka masuklah Tata dengan membawa makanan untuk majikannya yang saat ini tak baik-baik saja. Ia begitu kasihan, kadang ia ingin protes pada Tuan muda yang seenaknya jika bermesraan dengan istri pertamanya tak mengenal tempat dan waktu seolah olah untuk menunjukkan bahwa mereka adalah pasangan yang serasi.


"Makanlah jangan sampai kamu sakit cuma gara-gara ini, mana Rembulan yang aku temui pertama kali dengan wajah ceria penuh dengan semangat." ucap Tata yang meletakkan nampan berisi makanan dan air minum.


"Di luar ada yang mencari mu," ucapnya lagi.


Rembulan menoleh dan mengernyitkan dahinya. "Siapa?" tanya Rembulan dengan penasaran.


"Tuan muda," jawab Tata, ia ingin melihat ekspresi majikannya Rembulan yang biasa saja.


"Biarkan, itu tugas Papah mertua ku," jawab Rembulan dengan asal.


"Aku tak lapar," jawab Rembulan dengan lesu, tak ada gairah di hari-harinya saat ini yang ia inginkan adalah ketenangan dan sandaran seorang yang membuat ia tenang dan bisa bangkit untuk menghadapi semua masalah ini.


Tok.. Tok... Tok ..


"Ulan, boleh Papah masuk?" sahut Papah mertuanya yang ingin berbicara.


"Tolong bukakan, Ta." perintah Rembulan pada pelayan pribadinya itu.


"Baik," jawab Tata dengan patuh dan berlalu menghampiri pintu tersebut.


Cek lek.


"Silahkan masuk, Tuan." ucap Tata dengan sopan mempersilahkan Tuan besar masuk ke dalam kamar Rembulan.

__ADS_1


"Kamu mau menemui suami mu, dan bicara lah jika ingin di bicarakan oleh mu," titah Papah Haris yang ingin memberikan kesempatan pada putranya yang ingin berbicara dengan Rembulan.


Rembulan menoleh dan menatap Papah mertuanya yang heran, ia mengizinkan dirinya untuk bertemu dengan putranya.


Papah Haris mengangguk dan tersenyum untuk meyakinkan jika tak akan terjadi sesuatu selama di rumah ini, ia yang akan menjaga dan melindunginya.


"Baik, Pah." jawab Rembulan yang setuju dan mengiyakan perintah Papah mertuanya untuk menemui suaminya itu.


Langkah kaki Rembulan begitu kelu saat menapakkan kaki di lantai ini, ia yang serasa tak bersemangat dalam hubungan rumah tangganya itu.


"Ada apa? Kenapa kamu mencari ku," tanya Rembulan sesudah ada di hadapan suaminya itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ayo pulang, ini bukan rumah mu...

__ADS_1


__ADS_2