Istri Tengil CEO Tampan

Istri Tengil CEO Tampan
Part 81


__ADS_3

Ucap Tuan Raditya tanpa berpikir lagi, ia tak perduli jika masih malam sekali pun baginya keadaan putra dan wanita sangat berarti baginya. Tuan Raditya pun bergegas mengambil kunci dan dompetnya dari ia pulang di rumah sakit itu ia tak mengganti pakaian karena malas. Sebenarnya ia ingin menginap di sana karena tak enak di tambah lagi pria saingan itu terus saja mengusirnya.


Dan keputusan itu keduanya ambil yang menemani pasien adalah Tata dan Revan putranya.


Mengemudikan kendaraan dengan kencang karena malam yang begitu senggang di jam 2 dini hari membuat ia leluasa sampai ke rumah sakit tempat di mana putranya berada. Tak membutuhkan waktu lama nyatanya kendaraan Tuan Raditya sampai juga di rumah sakit dengan selamat. Ia memarkirkan mobilnya di tempat biasa yang sudah tersedia di sana.


Tuan Raditya turun dari mobil dengan tergesa ia ingin segera sampai karena rindunya pada dua orang yang ada di sana. Rumah sakit ini yang sepi di jam seperti ini membuat Tuan Raditya lebih cepat menemui sang belahan jiwanya dan putranya.


Tok... Tok .. Tok...


Sampai di ruangan, Tuan Raditya tak segera masuk ia akan mengetuk pintu dulu sebelum masuk karena di dalam bukan putranya saja melainkan ada wanita yang mirip dengan istrinya dan Tata juga.


Tak berapa lama pintu itu di buka oleh Tata dan mempersilahkan Tuannya untuk masuk kedalam. Rasa tak enaknya pada Tuannya karena ia langsung mengabari di jam orang seharusnya sedang mendengkur tanpa gangguan.


"Maaf, Tuan. Jadi mengganggu waktu tidurnya, saya hanya menyampaikan pesan dari dokter saja," ucap Tata yang menundukkan kepalanya. Ia sebenarnya takut tadi ini adalah masalah penting yang harus ia sampaikan, jangan sampai Tuannya marah.


"Tidak apa, saya yang seharusnya terima kasih karena kamu telah mengabari saya dengan cepat," jawab Tuan Raditya yang tersenyum, pelayan pribadinya sang istri selalu bisa di andalkan dan ia juga yang mengurus putranya dari bayi hingga sekarang ini.


Tuan Raditya menghampiri pasien yang sedang tidur nyenyak nya. Laura tak terganggu sedikit pun setelah minum obat dari dokter.

__ADS_1


"Bagaimana keadaannya, Ta?" tanya Tuan Raditya.


"Tadi sempat ngeluh di bagian kepalanya, Tuan. Saat saya menceritakan tentang Nyonya Rembulan di masa lalu dan saya keluar untuk mencari dokter Mis Laura tak sadarkan diri," jawab Tata dengan jujur.


"Dan dokter pun menyuruh untuk memeriksa lebih lanjut lagi tentang kepalanya, Tuan." sambungnya lagi.


"Lakukan saja, mungkin dengan itu istriku akan mengingat nya," balas Tuan Raditya, ia akan melakukan apapun agar belahan jiwanya kembali padanya dan berkumpul lagi bersamanya dan putranya yang sekarang ini sedang membutuhkannya.


Setelah selesai melihat keadaan wanita itu, Tuan Raditya menghampiri putranya yang lagi tidur sofa. Ia usap kepala dengan lembut. Revan sebenarnya tidur di ranjang bersama dengan Mis Laura karena kejadian tadi Tata pun mengambil Tuan mudanya untuk ia tenangkan. Dan di sini Tuan muda tertidur karena takut melihat Mis Laura yang mengeluh kesakitan di bagian kepalanya.


"Revan tidak apa-apa kan?" tanya Tuan Raditya lagi.


Tuan Raditya tak mungkin memarahi atau pun memberikan hukuman pada Tata, dia sudah melakukan yang terbaik walaupun membuat putranya menangis.


"Tidak apa, sekarang kamu istirahat saja biar saya yang menjaga mereka." titah Tuan Raditya, ia pun merogoh ponselnya di dalam saku untuk menghubungi asisten Angga.


"Kamu pulang saja, Ta. Asisten Angga sebentar lagi akan segera tiba," ucap Tuan Raditya yang memerintah pelayan Tata agar pulang untuk istirahat sejenak.


"Baik, Tuan." jawab Tata tak pernah membantahnya.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian asisten Angga pun datang untuk mengantarkan pelayan Tata untuk pulang. Sepeninggalnya mereka Tuan Raditya menghampiri pasien yang mirip dengan istrinya itu sedang terlelap tidur di atas ranjang. Tuan Raditya mengusap rambutnya dan tersenyum.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sampai kapan kamu akan mengingat ku, Ulan. Aku begitu merindukan mu...

__ADS_1


__ADS_2