
Selesai merapihkan pakaiannya, Rembulan enggan keluar dari kamarnya. Sebenar lagi akan tiba makan siang bersama
istri pertamanya dan Tuan Raditya. Malas sekali jika Rembulan satu meja dengan istri pertamanya dengan tatapan sinis pada dirinya.
"Ayo cepat, kenapa diam?" tanya Tata heran dengan majikannya yang selalu melamun.
"Aku tidak mau pergi kesana, boleh tidak aku makan disini?" tanya Rembulan.
"Tapi kenapa?" tanya Tata.
"Kamu tahukan kalau kak Siska menatap ku seperti apa? Dan satu lagi Tuan mu itu yang menyebalkan karena mengganggu kesenangan ku saat di mall itu ," adunya pada Tata, ia sudah mulai bosan setiap hari melakukan aktivitas seperti itu dan setiap hari juga seperti itu, tidak ada tantangan bagi Rembulan yang hobi tantangan.
"Sabar saja, Ulan. Nanti waktunya juga kamu akan merasakan kebahagiaan dan kebebasan yang akan menanti mu, percayalah," jawab Tata yang meyakinkan majikannya agar tidak melamun dan ceria lagi.
"Tolong ambilkan makanan ku, Ta. Aku ingin makan di sini, kalau ada yang bertanya, bilang saja aku tidak enak badan," titah Rembulan dan beralasan berbohong agar terhindar dari dua manusia yang menyebalkan.
"Tapi, Ulan." jawab Tata yang tidak enak hati karena telah berbohong pada Tuannya. Sudah cukup tadi pagi ia tidak bisa menjaga majikannya dengan baik, dan sekarang Rembulan memerintahkannya harus berbohong untuk menghindari Tuannya.
"Cepat, Ta. Apa kamu mau aku kirim ke Kak Siska, hah," ancam Rembulan, dan seketika Tata pun berlalu karena ia tidak mau dipindahkan ke tempat lain.
"Hahaha... Rasain, baru di ancam seperti itu aja takut," tawa Rembulan karena berhasil membuat Tata tidak berkutik jika menolak perintahnya.
Beberapa menit kemudian, seorang masuk membawa nampan berisi makanan yang dipesan oleh Rembulan.
"Letakkan saja di situ, Ta," titahnya, ia yang sibuk melihat ponselnya yang diberikan oleh Tuan Raditya untuknya, menemani rasa kesal dan bosannya.
__ADS_1
"Katanya tidak enak badan?" tanya seseorang dengan suara has laki-laki.
Deg..
Rembulan meletakkan ponselnya, ia melihat ke arah suara tersebut. Begitu terkejut Rembulan saat ini, yang ada dihadapannya sekarang adalah Tuan Raditya yang membawa makanannya.
"Tu-an..," ucap Rembulan dengan terbata, ia takut kalau kebohongannya ketahuan oleh Tuan Raditya karena ia berbohong tidak enak badan.
"Mau ku panggilkan dokter? Agar kamu sembuh," ucap Tuan Raditya, ia sudah tahu jika istri keduanya berbohong dan menghindari dirinya. Dan saat itu pelayan pribadinya meminta makanan untuk Rembulan yang akan makan di kamar. Tuan Raditya begitu khawatir dan mengambil alih nampan tersebut sambil melihat keadaan istrinya. Tapi apa yang ia lihat saat didalam kamarnya, Rembulan dengan santainya memainkan ponselnya. Dan di situ ia menyadari kalau istrinya sedang berbohong.
"Jangan," jawab Rembulan dengan refleks. Ia tidak ingin di periksa dan kebohongannya ketahuan.
"Kenapa?" tanya Tuan Raditya lagi.
"Karena... Sudah lah, aku pengen makan," jawab Rembulan yang mengalihkan pertanyaan Tuan Raditya, ia yang ingin menimpali ucapannya.
"Cepat habiskan setelah ini jangan berbohong lagi," sindir Tuan Raditya yang memandang Rembulan sedang makan dengan rasa gugupnya.
Rembulan tak menjawab, ia fokus pada makanan yang tadi suaminya bawa. Untuk berdebat dengannya butuh tenaga dan ia harus banyak makan saat perdebatan itu terjadi.
Tuan Raditya keluar dari kamar Rembulan dan melanjutkan makanan tadi yang sempat ia tunda.
"Istri mu itu benar sakit?" tanya Siska yang ingin tahu tapi enggan mengecek secara langsung.
"Hem," jawab Tuan Raditya cuma dengan berdehem, ia tak ingin menjawab pertanyaan dari istri pertamanya jika dirinya sedang makan.
__ADS_1
"Manja sekali dia, dasar bocah tengil." gurutu Siska yang kesal pada istri keduanya suaminya itu, di tambah lagi Tuan Raditya mulai tertarik pada bocah ingusan itu.
"Mas Adit, kapan kamu akan meresmikan pernikahan kita? Aku ingin di akui oleh negara juga," pinta Siska, pernikahannya hanya di akui secara agama saja, ia ingin segera Rembulan yang resmi menyandang sebagai nyonya Rembulan di luaran sana.
Tuan Raditya menghentikan makan siangnya, ia menatap kearah istri pertamanya itu dengan tatapan aneh.
"Bukan kah kita sudah sepakati jika pernikahan kita hanya sebatas suami istri yang saling menguntungkan, kenapa kamu tadi meminta lebih," ucap Tuan Raditya yang sudah di sepakati jika pernikahan antara dirinya dan Siska hanya sebatas status saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Tapi, aku pengen seperti Rembulan, sedangkan aku???