Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Cemburu


__ADS_3

Ceklek


Kemal memasuki ruangan Reza. Ia melihat putranya tengah asyik di depan laptopnya tanpa menoleh ke suara pintu yang terbuka.


Kemal dan Mirna datang lagi menemui putranya. Mereka hampir setiap minggu datang ke kota ini untuk melihat keadaan Reza.


Namun, di sana Reza masih tak menghiraukan keberadaan sang ayah. Ia terlalu fokus melihat akun sosial media Rara yang baru saja terposting sebuah foto dari nama Zayn. Rahang Reza semakin mengeras ketika membaca tulisan di sana. Zayn seolah memberitahu pada semua orang bahwa dirinya adalah pria beruntung yang mendapatkan Rara.


Akibat postingan Zayn itu, bukan hanya Reza yang geram, tetapi beberapa model yang menyukai Zayn, termasuk Cellin. Wanita itu sudah lama menggilai suami Rara. Hampir saja, ia mendapatkan Zayn. Namun, tidak berhasil. Pesona Rara terlalu melekat di ingatan Zayn hingga wanita itu tak bisa menggantikan posisi Rara saat itu.


“Za, apa yang kamu lakukan?” tanya Kemal dengan berdiri di samping Reza dan melihat apa yang membuat Reza fokus hingga tak menghiraukan kehadirannya.


“Eh, Papa.” Reza terkejut dan langsung menutup laptopnya.


Kemal menggelengkan kepala dan menarik nafasnya kasar. “Kamu masih belum move on?”


Reza terdiam. Lalu ia mengalihkan pembicaraan. “Kapan Papa datang?”


“Sejak tadi, tapi kamu terlalu asyik melihat foto mantan istrimu. Come on Reza. Life must go on.”


“Yes, Pa. Life must go on. Aku pun menjalani hidupku. Semua berjalan seperti biasanya.”


“Ck ... dengan mabuk-mabuk kan setiap malam. Apa itu yang dinamakan hidup terus berjalan?” tanya Kemal. “Papa tahu kamu bukan pemabuk, Za.”


“Hanya untuk menghilangkan penat, Pa.”


“Lalu, kamu bertemu wanita lagi dan menghamilinya lagi? Papa ingat betul kata-kata itu,” ucap Kemal. “Menghilangkan penat dengan mabuk? Bulshit. Yang ada malah menciptakan masalah baru.”


“Reza tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, Pa.” Reza menjeda jawabannya dan berkata lagi. “Kalau pun Reza mengulangi kesalahan yang sama. Kali ini tidak ada penyesalan yang berarti.”


“Gila kamu, Za. Kamu ingin menebar benih di mana-mana?” tanya Kemal dengan nada tinggi dan langsung menjatuhkan dirinya ke sofa sembari memegang kepalanya yang pusing.


“Stop, Za! Akhiri semua kegilaanmu. Sekarang terimalah takdirmu. Ada Noah dan bayi yang saat ini sedang dikandung istrimua.”


Reza terdiam.


“Bahkan kamu pasti tidak tahu, berapa usia kehamilan Manda sekarang?” tanya Kemal.


Reza masih diam. Ya, ia memang tidak tahu itu. Ia hanya sekali mengantar Manda periksa pada awal kehamilan. Setelah itu, ia tidak tahu.


“Papa kesini untuk meminta Mama mu menemani Manda periksa.”


Reza menoleh ke arah ayahnya. “Mama tidak suka Manda.”


“Kalau begitu siapa yang suka? Kamu pun tidak? Tapi Mama mu lebih baik, karena dia juga perempuan. Se tidak sukanya Mama mu pada istrimu, dia tetap bisa menerima cucu dan menantunya sekarang. Tidak sepertimu yang sulit sekali menerima takdirmu. Padahal ini semua terjadi juga karena ulahmu.” Kemal terus saja berkata dengan perkataan yang pedas, agar putranya mau mengerti.


Reza masih terdiam. Ia menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi kebesarannya itu.


“Rara sudah bahagia dengan Zayn. Sudahlah, jangan kamu tambah bebanmu dengan terus menjadi stalker Rara. Kamu harus bangkit. Kamu juga harus bahagia,” ujar Kemal.


“Tapi Reza tidak bisa melupakan Rara, Pa.” Reza terlihat lemah dimata sang ayah.


“Memang siapa suruh kamu melupakan dia. Cinta tidak harus memiliki, Za. Kamu pernah memilikinya, Papa rasa itu cukup. Sekarang simpan saja rasa itu di hatimu terdalam dan jalani hidup.”


“Itu sulit, Pa,” kata Reza lagi.


Kemal bangkit dan kembali mendekati putranya. Ia menepuk bahu Reza. “Kamu sudah melewati hal yang lebih sulit dari ini. kamu bisa menalak Rara dan bercerai darinya. Papa rasa itu adalah hal tersulit dan kamu mampu melewati. Sekarang, kamu juga harus mampu.”


Reza mengusap wajahnya kasar.


“Cintai anak dan istrimu, Za,” ucap Kemal lagi. Kini, dengan suara yang lembut.


“Oke?” tanya Kemal lagi, meminta Reza untuk mengangguk.


“Tidak janji,” jawab Reza.


“Pak, meeting sudah siap,” ucap seorang wanita yang berdiri di pintu ruangan Reza.


“Ya,” jawab Reza singkat.


Kemal melihat wanita itu pergi. “Siapa dia? Sekretarismu?”


Reza mengangguk.

__ADS_1


“Mengapa tidak mencari laki-laki?” tanya Kemal yang khawatir putranya akan tergoda oleh sekretarisnya itu.


Pasalnya sekretaris Reza terlihat cantik dan masih muda.


“Salahkan Papa yang tidak memperbolehkanku membawa Doni ke sini.”


“Papa butuh Doni di pusat. Karena sudah lama Papa tidak pegang pekerjaanmu,” jawab Kemal.


Kedua pria beda generasi itu pun berdiri dan berjalan keluar menuju ruang meeting.


“Papa akan carikan sekretaris pria untukmu dan minggu depan orang itu sudah di sini,” ucap Kemal ketika melihat wanita yang berada di belakang Reza, karena wanita itu cukup bisa menggoda putranya, terlihat dari gestur tubuhnya.


Wanita itu pun menunduk. Ia pun merasa posisinya sedang teracam karena ketidaksukaan ayah bosnya itu. Padahal baru beberapa hari ia menikmati posisi ini dengan gaji yang cukup besar.


“Dia baru saja Reza terima, Pa. Kontraknya baru ditandatangani,” ucap Reza.


“Pindahkan ke bagian lain,” jawab Kemal tegas dan duduk di kursi yang di sediakan setelah memasuki ruangan meeting.


****


Keesokan harinya, cuti Rara hanya tinggal hari ini. Mulai besok ia akan mengajar seperti biasa.


“Mommy tidak mengantar kami?” tanya zac yang sudah duduk dengan rapi di meja makan.


“Tidak, biar Daddy yang antar kalian,” jawab Zayn.


“Mommy masih tidak bisa tidur semalam?” tanya Zoey.


Rara melirik ke arah Zoey dan Zac. Lalu, melirik ke arah suaminya. Ia baru saja akan duduk bersama anak dan suaminya di meja itu.


“Kata siapa Mommy tidak bisa tidur?” tanya Rara.


“Daddy,” jawab Zac dan Zoey menunjuk ke arah ayahnya.


Rara tersenyum ke arah Zayn.


“Mengapa Mommy selalu bangun kesiangan?” tanya Zoey.


Zayn mengedikkan bahunya sambil tersenyum.


“Curang. Ayo jawab Daddy!” kata Rara.


“Itu bagianmu,” jawab Zayn pelan dengan tenang menyuapkan makanan itu ke mulutnya.


Rara mengerucutkan bibirnya dan Zayn tersenyum sambil pura-pura melihat ke arah ponsel yang tergeletak di depannya.


“Mommy keasyikan ngobrol sama Daddy. Terus Mommy juga keasyikan membaca novel. Jadi Mommy sering tidur malam,” jawab Rara.


“Itu tidak sehat Mommy,” ucap Zac.


“Ya, kami tidak ingin Mommy sakit,” sahut Zoey.


Kedua anak kecil itu pun berkata sambil menikmati sarapn pagi mereka.


“Yang penting hari ini Mommy tidak kesiangan kan?” tanya Rara.


“Kesiangan,” teriak Zoey.


Zac mengangguk. “Kami jadi tidak bisa menikmati sarapan buatan Mommy.”


Rara tertawa. Zayn pun demikian. Rara memang kesiangan hingga si Bibi yang menyiapkan sarapan pagi itu.


“Maaf.” Rara menyengir. “Besok Mommy tidak akan kesiangan.”


“Ya, karena Mommy besok sudah mulai berangkat bersama kalian,” sahut Zayn.


“Yeay ....” seru Zac dan Zoey.


“Akhirnya Mommy yang ada di kelas,” ucap Zac.


“Memang kalau di ajar Miss Nur kenapa?” tanya Rara.


“Enak sih, tapi enakan Mommy,” jawab Zoey yang langsung di angguki Zac. “Iya, benar.”

__ADS_1


Zayn pun mengangguk. “Iya benar, Mommy memang paling enak.”


Rara mengernyitkan dahi sambil menatap suaminya. ‘Mulai deh ngga jelas.”


Zayn pun tersenyum lebar. “Memang benar, Sayang. Kamu enak banget.”


“Zayn.” Rara memukul lengan suaminya yang berada di atas meja.


Zayn pun tertawa. Sedangkan Zac dan Zoey bingung dengan apa yang dibicarakan kedua orang tuanya.


Setelah menikmati sarapan pagi, Zayn berangkat bersama Zac dan Zoey. Hari ini, Zayn pun sudah mulai datang ke studio nya. Banyak pekerjaan yang belum ia selesaikan. Walau ia memiliki tim dan ada beberapa fotografer handal yang lain, tapi tetap mereka membutuhkan Zayn.


Zac dan Zoey mencium punggung tangan Rara dan Rara pun mencium kening mereka masing-masing. Rara berdiri di depan mobil Zayn yang akan keluar.


“Aku berangkat, Sayang.” Zayn mengecup kening Rara.


“Aku akan antar makan siang ke studio mu,” Rara merapikan kerah kaos Zayn.


Zayn memang tidak berpakaian seperti Reza saat ke kantor. Ia tak menggunakan dasi atau kemeja panjang dan jas. Zayn selalu mengenakan pakaian casual seperti saat ini, ia hanya mengenakan celana cargo berwarna hitam dan kaos berkerah lengan panjang berwarna abu-abu. Lengan panjang itu, Zayn tarik sedikit hingga siku.


Ah, suami Rara itu semakin tampan dan terlihat keren.


“Aku tunggu, Beib.” Zayn menempelkan bibirnya pada bibir Rara.


Cup


Satu kali, lalu Zayn mengulang kecupan itu menjadi dua kali. Kemudian, ia pun hendak mengulang lagi. Namun, dengan cepat Rara menghindar dan memukul pelan bahu suaminya.


“Sudah, Daddy. Kasihan mereka sudah menunggu di dalam.”


Zayn tertawa. “Abisnya manis banget.”


Rara ikut tertawa. Apalagi ketika Zayn kembali menoleh dan memberi ciuman jarak jauh. Rara menggelengkan kepala dengan terus mengulas senyum yang lebar.


Mereka seperti abege yang sedang dimabuk cinta.


Rara kembali ke dalam rumah dan membereskan sisa sarapan tadi. Ia di temani si Bibi membuat masakan untuk makan siang suaminya nanti, sesuai janji Rara tadi.


Hari semakin siang. Rara sudah menggunakan pakaian rapi dan tertutup. Ia menggunakan celana jeans biru donker dengan kemeja putih dan outfit tanpa lengan berwarna senada dengan celananya. Lalu, Rara memadukan hijab bermotif bunga sakura berwarna putih dan biru donker.


Rara terlihat anggun. Ia tersenyum melihat bekal yang akan ia bawakan untuk sang suami. Ia pun membawa kue hasil karyanya yang baru saja matang untung dibagikan pada teman-teman suaminya di studio itu.


“Bi, saya jalan ya!” ucap Rara pada si Bibi.


“Iya, Mom. Hati-hati.”


Rara mengangguk dan keluar menuju taksi online yang ia pesan.


Sesampainya di studio milik sang suami. Rara bertabrakan dengan seorang wanita cantik yang juga sedang keluar dari mobilnya.


“Aw ...”


“Maaf,” ucap Rara. Padahal wanita itu yang lebih dulu menabrak Rara karena ia berjalan tanpa memperhatikan sekitar.


Wanita itu hanya menoleh ke arah Rara dengan membuka kaca matanya, lalu kembali berjalan dan masuk ke dalam studio tanpa berkata apa pun pada Rara.


Rara tersenyum, tapi wanita itu tak membalasnya. Rara cuek dan kembali merapikan barang bawaannya. Sementara wanita itu sudah lebih dulu masuk ke dalam studio Zayn.


Kemudian, perlahan Rara memasuki studio itu. Ia pun di sambut oleh karyawan Zayn yang ada di pintu depan. Mereka mengenal Rara, karena mereka hadir di pernikahan bosnya.


“Hai, Miss. Mau langsung masuk ke ruangan Bos?” tanya salah satu wanita yang bertugas sebagai fornt office sekaligus resepsionis.


Rara mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju ruangan Zayn. Namun, kakinya terhenti saat ia melihat di ruangan yang pintunya sedikit terbuka, Zayn bersama wanita cantik yang menabraknya tadi.


Rara terdiam melihat interaksi suaminya dan wanita cantik itu dengan sangat dekat. Ia pun melihat Zayn tertawa bersamanya.


“Dia siapa?” tanya Rara pada karyawan Zayn itu.


“Oh, dia model terkenal dari Paris, Miss. Namanya Cellin.”


“Oh.” Rara pun menganggukkan kepala dan bergumam. “Oh, ini yang namanya Cellin. Yang hampir begituan sama suamiku dulu.”


Rara cemburu melihat kebersamaan Celiin dengan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2