Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Bonchap 2


__ADS_3

“Dah ... Uncle.” Zac dan Zoey melambaikan tangannya ke arah Reza yang sudah duduk di dalam mobil.


“Daah ...” Reza juga melambaikan tangannya ke arah Zac dan Zoey. Ia membuka jendela mobilnya sebelum menginjak pedal gas.


Zayn dan Rara pun melakukan hal yang sama. Mereka berdiri bersama di belakang anak-anaknya dan mengantar Reza hingga pria itu menjalankan mobilnya.


Reza memang terlihat jauh berbeda sekarang. Pria itu sedikit humble dan lebih enak diajak berbincang.


Zayn menggiring kedua anaknya menuju ruang keluarga. “Sayang, sudah malam. Ayo rapikan mainannya!” pinta Zayn pada Zac dan Zoey.


Sementara, Rara kembali ke dapur dan membantu Bibi merapikan meja makan. Rara sengaja membiarkan makanan itu tergeletak di meja saat mereka selesai makan malam dan berbincang sebentar di ruang keluarga.


“Sudah makan, Bi?” tanya Rara pada si Bibi.


“Sudah, Mom. Masakan Mommy memang yahut,” jawab si Bibi yang terlihat kenyang karena ia bersendawa beberapa kali.


Rara tertawa mendengar pujian itu. “Alhamdulillah, syukurlah kalau pada suka masakan saya.”


“Pantesan si Daddy suka bilang ‘selalu suka semua yang ada di diri kamu’,” ledek si Bibi.


“Eh Bibi suka nguping ya?” tanya Rara tersenyum.


“Ngga nguping, Mom. Tapi sengaja denger.”


“Ye, sama aja.” Rara kembali tertawa dan membiarkan si Bibi meninggalkannya di dapur untuk merapikan meja makan.


Rara meletakkan alat masak yang sudah kering seteleh dicuci bersih oleh Bibi. Kemudian ia berdiri di wastafel dan mencuci tangan. Tiba-tiba pinggangnya terasa berat. Rara pun tersenyum karena suaminya tengah memeluknya dari belakang.


“Gimana rasanya dipanggil Kak Reza ‘Sayang’?” tanya Zayn sambil menggerakkan kedua telunjuknya ke atas.


Rara tertawa. “Masih cemburu sama Kak Reza? Basi banget sih.”


“Biarin. Soalnya kalau aku cemburu, service kamu makin hot.”


“OH, gitu?” Rara langsung membalikkan tubuhnya dan bertolak pinggang.


Zayn pun tertawa.


“Oh, ternyata selama ini kamu sering ngambek karena itu?” tanya Rara lagi.


“Yah, ketauan kan?” Zayn pura-pura lemas.


Rara tertawa dan menggelengkan kepalanya. “Dasar Omes.”


“Apaan tuh?” tanya Zayn yang melihat istrinya hendak pergi.


“Otak mesum.”


Zayn tertawa dan mengekori Rara.


****


“Sayang, belum bisa pulang?” tanya Reza di sebuah panggilan Video call.


“Belum, Kak,” jawab Essy.


Reza terus menatap wajah kekasihnya di layar ponsel itu.


“Tega kamu, Sy. Aku sudah setahun menunggu.”


“Baru setahun,” ledek Essy. “Katanya kuat sampai kapan pun.”


Reza tertawa. “Tapi aku kangen banget.”


Kini, Essy yang tertawa.


“Ih, beneran. Malah diketawain sih.”


Essy masih tertawa. “Kamu tuh lucu, Kak. Kita udah kaya abege tau ngga sih.”


“Biarin.”


Keduanya tertawa.


“By the way. Kamu belum selesai ngurus perusahaan ayahmu di sana?” tanya Reza lagi. Kali ini obrolan mereka tampak serius.


Essy mengangguk. “Ya, belum. Hmm ... sedikit lagi sih. Setelah di sini selesai, aku tinggal urus usaha papa yang di Jakarta. Baru deh pulang.”


“Baru deh, jadi istri Fahreza,” celetuk Reza.


“Ih, narsis. Aku belum bilang iya buat jadi istri kamu ya.”


“Tapi udah bilang iya jadi kekasih aku. Sama aja,” jawab Reza tak mau kalah.


Keduanya kembali tertawa.

__ADS_1


“Sayang,” panggil Reza.


“Hmm ...”


“Lusa aku ke sana.”


“What?” tanya Essy tak percaya.


Reza mengangguk. “Sungguh. Aku ingin bertemu keluargamu di sana. ingin melamarmu langsung dan mengenal keluarga ayahmu.”


Essy tersipu malu. Ia tak menyangka Reza akan seserius ini.


“Kamu ngga abis ke pentok tiang kan?” tanya Essy tertawa.


“Bukan ke pentok tiang. Tapi hati aku udah ke pentok kamu.”


“Ish ... Gombal,” teriak Essy sambil tertawa hingga menutup mulutnya karena ia terlalu tertawa kencang.


Reza ikut tertawa lebar.


“Kenapa sih? Kamu ketawa terus.” Tanya Reza.


“Abis lucu.”


“Siapa? Aku?” tanya Reza dengan menunjuk dirinya sendiri.


“Ya iyalah kamu. Aku kan ketawanya sama kamu.”


Mereka lagi-lagi tertawa. Rasanya berkomunikasi dengan Essy membuat rasa suntuk Reza hilang. Lalu, beberapa detik kemudian mereka terdiam.


“Kak,” panggil Essy.


“Hmm ...”


“Kenapa sih, kamu dari dulu ga seperti ini?” tanya Essy yang melihat perubahan Reza. Padahal Reza tambah tampan ketika tertawa, tapi dulu ia sangat irit tertawa.


“Hmm ... kenapa ya?” tanya Reza pada dirinya sendiri. “Karena kamu jadi sekretarisnya aku, telat. Coba dari dulu.”


“Gombal. Ngga nyambung.” Essy tertawa.


“Udah tau gombal, masih di denger.” Reza pun tertawa.


Mereka terus berbincang hingga lebih dari dua jam. rasanya berbicara dengan Essy tak ada habisnya, ada saja topik yang mereka bahas, mulai dari pekerjaan, keluarga, hingga masa depan mereka. padahal waktu sudah semakin larut, terlebih di tempat Essy karena di sana dua jam lebih dulu dibanding tempat Reza.


****


“Ma, Pa, Reza berangkat ya.” Reza berpamitan pada Kemal dan Mirna. “Reza titip perusahaan satu minggu ya, Pa.”


Reza nyengir di depan ayahnya.


“Ya, sana.”


Mirna pun tersenyum. Ia bahagia melihat putranya kini kembali bahagia. “Hati-hati ya, Nak. Ajak Essy segera ke sini.”


“Siap, Mama,” jawab Reza dan langsung mengecup kening ibunya. “Doakan Reza ya, Ma.”


“Selalu, Sayang. Mama selalu mendoakan yang terbaik untukmu,” sahut Mirna.


“Doakan kali ini rumah tangga Reza langgeng seperti Mama dan Papa,” kata Reza lagi.


“Doa kami pasti, Za. Yang penting kamu nya bisa membawa rumah tanggamu dengan baik,” sambung Kemal.


Reza mengangguk. “Iya, Pa. Pengalaman kemarin cukup menjadi pelajaran buat Reza. Terima kasih, Ma, Pa.”


Reza memeluk kedua orang tuanya yang selalu ada untuknya.


“Sama-sama, Sayang,” ucap Mirna menerima pelukan sang putra.


“Kami selalu menyayangimu,” kata Kemal membuat Reza tersenyum haru.


Hampir delapan jam, Reza melakukan perjalanan dari Indonesia ke Jepang. Kini, ia sudah berada di Tokyo. Ia langsung menaiki taksi dan melaju ke apartemen kekasihnya. Ia sengaja datang lebih awal dibanding jam pulang kantor Essy. Ia ingin berada di apartemen itu lebih dulu dari kekasihnya. Untungnya, ketika di telepon beberapa waktu lalu, Essy sempat keceplosan memberi tahu passcode apartemennya, padahal ia baru saja akan bertanya.


Reza tersenyum saat menekan tombol passcode apartemen itu. Sebesar itu Essy mencintainya, hingga passcode apartemennya saja dengan nomor tanggal kelahiran Reza. Ia benar-benar tidak tahu bahwa ada gadis sebaik dan secantik Essy yang mengagumi dirinya.


Lalu, Reza masuk ke dalam apartemen itu. Ia mengelilingkan pandangan ke seluruh penjuru. Apartemen Essy tampak rapi dan nyaman. Ia juga memasuki kamar Essy yang tidak dikunci. Lalu, arah matanya tertuju pada sebuah foto yang terpampang persis di atas meja kecil yang menyatu pada ranjang. Ya, itu adalah foto dirinya.


Reza pun kembali menyungging senyum, karena ia juga memiliki foto Essy di samping tempat tidurnya.


Satu jam berselang. Essy sampai di apartemennya. Ia menekan passcode dan masuk ke dalam. Ia tak tahu bahwa ada Reza di dalam sana. Essy meletakkan mantel, sepatu dan tas di tempatnya masing-masing. Lalu, ia berjalan menuju kamar. ruangan itu tampak gelap.


Sebelum menyalakan lampu, Essy terlebih dahulu membuka pakaian kerja yang sudah seharian ia pakai. Rasanya hari ini ia benar-benar letih. Setiap hari pekerjaannya selalu banyak.


Setelah menanggalkan pakaiannya asal, ia pun berjalan mencari saklar untuk menyalakan lampu kamarnya. Essy tidak sadar bahwa saat ini ia hanya mengenakan pakaian d*l*mnya saja, karena memang seperti ini keadaan Essy saat pulang kerja. Ia pasti lebih dulu mengonggokkan pakaiannya di lantai, lalu melanjutkan aktivitas lainnya.


Sebelum tangan Essy sampai di saklar itu. Tiba-tiba ia merasakan pinggangnya melingkar sebuah tangan besar.

__ADS_1


“Ah,” Essy tersentak dan matanya melihat ke arah tangan itu dengan jantung berdetak kencang.


“Akhirnya rinduku terobati,” ucap Reza lirih tepat di telinga Essy.


“Ah, Kak.” Essy langsung membalikkan tubuhnya dan tangan Reza langsung menekan saklar lampu itu.


Byar ...


Seketika pandangan Reza tertuju pada tubuh menggoda Essy.


“Ah.” Sontak Essy menyilangkan dadanya. “Kamu.”


Reza tertawa karena ekspresi wajah Essy dan rasa malunya, hingga wanita itu lari terbirit-birit ke dalam kamar mandi.


“Kamu rese banget sih. Bukannya datangnya besok, kenapa sekarang udah di sini?” tanya Essy berteriak dari dalam kamar mandi.


Reza mengikuti Essy dan berdiri di depan pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar Essy. “Aku kangen, Sayang.”


“Tapi kamu ngagetin.”


Reza tertawa. “Sengaja. Berarti surprise aku berhasil.”


Essy membuka pintu itu. “Ngga lucu.” Bibirnya cemberut.


Reza masih tertawa. “Jangan manyun gitu! Nanti aku cium loh.” Ia mengusap pipi Essy.


“Ih, dasar mesum.” Essy berjalan melewati Reza.


Mata Reza tak berkedip karena melihat Essy yang memakai kimono pendek, menampilkan jenjang kakinya yang mulus.


Essy memungut pakaian kotornya yang tergeletak di lantai, membuat Reza menelan salivanya kasar berkali-kali.


“Sy, menikahlah denganku.” Reza memeluk tubuh Essy dari belakang.


Wanita itu pun tersenyum dan menempelkan tangannya di atas lengan kokoh Reza yang tengah melingkar di pinggangnya. “Udah ga sabar ya?”


“Banget. Aku ga tahu bisa tahan apa ngga kalau tinggal di apartemen ini sama kamu. Aku cinta kamu, Sy.”


Essy tertawa dan membalikkan tubuhnya. “Aku juga cinta kamu, Kak. Tapi sabar ya.” Essy mengelus dada Reza. Lalu, Reza mengambil tangan Essy dan mengecupnya berkali-kali.


“Kamu ga kangen aku?” tanya Reza.


“Kangen. Banget malah.”


Keduanya berdiri berhadapan tanpa jarak. Tangan Reza mengusap rambut yang menutupi dahi Essy. Keduanya terdiam dan hanya menikmati sentuhan hingga wajah mereka semakin dekat dan bibir itu menyatu.


“Boleh aku cium bibir kamu?” tanya Reza yang langsung diangguki Essy.


Cup


Reza ******* bibir itu lembut dan dengan gerakan pelan. Ini adalah kali pertama Essy merasakan bibirnya menyatu dengan bibir seorang pria. Lalu, Reza mengajarkan Essy berciuman, menerima setiap belitan lidah miliknya hingga nafas keduanya tersengal.


“Mmmpphh ...”


Reza tersenyum dan mengusap saliva di bibir kekasihnya. “Ini ciuman pertamamu?”


Essy mengangguk. “tapi kita boleh melakukan itu kalau sudah menikah.”


“Melakukan apa?” tanya Reza.


“itu.” Essy menyatukan kedua jari telunjuknya.


“Apa?” tanya Reza pura-pura tidak tahu.


“Itu. kamu pasti lebih tahu karena lebih berpengalaman,” jawab Essy yang keluar kamar dan hendak menyiapkan makanan.


“Apa? Aku ngga tahu,” tanya Reza lagi.


“Bohong. Pura-pura.”


“Beneran. Itu apa sih?” Reza tertawa.


“Tau ah.” Essy memalingkan wajah dan membuka lemari es.


Reza dengan cepat menutup pintu lemari es itu dan mencium bibir Essy kembali. Ini adalah candu bibir kedua setelah dahulu ia candu pada bibir Rara.


Essy melingkarkan tangannya pada leher Reza hingga Reza membawa Essy ke sofa. Mereka pun bercumbu dan tetap pada batasan. Essy juga meminta Reza untuk tidur di sofa, walau pas keesokan paginya ia merasa ada yang memeluknya dari belakang saat tidur.


Ternyata Reza ikut tidur di ranjang yang sama, walau mereka tak melakukan apa pun. Sejak dulu, Reza memang sangat menghargai wanita yang dicintainya. Ia tidak akan melakukan apa pun pada Essy sebelum wanita itu yang mengizinkannya.


“Ck, kamu melanggar janjimu, Kak,” rengek Essy ketika terbangun merasakan hembusan nafas Reza di tengkuknya.


“Maaf, tapi aku ga bisa tidur di sofa.”


“Alasan.”

__ADS_1


Reza tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. “MInggu depan kita menikah,” ucapnya lirih, tapi penuh penekanan.


__ADS_2