Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Mundur perlahan


__ADS_3

“Mbak Cleo ...” teriak Manda dari dalam rumahnya, ketika mendapati Rara yang berdiri di depan pagar minimalis itu.


“Noah ada Bunda nih!” teriak Manda lagi pada putranya sembari berjalan menuju pagar itu untuk dibuka.


“Mba Cleo ... Kangen.” Manda langsung memeluk tubuh Cleo ketika pagar itu sudah terbuka separuh.


Rara menerima pelukan itu, walau masih ada sedikit perih dihatinya, “Sama, aku juga kangen.”


Rara tersenyum pada Manda. Ia menatap lekat wajah wanita muda yang manis ini. Manda sebenarnya adalah wanita yang baik, apalagi ia juga seorang yatim piatu dan kesalahan itu pun bukan keinginannya. Terlalu naif jika Rara menyalahkan Manda dalam hal ini, karena wanita itu memang tidak terang-terangan menggoda suaminya.


“Mba Cleo kenapa?” tanya Manda bingung saat mendapati kedua bola mata yang terus menatapnya.


“Ah, ngga apa-apa,” jawab Rara sembari memutus pandangan beserta isi kepalanya yang saling bersahutan memberi pendapat baik dan buruk tentang Manda.


Manda mengajak Rara masuk ke dalam rumah.


“Una ...” teriak Noah sembari ebrlari ke arah Rara.


Rara pun tersenyum lebar dan membentangkan kedua tangannya sembari berjongkok menerima tubuh anak lelaki yang tengah antusias melihat kehadiran Rara.


“Eum ... kangen Noah.” Rara memeluk erat anak lelaki itu hingga bergoyang ke kiri dan kanan.


“Noah uga angen Una,” jawab anak lelaki yang belum lancar bicara itu.


Rara semakin tersenyum dan memeluknya lagi. Manda yang melihat itu pun tersenyum, pasalnya Noah adalah anak yang tidak bisa dekat dengan orang lain. Sejak kecil anak itu hanya nempel pada Manda atau ayahnya.


“Noah tuh nanyain mba terus dari kemarin. Mungkin karena dia tahu mbak mau kasih mobil-mobilan remot kali ya,” tawa Manda.


Rara melepaskan pelukan pada tubuh Noah dan memberikan bungkusan kado itu. Ia menoleh ke arah Manda. “Iya, mungkin ya. Anak sekarang tahu aja mau dikasih kado.”


Manda tersenyum, begitu pun Rara. Manda melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membuat minuman dingin dan Rara mengikuti langkah Manda, meninggalkan Noah yang asyik membuka bungkus kado itu bersama seorang wanita muda yang bekerja membantu Manda di rumah ini.


“Gimana kemarin acara ulang tahunnya? Lancar?” tanya Rara pada Manda.


Mereka berdiri berdampingan di depan marmer kitchen set.


“Lancar, Mba. Alhamdulillah aku seneng banget akhirnya tetangga udah ngga gunjingin aku lagi. Kedatangan suamiku mematahkan nyinyiran mereka selama ini, karena dia benar-benar sweet. Ya, walau pun dia datang di detik-detik acara akan dimulai. Tadinya aku khawatir kalau dia ngga bisa dateng.”


Suamiku. Dada Rara sedikit sesak ketika Manda menyebut Reza dengan sebutan suamiku.


“Dia juga suamiku,” batin Rara.


“Alhamdulillah. Aku senang mendengarnya,” jawab Rara tersenyum.


“Iya, Mbak sih ngga dateng. Padahal kalau dateng kan kita bisa ngedate bareng. Suami kita bisa saling berkenalan. Seru jadinya, kalau istrinya bersahabat terus suaminya juga.”


Rara tersenyum tipis. Manda tidak tahu saja bahwa suami mereka adalah orang yang sama.


Manda mengaduk gelas yang sudah berisi es batu dan sirup berwarna merah.


Hoek ... Hoek ...; Hoek ...


Tiba-tiba Manda menuju wastafel untuk mengeluarkan isi makanan yang tidak ada isinya. Hanya air liur saja yang keluar dari mulut itu.

__ADS_1


Sontak Rara langsung menghampiri Manda dan memijat tengkuknya. “Kamu masuk angin, Nda? Makanya jangan capek-capek.”


Manda menggeleng. “Ngga masuk angin, Mbak. Emang lagi seperti ini.”


Deg


Jantung Rara tiba-tiba berdetak kencang. “Jangn bilang kalau kamu hamil lagi?” tanyanya dalam hati.


“Kamu?” tanya Rara setengah karena ia tak kuasa mengucapkan kata hamil.


Manda mengangguk. “Iya, Mbak. Aku hamil.”


Jedar


Seakan petir menyambar tubuh Rara. Baru saja, ia akan menerima kedua orang baru ini dalam hidupnya, karena ia menyakini bahwa kehadiran Noah adalah kesalahan dan sang suami tidak akan melakukan kesalahan kedua. Tapi nyatanya Manda mengandung kembali anak Reza yang kedua.


“Aku baru test tadi pagi, eh ternyata garis dua,” ucap Manda santai, tapi tidak dengan Rara yang hanya berdiri mematung di tempatnya.


“Katamu, suamimu tidak pernah menyentuhmu lagi?” tanya Rara.


Manda mengangguk. “Ya, sejak aku melahirkan Noah, dia memang tidak pernah menyentuhku. Hmm ... aku sedih banget mbak. Tapi dua bulan lalu, dia menyentuhku lagi. Entah angin apa, dia tiba-tiba menyerangku dengan buas.”


Rara terdiam. Rasanya ia tidak kuat mendengar cerita Manda. Ia ingin segera pergi.


“Dia bilang dia ingin menyentuhku, ingin memberi kewajibannya sebagai seorang suami, tapi setiap melihatku dia melihat kesalahan pada istrinya dan itu membuatnya tidak bisa melakukan kewajibannya. Tapi waktu itu dia melakukan kewajibannya," ucap Manda dengab senyum berseri.


Dibalik senyum yang berseri itu, ada hati yang tengah sakit. Ya, kini rasa sakit di hati Rara kian bertambah. Ia mencoba mengingat lagi tentang dua bulan lalu. Apa yang terjadi antara dirinya dan Reza dua bulan lalu. Apa waktu itu mereka sedang bertengkar dan Reza melampiaskan hasrat itu pada istri keduanya? Atau saat itu, ia sedang pergi untuk menghadiri acara gathering yayasan?


Mungkin itu kesekian kalinya Reza cemburu pada Raihan yang sering memberi perhatian pada istrinya. Cemburu buta yang menumpuk dan mengantarkan Reza pada kesalahannya yang kedua, walau sebenarnya itu bukanlah lagi disebut kesalahan karena antara Reza dan Manda sudah resmi menjadi suami istri menurut agama.


“Bodoh,” gumam Rara sembari tersenyum tipis.


“Siapa yang bodoh?” tanya Manda sembari memberikan minuman dingin itu pada Rara.


“Ah, ngga. Aku bodoh. Aku lupa kalau ada urusan lain hari ini.”


Rara langsung meraih ponselnya dan meemsan taksi online.


“Loh, mbak. Kok sebentar banget,” kata Manda lirih.


“Iya, Maaf. Nda. Sepertinya aku harus pergi.”


Rara memang harus pergi dan menenangkan dirinya kembali. Sepertinya ia tak jadi mengambil keputusan itu.


“Tapi Mbak, paling ngga minum dulu,” kata Manda berusaha menahan keinginan Rara yang hendak pulang. “Taksinya juga belum datang kan?”


“Ini sudah sampai di depan komplek.” Rara menunjukkan ponselnya pada Manda. Kebetulan driver yang mengambil orderan Rara ada didekat sana.


Rara mengambil tasnya yang ia taruh di sofa ruang televisi. Ia mencium kenging Noah. “Bunda pulang. Kapan-kapan kita ketemu lagi?”


Lalu, Rara menghampiri Manda. “Sampai ketemu, Nda. Sepertinya aku balik ke Jakarta hari ini, ada urusan.”


“Yah, kita ngga bisa ketemu lagi dong, Mbak?” tanya Manda.

__ADS_1


Rara tersenyum. “Kita bukan orang lain, Nda. Mungkin kita akan ketemu lagi.”


Rara melangkahkan kakinya hendak keluar diikuti Manda yang ingin mengantarnya sampai pagar. Kemudian, mereka berdiri di depan pagar.


“Baru aja, aku dapat temen baru. Mbak tuh udah seperti kakakku sendiri,” ucap Manda.


Rara tersenyum. “Jaga baik-baik anak ini. Pasti Reza senang mendengar kabar gembira ini. Dia akan memiliki anak lagi.” Rara mengelus perut rata Manda. Ia miris melihat dirinya yang tak bisa mengandung seperti Manda.


“Mbak kenal suamiku?” tanya Manda terkejut mendengar Rara menyebut nama suaminya.


Suara mobil datang menghampiri ekdua wanita itu. Seorang pria menyembulkan kepalanya dari balik jendela mobil. “Mbak Rara?” tanya si supir taksi itu.


Ya, Rara menggunakan nama panggilan pada akun aplikasi taksi online itu.


“Mbak Rara?” tanya Manda yang tak asing mendengar kata nama itu, karena dulu Doni assisten Reza sering mengucap nama itu dan mengagumi kecantikan istri bosnya.


“Mbak Rara?’ tanya Manda sekali lagi pada rara yang hendak menaiki taksi pesanannya.


Rara mengangguk.


“Ya, aku Cleopatra, biasa dipanggil Rara. Karyawan suamiku juga memanggilnya seperti itu. Kita memiliki suami yang sama, Manda. Aku baru tahu bahwa kamu adalah sekretaris Kak Reza yang dipecat karena membawa dokumen berserta dokumen rumah sakit yang menyatakan operasi pengangkatan rahimku waktu itu. Aku juga baru sadar bahwa kita pernah bertemu dua tahun lalu. Aku yang menyuruh kak Reza melihat ke arahmu, karena waktu itu aku iba melihat kondisimu yang tengah hamil besar dan masih bekerja. Ternyata kalian saling kenal.”


Deg


Manda mematung. Ia tak mampu berkata-kata, karena selama ini ia mencurahkan isi hatinya pada istri yang sanagt dicintai suaminya.


Rara kembali menghampiri Rara dan memegang kedua pundaknya. “Aku senang bisa kenal denganmu. Aku tahu kamu wanita yang baik. Aku tahu kamu tidak berniat mengambil suamiku. Noah memang kesalahan, tapi anak yangs edang kamu kandung saat ini bukan kesalahan lagi. Dan, kini aku tahu apa yang harus aku putuskan.” Tiba-tiba hati Rara mencelos. Sungguh rasanya sakit. Ia harus berpura-pura tegar padahal rapuh.


“Kamu bisa memberikan apa yang tidak bisa aku berikan padanya. Terima kasih. Aku titip dia padamu!” Rara menangis dan segera membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam mobil itu.


“Mbak, Rara. Tidak begitu! Jangan! Mas Reza sangat mencintaimu mbak.” Manda menggedor-gedor jendela mobil itu agar Rara membukanya.


Namun, Rara tetap diam. “Ayo jalan, Pak!” kata Rara pada supir itu.


“Tapi ibu itu masih mau ngomong sama Mbak,” jawab si supir.


“Tetap jalan saja.” Sahut Rara.


“Mbak, Jangan tinggalkan Mas Reza, mbak! Aku mohon.” Manda terus mengetuk jendela mobil yang perlahan bergerak. “Mbak, apa yang aku katakan pada Mas Reza nanti? Dia pasti akan marah karena aku yang menyebabkan istrinya pergi.”


Rara dan mobil itu tetap bergerak dan meninggalkan Manda yang tengah meraung.


“Mbak, Rara.” Manda menangis hingga ia berlutut di atas aspal. “Maafin aku, Mbak.”


Di dalam mobil, Rara pun menangis. Ia berkali-kali mengusap arimata yang terus jatuh di pipinya. Ia butuh ketenangan. Ia butuh sendiri untuk mencerna semua yang terjadi. Lalu, Rara kembali menonaktifkan ponselnya. Ia pun tak ingin menghubungi Zayn karena ia tahu pria itu sedang menjalankan projeknya di sana. Ia tak ingin menganggu.


Pikiran Rara terus menerawang, membayangkan semua yang pernah terjadi antara dirinya dan Reza. Tawa canda dan kebersamaannya dulu saat sebelum mereka menikah. Kemudian seikit berubah ketika mereka sudah menikah. Namun, trngiang lagi kata-kata sang suami yang selalu menymatkan kata cinta di setiap malam dan ketika membuka mata di pagi harinya.


Airmata Rara kembali mengalir. Ia pun ingat saat pertemuannya dengan Manda di restoran itu. Di sana, awal Reza berbohong dengan mengatakan dompetnya tertinggal dan harus kembali ke kasir.


“Apa aku harus melepasmu?” tanya Rara dalam hati sembari memegang dadanya yang terasa semakin sesak.


Ya, sepertinya ia harus mundur perlahan.

__ADS_1


__ADS_2