
“Mommy ...” teriak Zoey, ketika melihat Rara dan Zac yang baru saja memasuki rumah.
Rara dan Zac pulang menggunakan taksi online. Padahal Michelle menawarkan diri untuk menjemput mereka, tetapi Rara melarang agar Michelle tidak meninggalkan Zoey sendiri di sini.
Zoey yang semula duduk di sofa ruang televisi itu langsung bangkit dan berlari menghampiri ibunya.
Rara menangkap tubuh sang putri. “Kamu sudah tidak pusing?”
Zoey menggeleng. “Zoey sudah minum obat tadi.”
Rara tersenyum dan mengusap kepala Zoey. “Pintar, anak Mommy sudah tidak takut minum obat.”
“Kata Daddy, kalau Zoey mau minum obat, besok Mommy ngga ngajar dan temani Zoey di sini.”
Rara mengernyitkan dahinya. Ia kesal dengan Zayn yang selalu menggunakan dirinya untuk mengiming-imingi anak mereka.
“Yeay, Mommy akan mgninap di sini,” ujar Zac yang memang mengetahui bahwa ibunya kan cuti dalam dua hari ke depan. “Zac juga tidak akan masuk sekolah besok.”
“Loh, kok gitu?” tanya Rara.
“Kan, Mommy di rumah sama Zoey. Mommy dan Zoey bermain dan aku sekolah. Tidak mau!”
Zoey bertolak pinggang dan menjulurkan lidahnya pada sang kakak. Anak kecil yang menggemaskan itu meledek saudara kembarnya. “Gantian, Zac. Hari ini aku yang bosan di rumah. Bseok kamu yang bosan di sekolah.”
“Tidak, Mommy. Itu tidak adil. Pokoknya besok aku tidak mau sekolah.” Zac merajuk.
Rara menarik nafasnya. Ia menangkup kedua wajah lucu itu dan mengecup kening mereka. Rara tersenyum. “Untuk besok, kita bicarakan nanti. Yang penting sekarang Mommy disini untuk menemani kalian sepanjang hari.”
“Yeay ...” teriak riang kedua anak kecil itu.
“Mommy menginap disini kan?” tanya Zoey.
Rara tak kuasa menolak permintaan putrinya yang masih terlihat sedikit pucat, karena kemarin ia sudah menolak permintaan Zoey.
Rara mengangguk. “Ya, Mommy akan menginap.”
“Yeay ...” Keduanya kembali bersorak.
Rara tersenyum lebar melihat keceriaan itu. di sana. Michelle yang melihat itu pun tersenyum. Zac berlari ke kamarnya untuk mengganti baju.
“Zoey, duduk lagi ya. Mommy mau ganti baju dan menyiapkan makan siang kita,” kata Rara.
Zoey mengangguk.
Rara memang sudah membawa beberapa pakaian di tas jinjingnya. Ia masuk ke kamar Zoey dan mengganti bajunya di sana dengan pakaian santai dan jilbab langsung.
Setelah itu, Rara beralih ke dapur. Ia melihat Michelle berada di sana. “Kakakmu kemana?”
“Ciye ... nanyain kak Zayn?” tanya Michelle meledek.
Rara tertawa. “Cuma tanya aja.”
__ADS_1
“Ke Bandara, jemput Tante Mirna dan Om Kemal.”
“Oh, mereka datang hari ini?” tanya Rara lagi sembari mengisi gelasnya di dispenser itu.
Michelle mengangguk. Ia hanya tersenyum. Michelle sengaja tidak memberi tahu bahwa kedua orang tua Rara pun akan datang ke rumah ini bersama Mirna dan Kemal.
“Kamu tidak les?” tanya Rara pada adik Zayn.
“Les, tapi malam, karena gurunya sedang ada urusan siang ini.”
“Oh.” Rara menganggukkan kepalanya.
“Oh, iya. Miss. Setelah ini, aku mau jalan-jalan dengan Jack. Tidak apa kan?”
Rara mengangguk. “Tidak apa. Hmm ... tapi, kalian pacaran?”
“Tidak.” Michelle menjawab cepat.
Rara tertawa dan menghampiri meja makan yang sudah tersaji lengkap. Ternyata si Bibi sudah menyiapkan makan siang yang lengkap.
Rara mengajak Zoey menuju meja makan. Di sana, Michelle dan Zac sudah duduk. Rara melayani kedua anaknya. Zac dan Zoey sangat senang. Ia tak lagi merasa kekurangan kasih sayang karena sosok Rara memberi dahaga yang selama ini mereka butuhkan.
“Mommy, aku mau itu.” Zac menunjuk ayam goreng.
“Aku juga mau, Mommy.” Zoey tak mau kalah.
Rara tersenyum. “Ternyata anak Mommy makannya banyak ya.”
Mereka pun tertawa.
“Kalian bisa main ini?” tanya Rara.
“Bisa dong. Kami kan sering main ini dengan Daddy. Kata Daddy, Mommy dan Daddy waktu kecil juga sering bermain mainan ini,” jawab Zac.
Rara tersenyum dan mengelus kepala Zac. “Apalagi yang Daddy ceritakan pada kalian?”
“Kata Daddy dari secil Mommy cantik,” sahut Zac.
“Seperti aku,” celetuk Zoey dengan memasang senyum yang manis, membuat Rara kembali tertawa.
“Ish, kamu percaya diri sekali, Zoey,” ucap Zac tak terima.
“Lalu, Daddy bilang apa lagi?” tanya Rara.
“Kata Daddy, Mommy itu baik, lembut dan tidak pernah marah.” Zac kemabli bersuara.
“Tapi mengapa Mommy marah sama Daddy hingga pergi dari kami?” tanya Zoey yang membuat bibir Rara terkatup dan tak lagi tersenyum.
Rara melebarkan kedua tangannya untuk memeluk dua buah hati yang berada di sisi kanan dan kirinya. Ia pun mengecup lagi pucuk kepala mereka satu persatu.
Zoey menonggakkan kepalanya. “Apapun kesalahan Daddy, maafkan ya Mom.”
__ADS_1
Zac pun melakukan hal yang seperti Zoey. “Iya, Mom. Please!”
Rara tersenyum pada kedua anak kecil itu dengan memandang mereka pergantian.
“Ya, Maafkan kesalahannya, Sayang.” Tiba-tiba, terdengar suara Sanjaya yang berjalan mendekati Rara.
“Ayah,” panggil Rara sesaat setelah ia menoleh ke sumber suara itu.
Rara melepaskan pelukannay pada Zac dan Zoey. Zac dan Zoey berlari ke arah Mirna dan Kemal. Sementara Rara masih berdiri mematung. Ia tak menyangka di rumah ini sudah ada kedua orang tuanya dan dua orang tua angkat Zayn.
Sanjaya berdiri di depan Rara. “Maafkan Ayah juga, Sayang. Ayah telah melakukan kesalahan besar dan membiarkan semua terjadi.”
Sanjaya menangis. Begitu pun dengan Mia yang memang sudah menangis terlebih dahulu di samping suaminya.
Rara pun ikut menangis.
“Maaf, Sayang. Maaf kami banyak menyimpan rahasia padamu. Karena kami pikir ini adalah yang terbaik untukmu. Tapi ternyata pikiran kami salah,” kata Mia lirih.
“Maafkan kami, Nak,” ujar Sanjaya dengan mengatup kedua tangannya memohon ampunan pada sang putri.
“Ayah,” teriak Rara, lalu memeluk Sanjaya. “Bunda.” Ia pun memeluk Mia.
Ketiganya berpelukan erat.
“Nenek ... kakek ...” celetuk Zoey memanggil dua orang asing yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Namun, sesaat sebelum Zayn pergi ke Bandara, Zayn memang mengatakan akan datang kedua orang tua Rara yang merupakan nenek dan kakek mereka.
Sontak Sanjaya dan Mia menoleh ke sumber suara itu. mereka melihat Zoey yang memang mirip Rara kecil.
Mia tersenyum. “Kamu pasti Zoey.”
Sanjaya pun menoleh ke arah Zac dan tersenyum. “Dan, kamu pasti Zac.”
Zac dan Zoey mengangguk.
Mia dan Sanjaya berjongkok dan membentangkan kedua tangan mereka untuk menerima pelukan dari Zac dan Zoey.
“Kami Nenek dan Kake kalian, sama seperti Oma dan Opa karena kami Daddy dan Mommy nya Mommy kalian.”
Zac dan Zoey saling berpandangan. Lalu, mereka melihat wajah Zayn dan Zayn pun mengangguk. Mereka pun langsung berlari ke arah Mia dan Sanjaya.
Mia dan Sanjaya memeluk erat cucunya masing-masing. Sanjaya memeluk Zoey dan Mia memeluk Zac.
Sanjaya sengaja mendekatkan dirinya pada Mia dan Zac. Lalu, ia mereka berempat berpelukan.
“Maafkan Kakek, Sayang. Kakek yang telah memmisahkan kalian dengan Mommy kalian,” ujar Sanjaya dengan meneteskan air mata.
Rara pun menangis melihat pemandangan itu. Ia tak henti mengusap pipinya yang terus basah karena air mata itu terus mengalir, Zayn pun terlihat demikian.
Sedangkan, Kemal memeluk istrinya yang juga menangis.
Akhirnya rahasia besar yang selama ini ditutup dengan alasan kebahagian Rara. Kini, terungkap setelah lima tahun. Dan setelah lima tahun itu pula, setelah begitu banyak hal yang terjadi, Rara baru menyadari pada siapa seharusnya hati ini berlabuh.
__ADS_1
Rara melirik ke arah Zayn yang tengah menatapnya sendu. Mereka berdiri berseberangan dan cukup jauh. Zayn tersenyum pada Rara dan Rara pun membalas senyum itu. Ingin sekali Zayn memeluk Rara juga, seperti Sanjaya dan Mia yang memeluk cucu mereka untuk melepaskan kerinduan.
Zayn membentangkan kedua tagannya ke arah Rara sebagai isyarat untuk dipeluk. Namun dengan cepat Rara menggeleng, membuat Zayn memasang wajah sedih. Dengan terpaksa Zayn memeluk dirinya sendiri dan membuat Rara tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.