
Sejak memutuskan diri untuk sendiri, waktu Reza lebih banyak bekerja. Ia akan berada di kantor ini dari pagi hingga larut malam. Ia juga tahu bahwa ibunya tengah mengajak mantan istri yang ia talak di depan keluarganya itu ke vila mereka. Reza tahu bahwa Mirna memang sudah dekat dengan Noah dan ia membiarkan itu.
Reza keluar dari gedung itu dan memasuki mobil yang baru saja disiapkan oleh petugas di sana. Malam itu Reza sangat malas pulang ke apartemen. Ia merasa kesepian. Reza teringat sebuah tempat, lalu ia melajukan mobilnya ke sana.
Tak lama kemudian, Reza sampai di tempat itu dan memarkirkan mobilnya di sana. Ya, kini Reza berada di Cafe tempat Essy bekerja paruh waktu.
Reza membuka pintu Cafe itu dan benar saja, ia melihat Essy di sana sedang meracik secangkir kopi. Reza pun langsung duduk di depan meja panjang yang sejajar dengan mesin kasir.
Wanita yang bernama Essy itu tengah membelakangi Reza karena wanita itu masih meracik kopi di meja sana.
“Ini buat meja sebelas,” kata Essy pada temannya dan memberikan nampan itu.
“Oke,” jawab teman Essy.
Lalu, Essy membalikkan tubuhnya dan menghampiri Reza yang tengah duduk sambil menunduk memainkan ponsel.
“Oke, Pak. Mau pesan apa?” tanya Essy pada Reza.
Reza menghentikan aktivitasnya dan menonggak. Seketika pandangan mereka bertemu.
“Bapak?” tanya Essy tak percaya bahwa mantan bos yang sampai saat ini masih bosnya, hanya saja ia tak berhubungan langsung dengan Reza lagi, tengah berada di hadapannya.
“Hai Essy. Apa kabar? Kamu bekerja di sini juga?” tanya Reza bertubi-tubi.
“Baik. Hmm ... ya, hanya untuk meluangkan waktu.”
“Oh, meluangkan waktu.” Reza mengangguk-anggukan kepalanya. “Ternyata kamu pekerja keras juga ya.”
“Bapak mau pesan apa?” tanya Essy lagi.
“Vodka,” jawab Reza asal.
“Maaf, Pak. Di sini tidak ada minuman beralkohol. Kalau ingin minuman seperti itu, sepertinya Bapak salah tempat.”
“Kalau begitu temani aku ke tempat itu.”
“Maaf, saya sudah bukan sekretaris bapak. Jadi tidak ada tugas saya untuk menemani bapak.”
Reza tersenyum. Wanita ini memang pintar sekali menjawab.
“Lagi pula, saya tidak ingin menemani orang mabuk dan berakhir menemaninya tidur.” entah mengapa tiba-tiba Essy berkata seperti itu dan seolah-olah tahu semua tentang Reza, walau memang dirinya tahu semua tentang bos nya itu.
Reza mengernyitkan dahinya dengan tampang datar, tapi beberapa detik kemudian ia tersenyum. “Ternyata kabar tentang saya sudah menjadi konsumsi publik?”
__ADS_1
“Tidak juga, hanya segelintir orang saja,” jawab Essy.
“Termasuk kamu?” Reza balik bertanya sambil memandang wajah cantik mantan sekretarisnya.
“Karena saya memang kenal Bapak.”
“Oh ya?” tanya Reza dengan menyipitkan matanya. “Kamu diam-diam mengagumiku?”
Essy tertawa. “Percaya diri sekali bapak nih.” Essy semakin tertawa lebar, membuat Reza pun tersenyum.
“Mengapa saat menjadi sekretarisku, kamu tidak pernah tertawa?” tanya Reza.
“Ya, karena bapak juga ga pernah ketawa. Masa iya saya ketawa sendiri. Nanti di sangka penghuni RSJ.”
Reza tersenyum. Entah mengapa bersama wanita ini, ia merasa nyaman dan sering tersenyum.
“Oh iya, bapak mau pesan apa?” tanya Essy lagi.
“Hmm ... menu kopi terenak di sini.”
“Oke.” Essy membalikkan tubuhnya dan meracik kopi khas yang ditawarkan tempat ini.
Reza mengakui kelezatan kopi yang diracik pada Cafe ini, oleh karena itu ia sering bertandang ke tempat ini. tapi ia tak menyangka bahwa ternyata Essy yang meracik kopi yang selama ini ia minum.
“Sejak kapan kamu kerja di sini?” tanya Reza sambil melihat aktifitas Essy.
“Sejak ayah Bapak memindahkan saya ke bagian administrasi,” jawab Essy jujur.
“Gaji di bagian administrasi kecil?” tanya Reza lagi.
Essy berjalan menghampiri meja Reza dan memberikan kopi itu. “Ya, sangat kecil. Gaji saya turun banyak sekali. Padahal saya membutuhkan itu.”
“Untuk?” tanya Reza tiba-tiba.
Essy menatap wajah Reza tanpa menjawab pertanyaan itu.
“Maaf kalau saya lancang bertanya seperti itu. tapi sepertinya tunggakanmu di kantor juga cukup besar.”
Ya, Essy memang banyak berhutang di perusahaannya, hingga kemarin saat ia mengajukan pinjaman lagi, di tolak.
“Untuk apa?” Reza bertanya lagi.
“Itu bukan urusan bapak,” jawab Essy yang hendak meninggalkan Reza. Wanita itu memang tidak pernah mengumbar masalahnya, sehingga tidak ada orang yang tahu bahwa dibalik cerianya seorang Essy memiliki kehidupan yang berat.
__ADS_1
Dengan cepat Reza memegang lengan Essy yang hendak meninggalkannya. “Aku sudah minta pada managermu untuk ditemani olehmu. Jadi temani aku.”
Essy melirik ke arah seorang pria paruh baya yang juga tengah menatapnya. Pria itu mengangguk, membuat Essy kesal.
“Duduklah!” pinta Reza.
Essy menghembuskan nafasnya kasar dan dengan terpaksa duduk di depan Reza.
“Hingga saat ini aku tetap bos kamu, walau kamu ga berhubungan langsung denganku. Aku juga harus tahu apa yang terjadi dengan karyawan-karyawanku. Jadi katakan untuk apa uang-uang itu?”
Essy mengernyitkan dahinya dan tersenyum. “Sejak kapan seorang Fahreza Pradipta peduli dengan orang lain?”
“Sejak saat ini.”
Essy tertawa. ia menatap wajah Reza yang serius, lalu tertawa lagi.
“Kok ketawa. Aku serius,” kata Reza sambil menatap lekat wajah Essy.
“Oke ... Oke ...” Essy memelankan tawanya. “Ibu saay sakit, Pak. Sudah empat bulan beliau harus hidup dengan bantuan peralatan rumah sakit itu. biayanya pun tidak sedikit. Jadi ya, saya harus bekerja keras untuk itu. karena hanya dia yang aku punya di dunia ini.”
Suara Essy terdengar lirih ketika sampai di kalimat belakangnya.
Reza pun tahu itu. Ia memang pernah melihat Essy di sebuah rumah sakit. Kepalanya mengangguk. “Kalau butuh bantuan, jangan sungkan untuk meminta padaku!" ujarnya.
“Kenapa? Kenapa tiba-tiba bapak seperti ini?” tanya Essy yang bingung dengan sikap Reza.
Reza mengangkat bahunya. “Entahlah, mungkin sisi kemanusiaanku sedang muncul.”
Essy menatap lekat wajah Reza yang sedang meminum kopi buatannya tadi, lalu meletakkan kembali cangkir itu. kemudian, Reza menengadahkan wajahnya dan melihat ke arah Essy yang tengah menatap ke arahnya.
Sepersekian detik, keduanya saling menatap. Jantung Essy berdetak kencang. Pria yang pernah menjadi idolanya sejak SMA, saat pria itu menolongnya pada masa orientasi. Tapi sayang, Reza sama sekali tidak meliriknya, karena saat itu Rara adalah primadona seangkatan. Hampir semua pria disekolahnya saat itu tertuju pada Rara dan Hingga saat Essy bergabung di perusahaan Reza, pria itu pun tak mengenalnya. Padahal mereka sempat satu almamater walau saat itu Essy baru masuk dan menjadi siswa di sekolah favorit itu, sedangkan Reza menjadi kakak kelas sekaligus ketua Osis dan me-orientasi dirinya bersama teman-teman seangkatannya waktu itu. Essy hanya menyukai dan mengagumi Reza dari jauh tanpa pernah ingin meraih pria itu, karena Essy sadar batasannya.
“Apa sebelumnya kita pernah bertemu?” tanya Reza.
Essy tertawa. “Ya, kan saya mantan sekretaris bapak. Pasti kita pernah bertemu.”
“Bukan. Maksudku, apa dulu kita pernah satu sekolah?” tanya Reza lagi.
Essy menggeleng. “Sepertinya engga. Karena saya rakyat jelata, Pak. Nggak mungkin juga bersekolah di sekolah yang sama dengan bapak,” jawab Essy bohong.
Essy memang terlahir dari keluarga kaya. Itu pun karena ibunya menikah dengan seorang laki-laki dari keturunan kaya raya. Ayah Essy seorang pengusaha yang memang sudah lahir untuk menduduki jabatan itu. Namun sayang, saat ia SMA, sang ayah menduakan ibunya hingga sang ibu depresi dan jatuh bangun untuk tetap berdiri. Untung Essy wanita yang tidak cengeng dan mampu membantu sang ibu untuk bangkit. Hingga saat lulus SMA, Essy harus mengubur dalam-dalam cita-citanya sebagai dokter, karena sang ayah memilih hidup dengan istri keduanya dan menceraikan sang ibu.
Essy kuliah di kampus yang terjangkau dengan jurusan apa saja, yang penting ia mampu membuktikan pada sang ayah bahwa dirinya bisa sukses tanpa bantuan pria yang telah menoreh luka pada ibunya. Ia kuliah sambil bekerja. Namun, di saat ia selesai kuliah dan bekerja di perusahaan Reza, sang ibu di vonis gagal jantung sehingga Essy harus berhutang pada kantor untuk biaya operasi sang ibu yang harus dilakukan beberapa kali.
__ADS_1