Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Hari-hariku tidak lebih baik darimu


__ADS_3

Zayn membaca pesan Jack. Ia tersenyum. Takdir memang aneh, selama ini ia selalu menghindari Rara. Bahkan ia pun memilih berada di pinggir kota Jakarta, agar tidak bertemu dengan masa lalunya. Namun, masa lalu itu selalu saja mengikuti. Apakah ini takdir?


Sepertinya ada benarnya juga perkataan Jack. Ia harus lebih cepat bergerak. Tidak ada salahnya kembali memperjuangkan Rara, siapa tahu kali ini nasib baik berpihak padanya.


Zayn kembali tersenyum dan bersemangat.


“Di mulai dari Reihan,” gumamnya sembari tersenyum.


Ya, lepas isya ia akan ebrtandang lagi ke rumah Reihan untuk silaturahim sekaligus membawa sedikit oleh-oleh dari Paris. Seperti yang sudah ia lakukan pada beberapa tetangga terdekat, membawa sedikit oleh-oleh sebagai salam kenal.


Satu jam, dua jam, riga jam berlalu, hari semakin malam. Adzan isya pun sudah terdengar. Setelah melakukan kewajibannya, Zayn bersiap untuk ke rumah Reihan. Ia ingin mencari tahu tentang Rara dari pria itu, sekaligus mencari tahu sejauh mana kedekatan mereka.


Di apartemen, Rara baru saja selesai membersihkan pakaian kotor. Ia sengaja menunggu mesin penegring itu berbunyi sembari menikmati semangkuk mie instant kuah yang super pedas. Seperti ini saja, ia sudah bahagia.


Berbanding terbalik dengan Manda dan Reza yang berada jauh di kota tempat tingga Rara dan Zayn kini.


Seperti biasa, Reza tetap berkunjung ke rumah itu dua minggu sekali untuk Noah. Manda semakin tak bisa menjangkau suaminya, karena komunikasi diantara mereka praktis tidak pernah terjalin. Bahkan Manda pun pasrah jika Reza memiliki wanita lain di luar sana, karena wanita hamil itu sama sekali tidak tahu apa kegiatan suaminya dan kemana saja suaminya eprgi. Ingin sekali Manda bertanya tentang hal itu, tapi lidahnya serasa terkunci. Ia takut, Reza akan marah.

__ADS_1


“Mas, Noah menanyakan janji Mas untuk mengajaknya ke kebun binatang,” ujar Manda ketika emreka tengah menikmati makan malam.


Reza mengangguk sembari tetap mengunyah makanannya. Ia menoleh ke arah Noah yang duduk dengan tempat duduknya sendiri. Anak kecil itu pun tengah menikmati makanan yang dimasak langsung oleh ibunya.


“Kamu mau ke kebun binatang?” tanya Reza sembari mengelus rambut Noah.


Noah mengangguk. “Ya, Papa.”


Reza tersenyum. “Baiklah, besok kita akan ke sana.”


“Yeeaaay ...” Noah berosrak dengan mengangkat kedua tangannya ke atas.


Setelah menikmati makan malam, Reza kembali menemani Noah bermain. Ia juga sesekali melihat ke arah ponselnya.


Reza tetap penasaran dimana Rara tinggal sekarang, hingga ia menyewa jasa detektif untuk mencari keberadaan wanita yang masih ada di hatinya dan tetap selalu ada.


Sudah lima hari detektif itu Reza sewa, tapi sepertinya belum ada tanda-tanda. Detektif itu mengintai kediaman Sanjaya dan Mia. Namun, orang itu tak melihat Sanjaya atau pun Mia bertandang ke tempat tinggal putrinya, sehingga sampai dengan hari ini ia masih belum bisa memberi kabar baik pada Reza. Pernah satu hari orang suruhan Reza itu membuntuti Reihan seperti yang diperintahkan Reza. Namun, orang itu pun tak mendapati Reihan yang sedang bersama Rara, karena memang ketika di hari kerja, Reihan dan Rara sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.

__ADS_1


“Ah, si*l,” gumam Reza sembari melempar ponselnya ke meja itu. “Dimana kamu, Ra?” tanyanya dengan gumaman yang cukup terdengar.


Manda yang baru saja ingin berkumpul dengan anak dan suaminya itu pun mendengar perkataan Reza tadi. Ia yakin suaminya masih memikirkan mantan istrinya itu, karena Manda sadar bahwa Cleopatra adalah wanita yang dicintai suaminya.


Manda tidak jadi berkumpul bersama anak dan suaminya di ruang keluarga. Ia memilih masuk ke dalam kamar dan mengambil ponselnya. Ia mencoba mendial nomor Rara, tapi tetap tidak aktif. Nomor itu memang sengaja Rara non aktifkan karena saat ini ia sudah menggantinya dengan nomor baru.


“Mbak Rara dimana? Aku ingin curhat seperti dulu. Benar katamu, Mbak. Kalau aku tidak bisa pergi karena ada Noah dan anak ini.” Manda mengelus perutnya. “Jika belum ada mereka, aku pun akan pergi jauh.”


Manda menangis. Ia terjebak dengan cinta yang semu. Cinta yang tak akan pernah bisa ia raih. Manda hanya bisa berdoa agar ada keajaiban sehingga Tuhan meluluhkan hati Reza dan sedikit ada celah di hati pria itu, agar sikapnya tidak se dingin sekarang.


Manda kembali menangis. Memang dari awal ia sudah salah karena menyukai pria beristri. Seharusnya ia tidak menerima tawaran Reza yang ingin bertanggung jawab dan menikahinya. Cukup ia melahirkan anak itu dan memberikannya pada Reza, lalu eprgi. Tapi ia juga menyayangi anak yang telah ia lahirkan itu dan ia juga menyayangi pria yang telah memberinya keturunan.


“Sampai kapan kamu ngertiin aku, Mas,” teriak Manda yang lelah dengan keadaan ini.


Di balik pintu, Reza hendak ke kamar dan mendengar teriakan serta rintihan itu. sebenarnya ia juga kasihan melihat Manda yang selalu ia acuhkan, apalagi wanita itu sedang hamil. Tapi, Reza tidak bisa berbasa basi. Ia melakukan yang memang seharusnya ia lakukan.


Seperti yang sebelumnya Reza katakan pada Rara sewaktu rara meminta ditalak, bahwa hari-hari Reza tidak lebih baik dari Rara setelah wanita itu meninggalkannya. Kini, kata-kata itu pun terbukti, hari-hari Reza memang tidak lebih baik dari hari-hari Rara.

__ADS_1


Kini hari-hari Rara dipenuhi canda tawa dari anak didiknya yang imut, lucu, dan menggemaskan. Tidak ada raut yang menggambarkan kesedihan paska perpisahannya dengan Reza, bahkan hingga saat ini Rara tidak lagi meneteskan airmata. Ia sudah merasa bahagia dicintai oleh murid-murid juga teman-temannya. Di tambah setelah ini bisa dipastikan Rara semakin bahagia karena kehadiran Zac dan Zoey di sekolah.


__ADS_2