Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Ke supermarket bersama


__ADS_3

“Miss ngga usah pulang. Nginep aja di sini,’ ujar Bintang, setelah mereka menikmati makan malam yang dimasak oleh Rara sore tadi.


“Bi, ngga boleh gitu donk! Miss Rara kan capek dari pagi aktifitas. Miss Rara juga butuh istirahat,” sahut Reihan.


“Kan bisa tidur di sini, Pi.” Bulan bersuara.


“Iya, Pi. Lagian besok kan kita mau ke supermarket. Jadi sekalian jalan dari sini aja bareng.”


“Kok jadi kamu yang ngatur sih, Bi.” Reihan mengeryitkan dahi sembari tersenyum, karena ia pun senang jika Rara mau menginap di rumah ini.


Rara terdiam dan menatap Bulan Bintang bergantian. Kedua anak itu tampak memelas, menampilkan raut wajah sedih yang di buat-buat.


Rara tersenyum. “Miss ngga ada baju ganti, Sayang.”


“Baju punya Mami banyak,” jawab Bintang cepat.


“Bintang.” Reihan memperingatkan putranya. Ia tak ingin Rara justru menjauh karena ketidak nyamanan ini.


Rara menoleh ke arah Reihan, karena seperti sang ayah hendak memarahi putranya. “Engga apa, Mas.”


“Ra, kalau kamu capek dan mau istrirahat ngga apa-apa. Bintang ngga usah di denger. Dia emang banyak maunya.”


Reihan kembali menatap Bintang. “Jangan minta yang aneh-aneh, Bi!”


Bintang pun menunduk.


Sepertinya memang Bintang yang paling membutuhkan sentuhan seorang ibu, walau Bulan juga, tetapi Bintang terlihat lebih kentara bahagia setelah adanya kehadiran Rara. Anak laki-laki yang sok dewasa itu merasakan persamaan rasa antara Rara dengan ibu yang melahirkannya.


Dan, Rara pun bisa merasakan apa yang Bintang rasakan. Ia tak kuasa menolak kebahagiaan Bintang dan Bulan. Sungguh sayang melewatkan senyum Bulan dan Bintang yang menggemaskan itu.


“Tidak apa-apa, Mas.” Rara kembali tersenyum ke arah Bintang dan Bulan bergantian. “Senyum dong, Mamas.”


Rara mencoba merayu Bintang dan mencubit dagunya. Kebetulan Bintang duduk di samping Rara. Sedangkan Reihan di seberang Rara dan Bulan di seberang Bintang.


“Ra, tidak apa. Nanti Bintang biar aku yang urus.”


Rara tersenyum tipis ke arah Reihan dan kembali pada Bintang. “Ya udah deh, Miss nginep. Tapi senyum dong.”


Sontak Bintang mengalihkan pandanganya langsung ke arah Rara.

__ADS_1


“Beneran Miss?” tanyanya.


Rara mengangguk. “He em.”


Bintang langsung sumringa dan memeluk kepala Rara. Di seberang kursi Bintang, Bulan langsung bangun dan berlari ke arah Rara. Gadis kecil yang cantik itu pun memeluk Rara. Sekeika tubuh Rara tak terlihat karena dipeluk oleh kedua anak kecil yang kegirangan. Mereka bertiga tetrawa dan saling berpelukan.


Sementara, Reihan sangat senang melhat pemandangan itu. Pasalanya Bulan dan bintang tidak mudah dekat dengan orang lain. Bahkan ia harus berpuluh-puluh kali mengganti pengasuh karena tingkah Bulan dan bintang yang sering membuat pengasuhnya tidak betah.


Reihan tersenyum melihat kedua anaknya yang begitu bahagia hanya karena Rara menginap di rumah ini, malam ini.


“Miss nanti tidur di kamar Bulan ya.”


“Ngga, Miss nanti tidur di kamar Mams.”


“Ih, ngga. pokoknya di kamar Bulan.”


“Kamar Mamas.”


Bulan dan Bintang beradu mulut untuk bisa tidur bersama Rara.


“Ya sudah Bulan, Bintang, dan Miss Rara tidur di kamar utama saja. Biar Papi tidur di kamar Bintang,” ucap Reihan memberi jalan tengah.


“Ngga Mas, aku ngga enak kalau tidur di kamar utama.” Rara menggeleng.


“Ngga apa-apa, Ra. Soalnya hanya kamar itu yang muat untuk bertiga.”


“Iya, Miss ngga apa-apa,” sahut Bulan dan Bintang pun menganggukkan kepalanya.


“Ish, kalian ini pemaksa.” Rara mencubit ujung hidung Bulan dan Bintang membuat kedua anak kecil itu tertawa hingga jejeran gigi susu itu terlihat.


Di rumah Zayn. Ia beserta sang adik dan kedua anaknya menemapti rumah baru. Mereka masih berkemas, mengeluarkan pakaian dari koper dan merapihkannya ke lemari. Untung saja Jack sudah menyiapkan pembantu rumah tangga di sana, sehingga Zayn dan Michelle merasa sangat terbantu. Jack pun masih belum pulang dan membantu bos sekaligus temannya berbenah.


“Tidak ada es krim,” ucap Zoey lemas.


Zac dan Ziey berada di dapur, karena mereka kembali lapar setelah satu jam menikmati makan malam.


“Dad, tidak ada makanan kah?” tanya Zac dengan suara yang cukup keras, ketika membuka lemari es di dapur.


Zayn, Michelle, dan Jack baru saja selesai berbenah dan duduk di ruang televisi.

__ADS_1


Zac dan Zoey berlari dan duduk di samping ayahnya.


“Dad di lemari es tidak ada makanan apapun,” kata Zoey.


“Ya, Dad. Tidak ada camilan yang bisa kami makan,” sahut Zac.


“Tidak ada es krim.” Gadis menggemanskan itu menggelengkan kepala hingga kedua kuncirnya itu bergoyang.


Zayn tertawa dan mencubit ujung hidung Zoey. Zoey yang merajuk, mirip sekali Rara yang sedang merajuk. “Papa memang belum membeli persediaan makanan, Sayang.”


“Bagaimana kalau besok kita ke supermarket?” tanya Zac memberi usulan pada sang ayah.


“Apa kamu tidak lelah? Besok istirahat dulu di rumah, oke! Kemarin kita shearian di pesawat dan sekarang berbenah. Kasihan Michelle.”


“Aku ngga apa-apa, malah suka kalau jalan-jalan,” ucap Michelle.


“Tuh, Michelle saja tidak keberatan, Dad,” ucap Zac.


“Jack, kau mau ikut?” tanya Zayn pada asistennya.


Jack mengangguk. “Boleh.”


“Ish, ngapain sih kamu ikut,” kata Michelle kesal, tapi Jack hanya tertawa meledek ke arah gadis cantik itu.


“Kalau begitu kamu tidak usah pulang Jack. Menginaplah di sini dan besok kita berangkat bersama.”


“What?” tanya Michelle terkejut. “Kita tidak punya kamar lebih. Di sini hanya ada empat kamar dan semua sudah terisi penuh.


“Jack bisa tidur dengan Zac,” jawab Zayn.


“Atau kalau perlu aku tidur di kaamr Michelle,” ucap Jack meledek adik Zayn.


“Crazy.” Michelle bangkit dari duduknya dan melangkah pergi dari tempat itu sembari menghentakkan kakinya.


Zayn dan Jack pun tertawa.


“Jack, kau jahat. Kau membuat Michelle kesal,” kata Zoey mengomel.


Zayn dan Jack kembali tertawa. sedangkan Zac sudah berfokus pada i-padnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2