
Rara langsung memesan ojek online dengan lokasi tujuan yang telah di share Michelle. Hanya lima belas menit, Rara sampai di rumah Zayn. Ia tahu komplek ini dan rumah ini, karena ketika datang ke rumah Reihan, Rara selalu melewati rumah ini. Namun, ia tak tahu jika rumah ini adalah rumah Zac dan Zoey.
Ting Tong
Rara menekan bel rumah itu berulang, hingga si Bibi keluar. Michelle tidak bisa meninggalkan Zoey karena ia menekan luka itu agar tak mengeluarkan darah banyak seperti yang diperintahkan Rara.
Si Bibi langsung membuka gerbang dan mempersilahkan Rara masuk.
Rara memasuki rumah itu tergesa-gesa, seperti si Bibi. Namun sesaat ketika kakinya memasuki ruang tamu. Ia terkejut dengan foto Zac dan Zoey bersama Zayn.
“Zayn,” ucap Rara lirih.
“Iya, Bu guru. Itu Daddynya si kembar,” sahut si Bibi yang mendengar gumaman Rara.
Deg
Jantung Rara seolah keluar dari tempatnya ketika mendengar penuturan asisten rumah tangga itu.
“Apa?” tanya Rara lagi.
“Iya, Bu guru. Ayo ke atas!” Si Bibi mengajak Rara menaiki anak tangga.
“Michelle, kakaknya Zac dan Zoey?” tanya Rara pada si Bibi sembari ebrjalan menuju tangga.
“Bukan Bu Guru, Non Michelle itu adiknya Tuan Zayn.”
“Adik?” tanya rara lagi dalam gumamannya.
Rara terperangah lagi ketika melihat berbagai foto yang terpajang di dinding saat ia menaiki tangga. Foto itu di isi oleh pose Zayn, Zac, dan Zoey yang sedang tertawa. Rara semakin bingung. “Apa Zayn sudah menikah dan punya anak? Banyak sekali pertanyaan di benaknya.
“Atau Zac dan Zoey?” tanya Rara dalam hati. Ia ingat perkataan Reza. “Zac dan Zoey buah hatiku? Hasil dari kejadian malam itu?”
Rara terus berjalan mengikuti si Bibi dan memasuki ruang kerja Zayn. Ia semakin terkejut dengan isi ruangan itu yang menampilkan begitu banyak foto dirinya. Rara menjadi tidak fokus. Gerakannya lambat, sedangkan Michelle di sana menunggu Rara untuk memberikan pertolongan pertama pada Zoey.
Sementara Zayn, baru saja tiba di bandara Soekarno Hatta. Ia baru saja mengaktifkan ponselnya dan tertera nomor panggilan yang banyak dari Michelle dan si Bibi. Lalu, Zayn membuka pesan singkat sang adik.
“Kak, Zoey kecelakaan. Cepat pulang.”
Sontak Zayn berlari keluar dan meminta Jack untuk cepat mencari mobil.
“Miss, tolong!” teriak Michelle ke arah Rara dan Rara baru tersadar.
Rara langsung belari menghampiri Zoey. Ia merutuki dirinya yang malah memikirkan Zayn dengan segala foto yang ada di dalam rumah ini.
“Aku tahu, Miss bingung. Nanti akan aku jelaskan tapi tolong ajak Zoey agar mau dibawa ke klinik,” kata Michelle.
“Zac dan Zoey anakku?” tanya Rara pada Michelle.
Michelle mengangguk.
Sementara Zac juga menangis sembari menenangkan saudara kembarnya yang terus menangis dan mengaduh kesakitan.
“Ya Tuhan.” Rara langsung memeluk Zac dan Zoey.
“Ayo, Miss. bujuk Zoey untuk ke dokter,” kata Michelle lagi.
Rara benar-benar tak percaya dengan semua ini. Ia seperti mimpi memiliki dua anak yang pintar dan menggemaskan ini. Ternyata perasaaan bahagia ketika bertemu kedua anak kecil ini memang beralasan.
“Miss, Ayo!” Michelle tak sabar melihat gerakan Rara yang lambat dan terus memeluk tubuh Zoey dan Zac.
Rara melonggarkan pelukannya pada si kembar dan mendekati Zoey.
Rara langsung memohon pada Zoey. “Sayang, ayo dioabati! Kita ke klinik.”
__ADS_1
“Tidak mau. Aku takut Miss. nanti dijahit.”
Rara langsung menggendong tubuh Zoey sembari berbincang lembut. “Tidak apa dijahit. Tidak sakit kok. Nanti Miss Rara pasti temani, kebetulan dokternya teman Miss. nanti dia Miss bisikin supaya ngejahitnya jangan kencang-kencang jadi Zoey ngga kesakitan.”
“Benarkah?” tanya Zoey.
Rara mengangguk. “Benar, Sayang.”
Tiba-tiba, Rara sudah membawa Zoey tepat di dalam mobil. “Zoey dibelakang di temani Kakak Michelle. Mommy di depan sama Zac. Oke.”
Rara tanpa sengaja menyebut dirinya 'mommy'.
Zoey mengangguk patuh, seolah terhipnotis oleh perkataan sang ibu.
“Mommy?” tanya Zac pada Rara yang menyebut dirinya seperti itu.
Rara menoleh ke arah Zac sembari menjalankan mobil Michelle. “Iya, Sayang.”
Rara tersenyum bahagia dan Zac memeluk Rara. Zoey pun tengah memajukan tubuhnya dan hendak melakukan yang sama seperti Zac. Namun, Michelle menahannya untuk tetap duduk tenang.
Beberapa menit kemudian, Rara tiba di klinik dan berhasil membawa Zoey menemui dokter. Doktet itu segera melakukan tindakan pada dahi Zoey yang robek. Walau awalnya penuh dengan drama dan tangisan keras serta sedikit tantrum pada Zoey yang pobia akan jarum suntik. Namun, Rara sebagai ibu dengan sabar menenangkan dan menemani putrinya, hingga jahitan di dahi itu pun selesai.
“Nah, tidak sakit kan?” tanya dokter ketika ia memasang perban dan memberi plester untuk menguatkan perban itu.
“Sakit, Dokter. Uuuuu ...” Zoey masih menangis. Namun, kini tangisannya tidak lagi kencang.
Dokter itu melakukan tindakan dengan Zoey yang masih berada dalam gendongan Rara. Anak itu tidak ingin lepas dari ibunya sama sekali.
“Michelle, kapan Daddy datang?” tanya Zac yang masih duduk menunggu Rara dan Zoey keluar.
Zac ditemani Michelle duduk di sana.
“Sebentar lagi, Zac,” jawab Michelle.
Di dalam ruangan, Rara masih bebincang dengan dokter yang menangani Zoey.
“Saya resepkan obat untuk pereda nyeri dan lukanya agar tidak infeksi,” kata dokter itu lagi.
Rara mengangguk.
“Aku tidak mau minum obat,” ucap Zoey merengek.
“Tolong berikan obat dalam bentuk sirup ya, Dok,” kata Rara.
Dokter itu tersenyum dan mengangguk. “Baik, Bu.”
Lalu, Rara kembali menanyakan perihal merawat luka paska jahitan hingga mengering dan sembuh.
Di luar sana, Zayn baru saja tiba di klinik. Ia segera kaluar dari taksi dan masuk ke dalam klinik yang cukup besar itu.
“Zac,” panggil Zayn dengan berlari ke arah tempat duduk Zac dan Michelle. “Dimana Zoey?”
“Di dalam,” jawab Michelle.
“Di dalam bersama Mommy.” Zac pun menjawab.
“Mommy?” tanya Zayn bingung. “Mommy datang ke sini?”
Zayn pikir adalah Clara, ibu sambungnya yang juga dipanggil Zac dan Zoey dengan sebutan itu.
“Bukan Kak, Bukan Mommy Clara,” kata Michelle.
Kemudian, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, menampilkan Rara yang tengah menggendong Zoey. Rara menatap tajam ke arah Zayn, seolah ingin menelan pria itu hidup-hidup.
__ADS_1
“Rara,” panggil Zayn.
Zayn segera menghampiri Rara dan Zoey. “Sayang, Bagaimana keadaanmu?” Lalu, Zayn beralih ke arah Rara. “Bagaimana Zoey, Ra?”
Namun, Rara hanya diam dan masih menatap tajam ke arah Zayn. Ia berlalu dari hadapan Zayn dan mendudukkan Zoey di kursi tunggu.
“Jack, tolong bawa mereka ke rumah!”
Jack mengangguk dan mengerti. Zayn dan Rara memang butuh waktu untuk bersama dan menjelaskan yang sudah terjadi.
“Zoey tidak mau pulang. Zoey mau sama Mommy.”
“Iya, Sayang. Nanti Mommy ke rumah. Kamu istirahat dulu sama Uncle dan Aunty. Oke!”
Tak lama kemudian, Zoey mengangguk patuh.
Lalu, Rara mengelus kepala Zac dan Zoey hingga kedua anak itu pergi ditemani Jack dan Michelle. Kemudian, Rara berlalu dari Zayn menuju bagian Farmasi.
“Ra.”
“Diam! Apalagi yang kamu sembunyikan dariku? Apa?”
Zayn dan Rara berdiri di depan loket farmasi.
“Ke loket pembayaran dulu ya, Bu. Nanti kembali ke sini dan ambil obatnya,” ucap petugas farmasi yang berdiri di depan Rara.
Rara tersenyum pada petugas farmasi itu. lalu, cemberut lagi di depan Zayn. “Bayar ini!”
Rara memberi kertas pembayaran klinik pada Zayn dan Zayn menarik nasanya kasar. Ia menerima kertas itu dan pergi dari hadapan Rara. Sementara Rara duduk di ruang tunggu.
Zayn melakukan tugasnya. Ia membayar dan mengantri di kasir juga mengantri di bagian farmasi. Setelah semua selesai, ia kembali mendekati Rara.
Zayn duduk di samping Rara. Namun, Rara melengos dan menghindari Zayn, karena saat ini Rara tengah menangis. Ia masih kesal dengan pria ini.
Zayn berusaha berada di hadapan Rara, agar wanita itu menatapnya, tetapi lagi-lagi Rara menghindar.
Sontak, Zayn menarik tangan Rara untuk bangun dari tempat duduknya menuju ke sebuah tempat yang sepi. Lalu, ia memojokkan tubuh Rara ke dinding dan menguncinya.
Zayn menatap wajah Rara dekat dan Rara pun begitu. Mereka saling berhadapan tanpa jarak.
“Apa?” tanya Rara menantang. “Mau minta maaf? Basi.” Rara kembali melengos.
Zayn memegang dagu Rara dan memutarnya agar mereka kembali bertatapan. “Aku bisa jelaskan semua ini, Ra.”
“Jelaskan apa, Zayn? Kamu selalu membuatku kecewa, tapi si*lnya aku tidak bisa membencimu.” Rara menangis dan Zayn langsung memeluk tubuh rapuh itu.
Rara memukul dada Zayn. “Kamu jahat Zayn. Kamu jahat. Aku kesal. Aku marah.” Rara meraung dalam dekapan itu.
“Pukul aku, Sayang. Pukul. Aku pantas menerima marahmu, tapi aku mohon jangan membenciku.” Zayn pun terisak. “Saat itu aku tidak punya kekuatan untuk menmgambilmu, Ra. Bahkan untuk bertanggung jawab saja, aku tidak bisa.”
Keduanya kini menangis.
“Aku pelaku dan aku tidak bisa menentukan apa yang aku mau waktu itu. Aku hanya bisa menyerahkanmu pada orang yang pantas dan dapat membahagiakanmu,” kata Zayn lagi.
“Kamu pikir aku bahagia? Kalian telah menipuku, membohongiku,” teriak Rara.
“Aku juga, Ra. Aku juga menderita. Untung ada Zac dan Zoey yang menguatkan hidupku.”
Lalu, Rara mendorong tubuh Zayn agar tak memeluknya lagi. Kemudian, ia menghapus airmata yang mengalir dipipinya. “Antar aku pulang!”
“Ke apartemen?” tanya Rara.
“Bodoh. Ke rumahmu lah. Zoey menungguku.” Rara langsung berlalu dari hadapan Zayn.
__ADS_1
Seketika bibir Zayn menyungging senyum sembari menghapus jejak airmata yang juga membasahi pipinya. Lalu, dengan semangat Zayn keluar klinik dan memanggil taksi yang kebetulan sudah berjejer rapih di depan lobby.