Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Biarkan aku bahagia


__ADS_3

"Kasihan Noah. Dia pasti menanyakan ayahnya.” Rara mengaduk coklat hangat yang baru saja tersaji. Ia masih enggan menjawab pertanyaan Reza. “Kasihan Manda juga, wanita hamil itu ingin selalu dekat dengan suaminya, Kak.”


“Ra,” panggil Reza lirih. “Tolong jangan bicarakan mereka!”


“Mereka sudah menjadi bagian keluarga kamu, Kak.”


Reza meraih tangan Rara dan menggenggamnya. “Aku akan ceraikan Manda.”


“Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...” Rara tersedak dan menaruh gelas yang semula ia teguk. “Apa kakak gila? Manda sedang hamil dan tidak sah menalak wanita yang sedang hamil.”


“Kalau begitu, aku mohon. Tunggu hingga Manda melahirkan. Kita akan merawat Noah dan anak yang dikandung Manda. Kamu bersedia ‘kan?”


Rara menggeleng. “Kamu masih saja egois, Kak. Bagaimana kalau Manda mendengar perkataan kamu ini. Dia pasti sakit hati. Mengandung dan melahirkan itu butuh perjuangan yang besar, lalu aku mengambilnya begitu saja. Aku juga perempuan, Kak. Aku tidak bisa seperti itu.”


“Sayang, aku mohon. Aku bisa gila tanpamu. Tolong, jangan tinggalkan aku!”


Rara meletakkan tanganya di atas punggung tangan Reza. “Bisa, Kak. Percayalah! Kamu bisa hidup tanpa aku. Di sana ada wanita sempurna yang bisa menggantikan aku.”


Reza menggeleng. Kini, airmatanya mengalir. “Ngga, Sayang. Ngga bisa.”


Rara menarik nafasnya dan menguatkan Reza, kalau mereka bisa berpisah baik-baik. “Kamu pria sempurna dan pantas mendapatkan wanita sempurna seperti Manda. Sedangkan aku, tidak sempurna, Kak.”


Reza kembali menggelengkan kepalanya. Ia menarik tangan Rara dan menciumnya berkali-kali. Telapak tangan Rara pun sudah dibasahi oleh airmata itu.


Sungguh, Rara ikhlas melepas Reza. Entah mengapa justru hari ini ia terlihat lebih plong dan segar dibanding hari kemarin.


Di pertiga malam tadi, Rara sengaja meminta Mia untuk di bangunkan. Ia bersimpuh untuk sholat tahajud hingga adzan subuh tiba. Saat itu, ia menumpahkan segala rasa di hati pada sang khalik, hingga pagi ini entah mengapa keikhlasan dan kekuatan itu ada. Mulai hari ini ia akan menata hidupnya kembali.


Dan, sekarang ketika berhadapan langsung dengan Reza, Rara seperti biasa saja, walau sakit itu masih ada tapi mungkin hanya sisanya saja. Selebihnya ia ikhlas kalau jodohnya bersama Reza hanya sampai di sini. Namun untuk Zayn, ia masih belum tahu. Mengingat nama itu ada rasa campur aduk di dada yang sulit untuk dijelaskan.

__ADS_1


“Kamu belum bisa memaafkanku?” tanya Reza.


“Sudah, Kak. Aku sudah memaafkanmu. Sungguh. Buktinya kita bisa berbincang sedekat ini sekarang.”


“Lalu, Mengapa kamu tetap ingin berpisah dariku? Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?” tanya Reza dengan suara lirih. Ia mengambil tisu untuk menyeka pipinya yang basah.


“Cinta? Hmm ... Entahlah, Kak. Saat ini aku tidak memikirkan itu. aku hanya ingin menata hidupku kembali.”


“Kita akan menata hidup kita kembali dari awal, Sayang. Dengan Noah dan ....”


Rara langsung menggeleng agar Reza tak lagi meneruskan kalimatnya. “Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak akan memisahkan Noah dan anak yang masih dalam kandungan ibunya itu dari ibu kandungnya. Tidak akan, Kak.”


“Berarti kamu sudah tidak mencintaiku? Iya?” tanya Reza dengan menatap ke kedua bola mata Rara.


“Tidak tahu. Aku tidak tahu. Tapi yang jelas aku tidak ingin seperti dirimu.”


“Kamu memaafkanku atas kejadian yang dilakukan Zayn padaku. Walau sebenarnya aku adalah korban. Aku tidak bersalah. Hah ... betapa bodohnya aku, hanya aku orang yang tidak tahu kejadian itu padahal kejadian itu menyangkut diriku. Pantas saja kamu selalu marah jika aku sebut nama Zayn.”


Rara memainkan sendok yang ada di dalam gelasnya sembari menunduk ke arah itu, lalu kembali menatap Reza yang tidak sekalipun memalingkan pandangannya dari wanita ini.


Rara memajukan tubuhnya hingga berhadapan dekat dengan Reza. “Setelah kejadian itu, kamu tetap menikahiku dan mencoba melupakan kejadian buruk itu. Aku tahu bagaimana persaanmu. Selaam lima tahun mencoba menerima sesuatu yang sulit untuk kamu terima. Kamu memaafkan tapi tetap tidak bisa menerimaku, menerima tubuhku yang sudah disentuh terlebih dahulu oleh pria lain.”


“Sayang,”


“Aku juga tidak ingin seperti itu, Kak. Aku memaafkanmu tapi aku takut tidak bisa menerimamu. Sama seperti kamu yang tidak bisa bercinta denganku, jika aku meminta. Mungkin, sekarang aku yang tidak bisa bercinta denganmu, jika kamu minta. Karena aku juga membayangkan saat kalian ber ...”


“Stop! Cukup, Ra. Jangan di teruskan!” Reza memotong pembicaraan Rara. Ia menunduk dan melepaskan tangannnya pada jari-jari Rara.


Reza menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia tak kuasa berpisah dari Rara.

__ADS_1


“Lepaskan aku, Kak. Talak aku. Kita tetap bisa menjadi teman. Biarkan aku bahagia dengan caraku sendiri.”


Reza kembali menggelengkan kepalanya. Deraian airmata itu kembali mengalir. Lalu, ia membuka telepak tangan yang semula ia pakai untuk menutup wajahnya. “Aku ngga bisa, Ra.”


“Kalau kakak ngga bisa, berarti kakak memang tidak mencintaiku.”


“Aku mencintaimu, Ra. Sangat.”


“Kalau begitu, talak aku. Biarkan aku bahagia.”


“Kebahagiaanmu bersamaku.”


Rara menggeleng. “Tidak. Aku tidak bahagia bersamamu.”


“Baiklah kalau itu maumu. Aku akan menalakmu sekarang juga.” kesal dengan perdebatan ini, akhirnya Reza menyerah.


Rara tersenyum.


Reza menegakkan tubuhnya. sesaat mereka sama-sama terdiam dan Rara terus menatap ke arah Reza seraya menunggu kata talak dari pria itu.


Cukup lama Reza terdiam dan berpikir. Ya, ia memang sudah tak lagi bisa menggapai Rara. Membujuknya untuk kembali dan meminta maaf. Rasanya pintu hati Rara sudah tertutup dan kata-kata terakhir Kemal semalam berputar di kepalanya. Cinta itu membahagiakan bukan menyakiti. Rara jelas-jelas sudah mengatakan bahwa dirinya tidak bahagia bersama Reza.


“Bismilah, Cleopatra Kamila binti Ahmad Sanjaya, aku jatuhkan talak atasmu,” ujar Reza dengan suara gemetar menahan tangis. Lalu, ia kembali mengusap wajahnya.


Apa yang sudah ia ucapkan? Apa ini benar? Apa ia bisa tidak melihat wajah itu ketika matanya terbuka di pagi hari? Apa ia bisa tidak melihat senyum itu? Entahlah, yang pasti setelah ini, hari-harinya akan suram, ia pasti akan semakin dingin dan tidak punya hati.


“Terima kasih, Kak.” Rara tersenyum.


Reza menatap senyum itu. Terlihat senyum bahagia dari wajah Rara karena bahagia telah lepas darinya. “Selamat Sayang, kamu sudah memberi hukuman pada pria yang tidak bisa menjaga kesetiaannya ini dengan setimpal, kamu bisa pastikan hari-hariku nanti tidak akan lebih baik darimu,” batinnya.

__ADS_1


__ADS_2