
Semakin hari, Reza semakin dekat dengan Essy. Ia baru menyadari bahwa Essy memiliki pribadi yang menyenangkan. Mungkin jika saat ini Essy masih menjadi sekretarisnya, mereka akan tambah dekat. Dulu, Kemal mengira Essy sama seperti sekretaris-sekretaris Reza sebelumnya, yang genit dan suka menggoda bosnya. Oleh karena itu Kemal memindahkan Essy dan menggantikan sekretaris Reza dengan seorang laki-laki. Ternyata, tuduhan Kemal tentang Essy salah. Wanita itu justru tidak sama dengan sekretaris-sekretaris Reza sebelumnya.
“Sy, maafin Papa ya karena telah mindahin kamu ke bagian lain,” ucap Reza yang kini tengah makan siang di sebuah restoran bersama Esyy.
“It’s oke. Ngga apa-apa kok. Pasti ada hikmah dibalik itu kan? Sekarang aku jadi bisa buat kopi enak, karena pada dasarnya aku juga pecinta kopi.” Essy tertawa.
Reza ikut tersenyum. Sepertinya dekat dengan Essy memberi atmosfer baru dalam hidupnya. Essy yang selalu berpikir positif membuat mind set nya berubah. Apalagi ketika wanita itu bercerita tentang ayahnya yang menduakan ibunya.
“Terus, gimana kabar ibu kamu sekarang?” tanya Reza.
“Oh ya, kebetulan nanti sore aku lagi off di cafe. Aku pengen jenguk Mama di rumah sakit,” jawab Essy.
“Boleh aku antar?” Reza bertanya lagi.
“Aku ga mau ngerepotin kamu.”
“Ngga. ngga sama sekali. Kebetulan aku juga lagi ga ada agenda apa-apa sore ini.”
Essy tersenyum dan melanjutkan aktivitas makan siangnya. Ia tidak menjawab iya dan tidak juga menjawab tidak.
Hingga saat pulang kerja tiba, Reza menepati janjinya. Ia sengaja mendatangi ruangan Essy untuk pulang bersama dan mengantar wanita itu menjenguk ibunya di rumah sakit. Rumor tentang kedekatan Essy dan Reza pun makin santer terdengar. Ditambah, sore ini Reza langsung mendatangi ruangan Essy. Bos yang terkenal dingin dan tidak pernah dekat dengan karyawannya itu, kini berubah.
“Sy, ayo pulang!”
Essy terkejut dan langsung mendongakkan kepalanya ketika sedang fokus merapikan meja itu. Ia melihat Reza tengah berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di pintu.
“Kamu serius?” tanya Essy tersenyum.
“Loh, emng kamu pikir aku ga serius?” Reza balik bertanya, membuat Essy terus tersenyum.
Beberapa jam kemudian, Essy dan Reza sampai di rumah sakit.
“Mama ...” panggil Essy antusias ketika masuk ke ruangan sang ibu.
“Sa ... yang,” ucap lirih wanita paruh baya yang terkulai lemah di tempat tidur itu.
Sudah dua minggu, alat yang menjadi penopang hidup ibu Essy dilepas. Essy sangat senang karena sang ibu semakin membaik.
“Ini siapa, Nak?” tanya Ibu Essy ketika melihat Reza.
Reza mengulurkan tangannya pada wanita paruh baya itu dan menciumnya. “Saya Reza, Ma. Saya ...”
“Bos Essy, Ma,” jawab Essy cepat membuat Reza tersenyum.
“Sebenarnya, saya ingin lebih dari itu, Ma. Tapi sepeertinya Essy masih tidak percaya dengan saya,” ucap Reza lagi.
Mata Essy membola ke arah Reza saat mendengar perkataan pria itu.
Ibu Essy pun tersenyum. “Ya, Essy memang tidak pernah percaya pada pria. Dia pikir semua pria seperti ayahnya. Padahal tidak semua pria seperti itu.”
Reza tersenyum miris. Pasalnya, ia memang pernah menjadi ayah Essy, tapi ia melakukan itu bukan karena mencintai wanita keduanya melainkan karena keadaan.
“Essy, ke sini Sayang,” panggil sang ibu agar Essy lebih mendekat padanya.
__ADS_1
Reza menarik tempat duduk dan menyuruh Essy untuk duduk di dekat ibunya.
“Mama menyukai dia,” ucap ibu Essy.
“Mama apaan sih? Aku sama Pak Reza ga ada apa-apa.”
“Essy. Mama tidak selamanya bisa menemanimu. Kamu harus memiliki teman hidup yang akan menemanimu hingga tua.” Wanita paruh baya itu menggeggam erat tangan putrinya.
Reza menjadi saksi kisah haru ibu dan anak itu. Ia menyesal karena pernah menduakan Rara, sangat menyesal. Cukup perjalanan pernikahan bersama Rara dan Manda menjadi pengalaman agar ke depan ia bisa menjalani rumah tangga yang lebih baik. Ia berjanji setelah ini, ia akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarganya nanti. Ia tak ingin lagi melakukan kesalahan seperti dulu. Namun, sayangnya Essy belum bisa percaya dengan spesies yang bernama laki-laki. Kisah rumah tangga sang ibu benar-benar membuatnya trauma akan pernikahan.
Setelah berbincang hangat dengan Essy da ibunya, Reza pun mengantar Essy pulang.
“Sy.” Reza manahan tangan Essy ketika wanita itu hendak keluar dari mobil Reza.
Essy menoleh ke arah Reza. “Ya.”
“Apa terlalu cepat, jika aku bilang kalau aku ...? Hmm ...”
“Apa?” tanya Essy yang bingung melihat ekspresi Reza saat ini.
“Hmm ... bukan apa-apa. Sudahlah!” Reza tak meneruskan perkataannya.
Essy mengerutkan dahinya. “Kamu lucu kalau lagi bingung kek gini.”
Reza hanya tersenyum.
“Ya udah kalau gitu aku pulang. Terima kasih untuk hari ini.”
“Sama-sama.”
Sesampainya di dalam rumah, tiba-tiba ponsel Essy berdering dari rumah sakit tempat ibunya di rawat.
“Halo, iya sus.” Essy langsung menjawab panggilan telepon itu.
“Apa? Baik, Sus. Saya akan seegra ke sana.” Essy langusng menutup panggilan telepon itu.
Ia bergegas kembali keluar dan memesa taksi online. Pikirannya melayang ke perkataan sang ibu tadi sebelum ia pulang, ternyata itu adalah pesan terakhir dari sang ibu. Di perjalanan Essy tak henti-hentinya menangis.
Sesampainya di rumah sakit, ia pun melihat sang ibu tengah dibantu dengan alat pacu jantung. Ia melihat tubuh ibunya mengikuti hentakan alat itu. namun, garis di monitor tetap lurus dan belum ada perubahan. Dokter berusaha mengulang beberapa detik, tapi tetap tak berhasil hingga layar monitor itu berbunyi dengan menampakkan garis lurus ke samping.
“Mama ...” teriak Essy dengan derai air mata yang tak kunjung usai.
Habis sudah orang tuanya. Kini, ia benar-benar sebatang kara. Sang ayah sudah lebih dulu meninggalkannya. Tepat enam bulan lalu, ibu tiri Essy, wanita yang telah mengambil ayahnya memberi kabar bahwa sang ayah meninggal. Memang sang ayah sudah lebih dari tiga tahun mengidap diabetes akud. Berulang kali, sang ayah meminta bertemu dengannya tapi Essy tak kunjung menemui sang ayah. Ia sudah kadung membenci pria itu. padahal hingga setua itu, ternyata sang ayah tidak juga dikaruniai anak bersama istri mudanya itu.
Sepeninggal sang ayah, Essy selalu dikejar pengacara ayahnya, karena menurut pengacara itu, ayah Essy meninggalkan banyak harta untuknya yang harus di kelola, juga bisnis sang ayah yang saat ini dipegang oleh orang kepercayaannya.
Namun, Essy justru menghindari pengacara itu. Ia malas berhubungan dengan semua hal tentang ayahnya. Walau ayahnya sudah tiada, tapi luka itu masih menyisakan bekas.
****
Keesokan harinya, Zayn sangaja menemani Reza ke rumah sakit. Setelah hampir dua minggu, akhirnya tes DNA dan rambut Noah keluar.
Hari ini, Reza tidak ke kantor. Ia pun tidak mengetahui kabar tentang meninggalnya ibu Essy karena Essy sendiri pun tidak mengabari berita itu.
__ADS_1
“Kakak siap membuka amplop ini?” tanya Zayn.
Reza sudah tahu tentang Sam dari Zayn. Zayn menceritan semua yang terjadi antara Manda dan teman satu timnya itu pada sang kakak dan Reza pun ikut senang. Tidak ada rasa sakit hati lagi di hati Reza. Ia senang jika ada pria yang tulus mencintai Manda, paling tidak mengurangi bebannya yang seolah jahat karena telah memperlakukan wanita itu dengan kejam selama ini.
Reza mengangguk. “Ya, aku siap.”
Zayn lebih dulu merobak ujung amplop itu dan membaca hasil yang tertera di sana. dalam lembar surat itu menyatakan bahwa darah Reza dan Noah tidak cocok. Rambut Reza dan Noah pun tidak cocok.
“Oh, terima kasih ya Tuhan.” Reza mengusap wajahnya. Entah mengapa ia merasa bebannya selama ini luruh.
Walau Manda telah mebohonginya, tapi ia tetap tidak menyalahkan takdir. Kini, ia menyadari bahwa kenelangsaan hidupnya itu buah dari kesalahan yang ia lakukan sendiri.
Zayn memeluk sang kakak. Ia sedih melihat hidup kakaknya yang diterpa keterpurukan bertubi-tubi.
“Terima kasih, Zayn. Mama benar, seandainya sejak dulu aku tidak egois dan tidak memaksa kehendakku. Mungkin aku sudah bersama wanita yang tulus mencintaiku dan kami sudah memiliki anak yang besar.”
“Percayalah, Kak. Ini belum terlambat. Kakak akan menemukan wanita itu.”
“Sudah, Zayn. Tapi seepertinya dia tidak percaya padaku.”
“Oh ya? Siapa?” tanya Zayn antusias.
“Essy Pratiwi.”
“Sepertinya, nama itu tidak asing,” ucap Zayn.
“Ya menurutku juga begitu. Tapi dia sepertinya sulit ditaklukkan.”
“Disitulah tantangannya.” Zayn tersenyum menyeringai sambil memberi semangat pada sang kakak.
Hari ini, Mirna dan Manda pun pulang ke Jakarta. Hasil tes Noah telah keluar, rencananya mereka akan berkumpul di kediaman Kemal. Reza da Zayn pun pulang ke rumah Kemal, sedangkan Kemal sudah menunggu kehadiran putranya di sana.
Reza menyerahkan amplop itu pada Kemal dan Kemal menarik nafasnya kasar.
“Maaf Pa, mungkin insting ini yang membuat Reza kurang dekat dengan Noah dan tidak bisa mencintai Manda.”
Ya, Reza memang tidak benar-benar niat selingkuh atau berkhianat. Walau pada kenyataan ia memang mendua.
Sejenak ketiga pria beda usia itu pun terdiam. Seketika, keadaan hening hingga ponsel Kemal pun berdering. Mereka menunggu kedatangan Mirna, Manda, dan Noah yang disupiri oleh supirnya dari Vila mereka.
Kemal mengangkat telepon dengan tertera nomor saja.
“Halo.”
“Apa? Ya saya kesana. Di mana? Oke.”
Zayn dan Reza saling melirik. Hanya kedua kalimat itu yang terdengar dari mulut Kemal yang langsung menutup kembali panggilan teleponnya.
“Ada apa, Pa?” tanya Zayn dan Reza bersamaan.
“Mobil Mama kecelakaan,” jawab Kemal panik.
“Apa?” tanya Zayn panik.
__ADS_1
"Kok bisa, Pa?" tanya Reza yang juga terlihat panik.
Mereka bergegas keluar rumah dan berjalan menuju mobil. Kemal tak mampu berpikir, yang ada di kepalanya hanya keadaan Mirna.