
Rara masih menikmati keindahan pantai, hingga ia dan Zayn kembali ke Jakarta pukul sepuluh. Sedangkan Reza dan Kemal sudah kembali ke Jakarta pagi-pagi sekali, bahkan mereka hampir tiba di rumah orang tua Rara yang bersebelahan dengan rumah Kemal.
Rara dan Zayn baru saja memasuki tol menuju Jakarta. Sesekali Zayn melirik ke arah Rara dengan tetap fokus menyetir. Pagi ini wajah Rara tampak lebih segar dibanding semalam.
“Semalam kamu tidur nyenyak?” tanya Zayn.
Rara menoleh ke arah Zayn. Ia mengangguk. “Ya, lumayan.”
Rara bertekad untuk mengubur semua yang terjadi dan memulai hidupnya dari awal. Kini, ia sedang tidak ingin berurusan dengan cinta dan lawan jenis. Ia hanya ingin menyenangkan dirinya sendiri. Walau ia juga tidak menolak setiap kebaikan yang datang dari lawan jenis, seperti Zayn saat ini. Hatinya yang terbalut luka tidak bisa melihat mana cinta dan mana pertemanan.
“Ponselmu belum diaktifkan?” tanya Zayn lagi.
Rara menggeleng. “Belum.”
“Mungkin setiba di rumahmu, Kak Reza dan Papa sudah ada.”
“Entahlah Zayn, aku masih belum bisa bertemu Kak Reza.”
“Sampai kapan kamu terus menghindar, Ra? Hadapi masalahmu. Kasihan juga Kak Reza.”
Rara menarik nafasnya. “Bisa kita tidak membicarakannya?” tanya Rara dengan suara tegas dengan menatap tajam ke arah Zayn.
Zayn menoleh ke arah mata yang sedang membulat itu dan kembali memfokuskan pandangannya ke depan. Ia terdiam. Baru kali ini Zayn melihat Rara seperti itu.
“Maaf, Zayn. Aku hanya tidak ingin membicarakan masalah ini lagi. Aku butuh waktu.”
Zayn mengangguk dan terdiam. Seketika mpbil itu terasa hening karena keduanya tidak lagi berbincang.
Tiga jam lebih tiga puluh menit, Rara dan Zayn tiba di depan komplek rumahnya. Setelah lima tahun, Zayn kembali menginjak tempat ini. Sungguh ia rindu. Ia pun mengingat saat kecil dulu bersama Reza dan Rara di komplek ini. Mereka sering bermain sepeda di jalan ini.
__ADS_1
Zayn langsung memasukkan mobilnya ke dalam rumah Rara, karena pagar itu sedang terbuka.
Suara deru mobil Zayn terdengar hingga ke dalam rumah Rara, membuat semua orang yang tengah duduk di ruang tamu itu keluar untuk menyambut kedatangan Rara.
Reza dan Kemal sudah menunggu kedatangan Rara sejak tiga jam yang lalu. Bahkan Reza sudah menceritakan semua yang terjadi pada Sanjaya dan Mia. Reza bersimpuh di kaki Mia untuk meminta maaf dan memohon untuk tidak dipisahkan dari Rara. Ia berjanji akan memperbaiki hubungan ini.
Mia hanya bisa menangis tersedu-sedu. Sedangkan Sanjaya hanya terdiam. Bi Inah yang menengar itu pun hingga meneteskan airmata. Pria yang selama ini dipuja-puja Bi Inah ternyata tidaklah sempurna. Jelas-jelas ia menyakiti Raram anak majikannya yang sudah Bi Inah sayangi seperti anak sendiri.
“Rara,” panggil Mia.
“Bunda.” Rara langsung menghambur pelukan kepada ibunya.
Kedua wanita berbeda geenrasi ini pun saling berpelukan dan menangis. Sedangkan Kemal dan Sanjaya hanya bisa menyaksikan kepedihan itu. Mungkin jika Mirna berada di sini, wanita itu pun akan ikut menangis. Zayn menunduk, sedangkan Reza masih saja menatap Zayn sinis, walau ketika pandangannya tertuju pada Rara, wajah itu pun menjadi sendu.
“Maaf, Pa. Kami baru tiba. Tadi Rara masih enggan kembali,” kata Zayn pelan kepada ayahnya.
Mereka pun kembali memasuki rumah itu.
Reza menghampiri Rara. “Sayang, aku ingin bicara. Semua yang terjadi tidak seperti apa yang kamu pikirkan.”
Rara masih menunduk dan terdiam.
“Sayang, maafin aku.” Reza terus membujuk istrinya yang terus berjalan menuju kamar.
Rara langsung menuju kamarnya ditemani oleh sang ibu. Mia masih setia memeluk putrinya hingga kamar. Sedangkan Reza terus mengikuti istrinya ke sana. Ia ingin bicara dengan Rara dari hati ke hati, karena ia yakin Rara mau memaafkannya.
“Za, tunggulah di sini. Biarkan Rara tenang bersama ibunya.” Kemal menahan Reza agar tidak ikut masuk ke kamar Rara.
“Tapi, Pa. Reza harus bicara dengan Rara. Ini urusan kami.”
__ADS_1
“Ya, kamu memang harus bicara dengan Rara. Tapi biarkan dia tenang dulu.”
Sanjaya pun mengangguk. Akhirnya, Reza mengalah. Ia menuruti ayah dan ayah mertuanya. Lalu, duduk di ruang tamu bersama Zayn.
Reza melirik ke arah Zayn. “Semalam kalian nginep dimana?”
"Pantai Jayanti,” jawab Zayn sembari menatap mata sang kakak yangs eolah ingin meninjunya.
“Gue tahu, lu orang yang paling senang dengan kejadian ini kan?”
“Fahreza.” Kemal menekankan nama itu untuk memperingatkan putranya.
“Gue emang salah, Kak. Di mata lu gue emang ngga pernah bener. Terserah.”
“Emang. Semua yang terjadi antara gue dan Rara, itu karena lu.”
“Sudah ... Sudah ...” ucap Sanjaya dengan menaikkan tangannya ke atas. “Tolong kalian jangan bertengkar di sini!”
“Sanjaya, maafkan kedua putraku,” kata Kemal.
“Ya, lebih baik kalian pulang saja dulu. Lagi pula Rara sedang ingin sendiri. Kami pun begitu. Saya benar-benar syok dengan semua ini. saya juga butuh waktu untuk mencerna ini semua,” kata Sanjaya.
“Baiklah, kami akan pulang.” Kemal berdiri dan meminta kedua putranya untuk ikut pulang.
“Maaf, Kemal. Bukannya aku mengusirmu.”
Kemal tersenyum. “Ya, aku mengerti.”
Sungguh Kemal malu dengan apa yang sudah kedua putranya lakukan pada putri sahabatnya ini. Kemal dan Zayn kelaur dari rumah itu. Namun, Reza masih enggan untuk meninggalkan rumah ini. Reza masih ingin bertemu istrinya.
__ADS_1