Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Menjauh dari kedua kakak beradik itu


__ADS_3

Sore harinya, Rara diperolehkan pulang dari rumah sakit. Sanjaya, Mia, dan Kemal juga sudah ada di sini. Mereka menemani Rara hingga pulang dari ruah sakit, termasuk Reza yang memang sudah menemani Rara sejak pagi.


Sebelum keluar dari rumah, ketika mereka masih berada di dalam ruang perawatan Rara, Reza sudah memohon maaf pada Sanjaya dan Mia. Ia juga sudah mengembalikan Rara secara baik-baik, karena ia sudah mentalak istri pertamanya itu. Kedua orang tua Rara hanya diam dan menerima semua ini, karena memang putrinya sendiri yang meminta Reza untuk menalaknya.


“San, maafkan aku.” Kemal memeluk ayah Rara. “Maaf karena kedua putraku, putrimu jadi seperti ini.”


Sanjaya hanya bisa menerima pelukan itu dan mengangguk. “Doakan putriku kuat melewati semua ini.”


Kemal mengangguk. “Aku selalu berdoa yang terbaik untuk Rara, karena sejak kecil dia sudah kuanggap sebagai putriku sendiri.”


Kemal kembali mengeratkan pelukan itu cukup lama, hingga akhirnya terlerai. “San, kita masih tetap sahabat ‘kan?”


Sanjaya tersenyum. “Tentu saja. Jika Rara saja bisa menjadikan Reza teman, mengapa kita tidak?”


Kemal tersenyum. “Terima kasih.”


Kemal dan Reza mengantar Rara dan orang tuanya hingga sampai di hotel. Rara meminta ayah dan bundanya untuk menginap satu hari lagi di kota ini, karena besok pagi ia ingin mendatangi rumah Manda untuk terakhir kali.


Kemudian, Kemal dan Reza pamit setelah Rara dan kedua orang tuanya check in.


Kemal memeluk Rara. “Jaga dirimu, Sayang! bahagialah selalu. Papa selalu berdoa untukmu. Dan satu lagi.” Kemal melonggarkan pelukan itu untuk menatap wajah Rara. “Jangan segan-segan untuk meminta bantuan apapun pada Papa, karena walau pun kalian berpisah, Papa akan tetap selalu jadi Papamu.”


Rara tersenyum. “Terima kasih, Pa. Rara sayang Papa.”


Mereka kembali berpelukan.


“Papa juga sayang Rara.” Kemal mengusap kepala Rara.


Reza hanya bisa terenyuh melihat pemandangan ini. Ia telah merusak hubungan keluarga yang dahulu hangat dan harmonis.


Setelah Reza mencium punggung tangan Sanjaya dan Mia saat Rara dan Kemal berpelukan, kini Reza yang berhadapan dengan Rara.


“Sekali lagi aku minta maaf.”


“Sudahlah, kamu sudah berulang kali meminta maaf. Bahkan sejak kemarin.” Rara tersenyum.


“Apa kita masih bisa bertemu?” tanya Reza.

__ADS_1


“Hmm ... tergantung. Jika aku sedang tidak sibuk.”


Reza tersenyum tipis.


“Baiklah, kami pamit,” ucap Kemal pada Rara dan kedua orang tuanya.


Sanjaya, Mia, dan Rara mengangguk.


“Hati-hati di jalan!” kata Sanjaya.


Kini Kemal dan Reza yang mengangguk dan hendak pergi.


“Kak Reza,” panggil Rara.


Reza pun langsung menoleh. “Ya.”


“Besok aku akan ke rumah Manda, kamu mau ikut menemani?” tanya Rara tersenyum.


Reza menggeleng. Biarlah kedua wanita itu bicara dari hati ke hati. Lagi pula ia masih belum siap bertemu Manda. Ia masih ingin sendiri untuk menenangkan ahti dan pikirannya. Ia khawatir Manda akan menjadi pelampiasan kemarahan dari perpisahannya dengan Rara.


Kemudian, Reza kembali memutar tubuhnya dan berjalan mendekati Kemal yang sudah melangkah sedikit jauh.


“Sebelum Rara tahu dia istri Kak Reza, kami berteman, Bun.”


Rara, Sanjaya, dan Mia masuk ke dalam lift menuju kamar mereka. Mia hanya menghelakan nafasnya. Ia tak mengerti jalan pikiran sang putri, padahal kalau Mia jadi Rara, Ia tak akan mau menemui wanita yang telah merebut suaminya. Kalau pun ditemui, pastinya Mia aka menampar atau mencakar wajah wanita itu hingga tak berbentuk.


“Kalau begitu, Bunda yang antar kamu ke rumah wanita itu,” ujar Mia.


“Tidak perlu, Bun. Kalau Bunda yang anter bisa-bisa Manda dijambak terus dicakar sama Bunda.”


“Emang,” jawab Mia ketus sembari melangkahkan kakinya keluar dari lift. “Kamu itu terlalu baik, Ra. Malah meminta talak dari Reza. Seharusnya kamu biarkan Reza menceraikan wanita itu. Biar wanita itu tahu bahwa kamu yang menang.”


“Bunda, ini bukan masalah kalah dan menang.” Rara sulit menjelaskan cara pandangnya dengan sang ibu. “Ayah coba tolong jelasin ke Bunda.”


“Hah, biarin aja. Tidak usah di dengar Bundamu, yang penting kamu bahagia, Nak.” Jawab Sanjaya.


“Ih, ayah. kok gitu sih. Bukannya dukung Bunda,” protes Mia.

__ADS_1


“Apa yang harus di dukung? Aku harus dukung putri kita buat ngasih sianida ke istri keduanya Reza gitu?”


“Ya, ngga kaya gitu juga ayah, tapi paling tidak wanita itu dikasih pelajaran.”


Rara hanya tersenyum melihat kedua orang tuanya berdebat di tengah lorong menuju kamar yang mereka pesan.


“Tapi Bunda ngga rela melihat mereka bahagia di atas penderitaan putri kita.” Mia masih kesal.


“Memangnya mereka bahagia? Ayah rasa tidak. Reza akan hidup dengan penyesalannya seumur hidup.” Sanjaya masuk ke dalam kamar, membuat Mia terbungkam dan Rara terdiam.


Rara tahu betul bahwa Reza sangat mencintainya. Lepas dari kesalahan yang telah Reza torehkan untuknya, Rara tetap bisa merasakan cinta itu. Apalagi hari ini, Reza merawatnya dengan telaten dan menerima keinginannya. Meminta pisah dari Reza bukan cara Rara untuk balas dendam dan membuat hidup Reza ikut menderita, tapi inilah sebuah kionsekuensi dari kesalahan. Kaalu pun emreka tetap bersama, mereka tetap tidak akan seharmonis dulu, karena Rara yang kini tidak bisa menerima Reza.


****


Keesokan harinya, Rara bersiap menuju rumah Manda. Sejak kemarin, Manda selalu menelepon atau memberi pesan. Menanyakan keadaan Rara dan mengajaknya bertemu.


“Sebentar lagi, aku akan jalan ke rumahmu.”


Rara memberi pesan singkat pada Manda. Lalu, berpamitan pada orang tuanya.


“Ra, kamu yakin ngga ditemenin Bunda?” tanya Mia yang melihat putrinya hendak pergi.


“Ngga usah Bunda.”


“Ish, kamu. Padahal Bunda pengen liat wajah wanita itu. Pasti cantikan kamu ‘kan?”


Rara tertawa. “Ya, aku kan anak Bunda, pasti Bunda bakal bilang cantikan aku.”


“Ih, kamu masih aja bisa ketawa. Sebel tahu.”


“Loh, emang kenapa? Life must go on, Bunda.”


“Sebenarnya, kamu cinta ngga sih sama Reza? Kok kamu biasa-biasa aja?” tanya Mia yang membuat Rara terdiam.


“Ya, sebenarnya apa dulu aku begitu mencintai Reza? Tapi mengapa rasanya kesedihan itu hanya lewat sesaat?” tanya Rara pada dirinya sendiri. Ia pun tak mengerti.


Namun satu yang ia semakin tak mengerti dirinya sendiri. Diam-diam ia membuka pesan Zayn dan berharap Zayn me-chat dirinya lagi. Ia juga melihat-lihat media sosial Zayn yang sering bersama model-model cantik dan satu lagi yang kini menari di pikirannya. Dalam media sosial itu, Zayn sering mengunggah kebersamaannya dengan dua anak kecil yang selalu ia blur saat di unggah.

__ADS_1


Siapa anak kecil itu? Entahlah. Rara tidak ingin memikirkan itu. Ia sudah bertekad akan menjauh dari hidup kedua kakak beradik itu.


__ADS_2