Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Kita sekarang teman


__ADS_3

Pagi ini, Zayn bangun dengan lesu. Ia tidak semangat menjalani aktiftas hari ini. Rasanya ia ingin libur lagi satu hari, tapi semakin tidak melakukan apapun, pikirannya pasti akan tertuju pada Rara. Ia tahu saat ini Rara pasti membencinya. Kalau pun ia ke rumah sakit, pasti Rara tidak ingin melihatnya.


“Huft.” Zayn menarik nafasnya.


Tangannya meraih kamera SLR. Ia melihat foto-foto Rara yang tak terhitung jumlahnya ketika mereka bersama di pantai beberapa hari lalu. Zayn membidik candid atau pun selfie. Ada foto Rara yang lagi cemberut dengan pandangan lurus ke arah pantai. Ada yang sedang bergaya dan tersenyum sembari memegang ujung gaun dan ujung topi pantai yang Zayn beli untuknya. Ada juga foto yang menampilkan tawa lebar hingga terlihat semua jejeran gigi rapih Rara. Lalu, ada foto ketika ia meringis saat makan jagung bakar yang kepanansan.


Zayn tertawa sendiri melihat foto-foto itu. Andai ia dan Reza bersikap sprotif untuk mendapatkan Rara, mungkin wanita itu tidak se menderita sekarang. Andai ia tak melakukan aksi bejatnya malam itu, Rara pasti sudah bahagia bersama Reza dan memiliki anak yang banyak. Atau, Andai Reza tak bersikeras menikahi Rara dan membiarkan Zayn bertanggung jawab, mungkin sekarang Rara sudah bahagia bersamanya dan anak-anak mereka, karena walau Rara tidak mencintainya, Zayn pasti akan menghujani wanita itu dengan segudang cinta dan kebahagiaan hingga perlahan Rara juga mencintainya.


Namun, keegoisan keduanya justru membuat wanita yang mereka cintai menderita.


“Maafkan aku, Ra.” Zayn mengelus pipi Rara dalam gambar foto di kamera SLR itu, hingga kedua bola matanya berkaca-kaca.


Zayn mengarahkan pandangannya pada jendela di sana. langit yang cerah seolah menggambarkan wajah Rara yang tertawa ceria. Sungguh, ia rindu wajah itu, selama lima tahun ia berusaha keras untuk melupakan wajah itu dengan selalu bekerja dan kerja. Namun, ia tidak bisa melupakan semua kenangan tentang Rara. Pesonanya benar-benar sudah merasuki hati dan pikirannya.


Zayn meraih ponsel dan meletakkan kamera itu. Ia memberanikan diri untuk memberi pesan pada Rara.


“Maafkan, aku. Maaf karena aku begitu menginginkanmu. Semoga kamu memaafkanku.”


Zayn mengirim pesan itu dan langsung centang dua. Kemal mengabarkan padanya bahwa Rara sudah mengingat semua kejadian malam itu.


Selang beberapa detik, centang dua itu berganti berwarna biru. Zayn tahu di sana Rara membaca pesannya. Ia terus memegang ponsel itu, berharap Rara membalas pesan yang ia berikan. Namun, hingga lima belas menit berlalu, Rara tak kunjung membalas pesan itu.


Ceklek


Jack membuka pintu kamar hotel Zayn. “Ya ampun. Lu belum siap, Bos?”


Zayn menengadahkan kepalanya menatap Jack.


“Ck. Gue tahu lu lagi sedih, tapi pekerjaan tetap pekerjaan, Zayn. Hari ini jadwal lu yang shoot,” kata Jack.


“Iya, bawel.” Zayn meletakkan ponselnya dan langsung ke kamar mandi.


Hanya Jack yang tahu tentang Rara dan kejadian itu. Zayn selalu bercerita apapun pada asisten sekaligus teman seperjuangannya di Paris.


Di rumah sakit, Reza sudah berada di sana pagi-pagi. Pria itu tetap ingin memperjuangkan istrinya, walau mungkin Rara sudah tak lagi seperti dulu, tetapi ia meyakini bahwa dihati Rara masih ada cinta untuknya.


Rara melakukan serangkaian test pemeriksaan di bagian kepala, juga pada bagian bekas kecelakaan lima tahun lalu itu.

__ADS_1


“Semua bagus. Tidak ada hal yang mengkhawatirkan, semua normal.” kata dokter yang memeriksa bagian kepala Rara di ruang laboratorium khusus. “Ingatan Bu Cleo juga sudah kembali utuh. Bukan begitu?”


Kepala Rara keluar dari alat yang memeriksanya beberapa menit tadi dan ia mengangguk.


Ya, kini ia sudah mengingat semuanya. Namun, ingatan yang kembali itu justru menambah penderitaannya. Rasanya mengetahui kejadian buruk yang selama ini selalu hadir dalam mimpinya itu, lebih menyakitkan dibanding melihat langsung Reza mencium kening Manda waktu itu. Entah mengapa rasa sakit itu lebih besar pada Zayn dibanding Reza. Dengan Reza ia bisa ikhlas dan memaafkan walau ia tetap tidak akan kembali menjadi istri Reza seperti dulu. Tetapi dengan Zayn, pria yang selalu ada untuknya, yang selalu terdepan ketika ia mendapatkan masalah di sekolah. Pria cuek dan suka bergonta ganti pacar, ternyata mencintainya. Sejak kapan? Rara masih tidak mengerti itu. Ia juga tidak tahu apa dirinya bisa memaafkan Zayn dengan segala kebaikan yang selalu pria itu berikan padanya. Apalagi beberapa hari terakhir, ketika dirinya sedih saat mengetahui pengkhianatan Reza, Zayn selalu membuatnya tenang dan kembali ceria.


Walau saat ini, Reza yang tengah menemani Rara di rumah sakit dan melakukan serangkaian pemeriksaan. Namun, pikiran Rara tetap tertuju pada Zayn. Di tambah, sebelum masuk ruang peemriksaan tadi, ketika ia sedang di dorong dengan kursi roda menuju ruangan itu. Ia membaca permohonan maaf Zayn melalui pesan singkat.


Rara hanya bisa membaca pesan itu dan tidak bisa membalasnya. Jarinya tak bisa tergerak untuk membalas pesan itu. Jujur, Rara sangat terhibur dengan kehadiran Zayn beberapa hari terakhir ini. Zayn yang supel dan lucu, mampu membuatnya tertawa disaat dirinya sedang sedih. Dan, sekarang ia mulai rindu candaan Zayn yang receh dan garing itu.


“Sayang, mau langsung ke kamar apa berkeliling dulu?” tanya Reza sembari mendorong kursi roda yang di duduki Rara.


“Bunda sama Ayah kemana?” Rara balik bertanya.


“Aku suruh istirahat di apartemen. Biar kamu aku yang jaga sekarang.”


“Kamu ngga kerja?” tanya Rara lagi.


Reza menggeleng. “Ada Papa yang menggantikan.”


“Tapi kamu masih lemes dan pusing kan?”


“Sedikit.”


“Ya udah ngga apa. Supaya ngga capek, duduk aja di sini. biar aku yang antar kemana kamu mau.”


Rara mengangguk. “Aku mau ke sana.” Rara menunjuk cafe yang cukup besar yang terletak tak jauh dari lobby.


“Oke.” Reza dengan semangat membawa istrinya ke tempat itu.


Setelah sampai di sana, Reza berjalan menuju kasir untuk memesan makanan dan minuman. Ia hafal camilan sang istri.


“Mbak, pesan french fries large, coklat panas, dan satu vanila latte,” kata Reza.


“Baik, Pak.”


Reza membayar pesanannya, lalu kembali duduk di hadapan Rara.

__ADS_1


“Aku dipesenin apa?” tanya Rara, karena Reza langsung saja ke kasir dan memesan makanan.


“Coklat hangat dan kentang goreng.”


Rara mengangguk.


Reza tersenyum. “aku ingat semua kesukaanmu, Sayang.”


Rara tersenyum tipis.


“Oh ya, bagaimana keadaan Manda dan Noah? Kamu belum menemui mereka?” tanya Rara serius. Namun terlihat di wajah Rara yang tampak baik-baik saja saat menanyakan istri kedua Reza dan anaknya.


“Jangan bicarakan mereka ketika kita sedang berdua, Sayang!”


“Memang kenapa?” tanya Rara lagi.


“Aku tidak ingin ...”


“Membuatku terluka?” Rara menyambungkan perkataan Reza yang ia potong.


Reza menatap wajah Rara dengan sendu.


“Tenang, aku ngga apa-apa kok. Lagi pula kita sekarang teman.” Rara memberi jari kelingkingnya ke arah Reza.


“Teman?”


Rara mengangguk.


Reza memlirik ke arah jari kelingking dan mata Rara. Lalu, menggeleng. “Tidak mau, kamu tetap menjadi istriku bukan temanku.”


“Ayolah, Kak! Itu tidak mungkin.”


“Kenapa tidak mungkin, Sayang? kita masih saling mencintai kan?” tanya Reza.


“Permisi, Pak ... Bu. Ini pesanannya.”


Percakapan mereka terpotong oleh pelayan yang membawakan makanan dan minuman yang Reza pesan dan meletakkannya di meja itu.

__ADS_1


__ADS_2