Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Membiarkan wanita itu bahagia


__ADS_3

"Zayn, ayo pergi dari sini!" Rara menggoyangkan lengan Zayn yang masih berada di atas kemudi setir.


Zayn terdiam sejenak.


"Zayn, ayo!"


Zayn menatap wajah sedih wanita yang paling ia cintai setelah Mirna.


Pemandangan menyakitkan itu telah selesai. Reza sudah berlalu dengan mobilnya dan Manda yang menggendong putranya pun sudah masuk kembali ke dalam rumah.


Tadi pagi, Reza sengaja memasak sarapan untuknya dan sang istri. Ia menatap tubuh polos Rara yang dibalut selimut tebal. Ia mengelus wajah cantik yang masih tertidur pulas karena aktifitas ranjang mereka semalam yang terlalu panjang.


Lalu, ponselnya berdering menampilkan nomor yang ia hafal. Ya, nomor itu adalah milik Manda. Reza sengaja tak menyimpan nomor itu tapi ia hafal betul angkanya. Manda nuga terpaksa menelepon Reza karena Noah kembali tantrum melihat sang ayah tak berada di sisinya saat ia terbangun dan lagi-lagi Manda tidak bisa menenangkan anak kecil itu. Hanya dengan Reza, Noah bisa ditaklukkan. Kemudian, demgan berat hati Reza meninggalkan Rara menuju rumah istri keduanya.


"Kamu yakin?" tanya Zayn. "Kamu tidak ingin melabrak mereka?"


Rara dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak sekarang."


Ia tahu hatinya sedang sakit. Ia tidak bisa bertemu Manda karena kemungkinan yang ada ia tak bisa memarahi wanita itu dan hanya bisa menangis. Itulah dirinya. Terkadang ia pun kesal dengan dirinya sendiri yang tak bisa meluapkan emosi. Ia terlalu memikirkan perasaan orang lain sedang orang lain tak memikirkan perasaannya.


"Aku temani, jika kamu ingin menemui wanita itu," ucap Zayn lagi.


Ya, seperti inilah Zayn, selalu ada setiap Rara mendapat masalah dan selalu menjadi prisai untuk melindunginya.


Rara menggelengkan kepalanya lagi. "Tidak sekarang Zayn. Aku butuh waktu untuk sendiri."


Tiba-tiba tangan Rara membuka oengait pintu mobil. Ia hendak keluar dari mobil itu. Namun tidak bisa, karena Zayn mengunci dari pintu sentral yang berada di di sampingnya.


"Buka, Zayn!" pinta Rara.


"Kamu mau kemana? Aku tidak akan menjnggalkanmu dalam keadaan seperti ini." Zayn menahan lengan Rara.


"Aku hanya ingin sendiri."


"Tidak bisa, aku akan menemanimu kemana pun yang kamu mau."


"Bukannya kamu ingin ke Lembang sore nanti. Kamu ke sini untuk bekerja, Zayn. Bukan untuk menemaniku kesana kemari. Jadi aku tidak ingin merepotkanmu."


Sontak Zayn menarik pundak Rara agar ia berhadapan dekat dengan wanita keras kepala ini. Mereka saling bertatapan tanoa jarak dan Zayn memeluk tubuh itu. Ia tahu Rara sedang tak baik-baik saja. Ia tahu walau Rara tak menangis meraung-raung tapi ia bisa merasakan hancurnya hati itu di sana.

__ADS_1


"Apa aku tidak berarti apa-apa untukmu, Ra? Apa aku bukan siapa-siapa bagimu?"


"Bukan begitu, Zayn. Tapi ..."


"Luapkan padaku, apa yang kamu rasakan, Ra. karena aku juga merasakan apa yang mamu rasakan sekarang." Zayn memotong perkataan Rara.


"Zayn," teriak Rara.


Seketika Rara menangis meraung dengan dada kembang kempis, karena isakan yang menyesakkan dada. Kini tangisan itu pecah dengan suara sesegukan yang terdengar nyaring di dalam mobil.


Zayn masih memeluk tubuh rapuh itu. Ia tak melepaskan Rara yang saat iniemang membutuhkan sebuah pelukan.


Lama mereka dalam posisi itu, hingga Rara puas memecahkan tangisannya. Akhirnya, pelukan itu terlerai.


Zayn meraih tisu dan membantu Rara menyeka air yang basah di pipi mulus itu.


"Udah enakan?" tanya Zayn.


Rara tersenyum. "Lumayan."


Walau sakit hati itu masih terasa sakt tapi setidaknya ia bisa melepaskan kesakitan itu.


"Kita kemana?" tanya Zayn.


"Baiklah. Untuk hari ini lupakan sejenak masalahmu dan mari kita bersenang-senang."


Ya, seperti ini mereka ketika sedang mendapat masalah. Entah itu Rara atau Zayn yang sedang mendapat masalah ketika sekolah atau kuliah dulu, mereka tidak langsung memikirkan solusi untuk masalah itu tetapi mereka malah memilih bersenang-senang seharian dan mendinginkan sejenak pikiran hingga membuat dirinya happy. Setelah itu baru mereka berpikir lagi untuk mencari solusi dari masalah yang dihadapi.


Rara mengangguk dengan wajah yang masih terlihat sedih sambil.mengusap sisa air mata di wajahnya.


Zayn tersenyum dan mencolek dagu Rara. "Senyum dong! Kalau belum senyum, kita ngga bakal jalan."


Perlahan wajah sedih itu sedikit berubah dan Rara mulai menyungging senyum tipis.


"Ah, ngga asyik. Senyumnya maksa banget. Ngga natural," ucap Zayn.


Rara kembali tersenyum persis di depan wajah Zayn. Tuh udah senyum kan."


Rara kembali senyum beberapa kali seperti orang yang tengah selfie di depan kamera.

__ADS_1


"Wait ... Wait ..."


Zayn tak melepaskan momen langka ini. Ia segera mengambil kamera SLR yang ia letakkan di sampingnya dan memoto Rara yang tengah tersenyum manis.


Cekrek


"Ih kok di foto sih," kesal Rara karena tindakan Zayn yang mencuri foto selfie-nya, karena Rara memang paling susah jika di suruh foto, ia.berdalih jika dirinya jelek kalau di foto.


Zayn tak menghiraukan rengekan itu. Ia malah tersenyum melihat hasil.jepretannya.


"Jelek, Zayn. pokoknya hapus," Rara mencoba mengambil kamera itu, tapi Zayn segera menghindar agar kamera miliknya tak diraih Rara.


"Ini lumayan."


"Lumayan buat nakut-nakutin tikus di dapur," sambung Rara kesal.


"Ini bagus kok. beneran. Kamu cantik. malah bisa buat jadi model ini," kata Zayn.


"Model apa? model trubus, bareng sama badak bercula satu." Rara tertawa. Ia seperti orang yang tak sedang ada masalah. Padahal satu jam lalu ia menangis meraung-raung.


Zayn tertawa. Rara begitu tidak percaya diri, padahal dirinya saat ini sudah menjadi model iklan untuk yayasan tempatnya bekerja.


Kemudian, Zayn menaruh kameranya di tempat yang tak bisa di jangkau Rara, agar wanita itu tak mengambil dan menghapus foto tadi. Ia pun mulai menjalankan mobilny menuju mall. Ia akan mengajak Rara untuk makan siang dan bermain di tim*zon*, seperti saat mereka sekolah dulu.


Zayn memberhentikan mobilnya di area parkir mall yang cukup besar itu.


"Ngapain kita ke sini?" tanya Rara. "Aku lagi males belanja, Zayn."


"Siapa yang ngajak kamu belanja. Kita mau makan siang, aku lapar." Zayn menarik tangan Rara ke sebuah restoran jepang dengan tema makan sepuasnya. Ia tahu kebiasaan Rara yang jika kesal, maka ia akan memakan semua jenis makanan dan sangat banyak.


"Kita makan sepuasnya," ucap Zayn.


Rara menatap haru ke arah Zayn. Pria ini memang paling mengerti dirinya. Bahkan lebih mengerti dari Reza suaminya.


Bwnar saja. Di sana Rara langsung memgambil.semua makanan yang tersedia dan meletakkan di meja yang mereka duduki.


Satu persatu, Rara meletakkan piring yang selalu berisi makanan penuh di meja itu.


Zayn sampai menganga melihat piring yang banyak di.mejanya. "Ra, kamu yakin akan memakan semua ini?"

__ADS_1


Rara mengangguk. "Tentu saja, ayo kita makan." Ia mulai memasak makanan yang ia ambil tadi di meja yang di sediakan.


Zayn tersenyum dan menggelengkan kepala. Ia membiarkan apa yang Rara inginkan, agar wanita itu bahagia.


__ADS_2