
Di rumah, Michelle terus memikirkan wajah Rara yang tidak asing untuknya. Sepertinya misal pernah melihat wajah itu, tapi ia lupa di mana.
“Oh, ya ampun. Iya aku pernah lihat wajah itu di kamera kakak,” ujar Michele pada dirinya sendiri.
Sessat ia teringat ruang kerja sang kakak yang tidak boleh di masuki oleh siapapun. Ruang kerja yang Zayn desiign sekaligus sebagai studionya sendiri. Hanya Jack yang sering memasuki ruangan itu. Ketika membeli rumah ini, Zayn memang sengaja mengosongkan satu kamar yang ia design sebagai studio atau tempatnya mencari ide kreatif.
Michelle yang semula duduk di sofa ruang televisi itu pun penasaran dengan isi ruangan itu. Selain Jack, si Bibi juga orang yang dipercaya Zayn untuk masuk ke ruangan itu untuk membersihkannya dua hari sekali. Dan, hari ini adalah jadwal si Bibi membersihkan ruangan itu.
Michelle menaiki anak tangga itu, karena kebetulangan ruang kerja Zayn ada di lantai dua. Entah mengapa Michelle merasa ruangan itu adalah ruangan yang dipenuhi dengan foto-foto ibu Zac dan Zoey.
Michelle sampai di lantai dua. Ia melihat si Bibi yang hendak keluar dari ruangan itu.
“Eh, Non. Mau ngapain?”
“Bibi udah bersih-bersihnya?”
Si Bibi mengangguk.”Sudah, Non.”
“Saya mau masuk sebentar, tadi kakak telepon katanya saya di suruh ambil berkas di sana.”
“Oh gitu. Baik, Non.” Tanpa curiga, si Bibi langsung membuka pintu itu kembali.
Michelle masuk ke ruangan itu perlahan dan benar, dinding di ruangan ini hampir terisi dengan foto Rara dalam berbagai pose.
Michel menganga dan menutup mulutnya. Ia tak percaya karena ternyata ibu Zac dan Zoey adalah ibu guru mereka di sekolah.
“Non, katanya mau cari berkas?” tanya Si Bibi yang melihat Michelle hanya berdiri dan memandangi foto itu.
“Sssttt ... Maaf Bi, saya membohongi Bibi. Saya hanya ingin melihat foto-foto ini,” jawab Michel.
“Ya ampun, Non. Nanti Daddy marah,” ucap Si Bibi takut.
“Ngga akan marah, kalau Bibi ngga cerita. Jangan bilang-bilang kalau saya masuk ke ruangan ini, oke!” Michelle menunjukkan bibir yang bungkap dan terkunci.
Dan, Si Bibi pun mengangguk cepat.
Michel terus menelusuri semua foto-foto dengan bidikan yang tepat, sehingga hasilnya pun menjadi indah dan cantik, karena yang menjadi objeknya pun memang dasarnya cantik.
Zayn juga meletakkan beberapa barang yang menjadi kenangannya bersama Rara. Barang-barang itu ia bingkai dan ia pajang rapih. Michelle melihat dua buah tiket nonton yang usang terpajang dengan bingkai. Tiket nonton yang usianya dua belas tahun silam. Ia tak menyangka sang kakak begitu romantis, menyimpan cintanya begitu dalam. Lalu, ia teringat perkataan Zayn kemarin.
“Kak, kok udah ninggalin kita ke luar kota sih. Zac dan Zoey kan baru masuk sekolah. Harusnya ditemenin dulu satu minggu,” kata Michelle waktu itu.
“Ngga usah ditemenin. Mereka bersama orang yang tepat di sana, kamu cukup mengantar dan menjemputnya saja. Lagi pula, Dia pasti akan menjaga Zac dan Zoey dengan sangat baik.”
“Dia?” tanya Michelle pada dirinya sendiri ketika mengingat percakapan itu. “Oh, berarti kakak sudah tahu bahwa guru mereka itu adalah ibunya.”
Michelle menggelengkan kepala. Percintaan sang kakak memang benar-benar rumit.
****
__ADS_1
Dua hari berlalu, sejak Michelle tahu bahwa Rara adalah ibu yang melahirkan Zac dan Zoey, Michel sedikit menjaga jarak pada Rara. Gadis remaja itu hanya menjemput dan mengantar keponakannya itu ke sekolah, lalu pulang. Padahal sebelumnya Michelle sempat berbincang sejenak dengan Rara atau beristirahat sebentar di taman itu. Tapi, Michelle tidak ingin Rara bertanya macam-macam padanya. Ia tak ingin mendahului sang kakak. Karena hari sebelumnya, Rara sempat bertanya pada Michelle tentang Zac dan Zoey. Rara bertanya Michelle, Zac dan Zoey berapa bersaudara? Prang tua mereka bekerja dimana? Dan hal itu, cukup membuat Michelle pusing.
Kini, Michelle sudah berdiri di depan pintu gerbang sekolah si kembar. Ia mengedarkan pandangannya mencari Zac dan Zoey dan kebetulan hari ini ia aga sedikit terlambat menjemput.
“Hai, Michelle.” Sapa Rara yang kebetulan tengah menemani Zac dan Zoey di taman.
Bulan dan Bintang baru saja di jemput oleh Eyang uti-nya dan Rara baru selesai berbincang dengan ibu dari Reihan itu.
Zac, Zoey. Jemputan kalian datang,” ujar Rara setelah melihat Michelle dan Michelle pun melihat mereka.
“Michelle,” teriak Zac dan Zoey bersamaan sembari berlari kencang ke arah tantenya itu.
“Zac, Zoey. Jangan lari!” Rara mengejar kedua anak itu, ia khawatir si kembar jatuh.
“Hai, Miss.” Michelle menyapa Rara.
“Hai, Michelle. Daddy-nya kembar belum pulang?” tanya Rara, membuat Michelle kembalo bingung menjawab pertanyaan itu.
“Belum, Miss. katanya malam ini mau pulang karena pekerjaannya sudah selesai,” jawab Zac.
Michelle sontak menarik tangan Zac dan Zoey agar cepat-cepat pulang.
“Aww ... tanganku sakit, Michelle,” kata Zac karena Michelle cukup keras menarik lengan Zac.
Rara baru saja ingin bicara, tetapi Michelle sudah lebih cepat berjalan meninggalkannya yang masih memamtung.
Zoey menoleh ke arah Rara dan berteriak dari kejauhan. “Miss, besok pagi aku akan di antar Daddy.”
“Dasar anak kecil,” gumam Rara sembari menggelengkan kepala.
Di parkiran, Michelle mengajak si kembar masuk ke mobil dengan terburu-buru. Lalu, ia mulai mengalakan mesin mobil itu dan menjalankannya. Michelle belum memiliki surat izin mengemudi mobil, oleh karena itu Zayn mengizinkan mengendarai mobil itu hanya di area yang dekat dengan rumahnya.
“Michelle ... Awas!” teriak Zac dan Zoey karena Michelle menabrak seseorang.
“Aaa ...” Michelle pun ikut teriak.
Untungnya kejadian ini masi di dalam parkiran yayasan milik Reihan. Mobil yang Michelle kendarai belum keluar dari area gedung ini.
“Ada apa tuh Miss?” tanya Bu Nur yang mendengar riuh di luar sana.
Rara mengerdikkan bahunya dan mereka langsung berlari ke sumber riuh itu.
“Uncle, are you okey?” tanya Zoey pada pria yang terjatuh itu.
Michelle yang tidak hati-hati, tidak melihat pria itu melintas saat ia membelokkan mobilnya. Michelle dan Zoey menghampiri pria itu, sementara Zac berlari ke dalam sekolahnya untuk meminta bantuan pada Rara.
Pria itu menonggak dan melihat Zoey. Ia melihat raut wajah anak kecil itu seperti melihat wanita yang ia sukai sejak kecil. Wajah Zoey seperti duplikasi Rara saat kecil dan tepat di usia Zoey saat ini, pria itu sudah menyukai Rara.
“Uncle, kamu baik-baik saja. Maafkan aku. Aku tidak melihat uncle melintas,” ujar Michelle yang hendak membantu pria itu berdiri.
__ADS_1
“It’s oke.” Pria itu tersenyum.
Pria itu adalah Reza. Reza sengaja datang hari ini untuk menemui Rara. Sungguh ia rindu sekali dengan mantan istrinya itu.
“Bapak tidak apa-apa? Tanya securiti sekolah.
Untungnya sekolah ini sudah tidak lagi ramau, karena siswa taman kanak-kanak sudah hampir semua pulang dan siswa sekolah menengah pertama sudah bel dan memulai kegiatan belaajr mengajar kembali di kelasnya.
“Ada apa ini?” tanya Bu Nur yang alri menghampiri tempat kejadian bersama Rara.
Rara pun melihat pria yang tengah mengusap lengan dan lututnya.
“Kak Reza?”
Reza menoleh ke arah Rara. “Sa ...” Baru saja Reza akan memanggil Rara dengan panggilan sayang. Namun ia sadar dan mengubahnya. “Ra.”
“Miss kenal?” tanya Zac.
Reza memperhatikan wajah Zac dan Zoey dengan seksama. Ia memang tidak eprnah tahu rupa bayi yang dilahirkan Rara, tapi ia cukup tahu nama bayi itu.
Rara mengangguk.
“Oh, ini teman Miss Rara?” tanya Bu Nur juga.
Rara kembali mengangguk.
“Wah lengan ada lecet pak,” kata security.
“Di obati saja, di ruang UKS,” sahut Bu Nur.
“Ya, nanti saya obat. Zac dan Zoey kembali pulang. Oke.”
“Zac dan Zoey?” tanya Reza dalam hati. “Apa mereka anak Zayn dan Rara? Mereka di kota ini bersama?”
Reza terdiam. Ia terus meneliti wajah dua anak kembar itu dengan seksama. Otaknya kembali berpikir bahwa selama Rara diluar jangkauannya ternyata Zayn sudah berhasil merebut mantan istrinya itu.
“Ah, si*l.” Reza terus bergumam dalam hatinya.
“Ucle, sekali lagi saya minta maaf,” ucap Michelle membuyarkan pikirannya yang bergumam tadi.
Reza hanya mengangguk.
“Kakak, ikut aku ke ruang UKS. Aku obati.” Rara mengajak Reza untuk masuk ke gedung sekolah itu.
“Michelle lain kali hati-hati ya,” ucap Rara lagi pada Michell.
Michelle mengangguk. “Iya, Miss.”
“Ya sudah, kalian pulang.” Rara kembali mengusap kepala Zac dan Zoey, lalu memnemani emreka hingga masuk ke dalam mobil Michelle.
__ADS_1
Reza terus memperhatikan kebersamaan Rara dengan anak kembar itu. Entah mengapa ia seolah yakin bahwa anak kembar itu adalah anak Zayn, karena wajah keduanya memang mirip dengan Zayn dan Rara. Apa Rara sudah tahu mereka anaknya? Di otaknya timbul segudang pertanyaan. Jika Rara mengetahui hal itu, maka pupuslah harapannya untuk kembali bersatu.