Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
"Maafkan aku, Mas."


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Manda telah diberi tahu si Bibi bahwa Tuannya tengah marah besar di dalam kamar dan perlahan Manda pun berjalan menuju kamar itu. Sebelumnya hati Manda sudah berdetak tak karuan ketika di depan gerbang ia melihat mobil Reza yang terparkir di sana. Semoga saja, Reza tidak memasuki kamarnya, pikir Manda. Karena ia ingat betul saat ia meninggalkan kamar itu, ia belum merapikan buku harian yang berapa bulan terakhir ini baru ia temukan lagi.


Manda berdiri di ambang pintu, melihat suaminya tengah duduk di meja yang semula ia duduki satu jam lalu dan menulis di buku yang kini sedang dipegang Reza.


Reza duduk di kursi itu dengan satu tangannya lagi menyangga kepala yang pusing. Rasa marah bercampur kesal membuat kepalanya terasa berat. Ia ingin melampiaskan marah ini pada Manda yang telah memorak-porandakan hidupnya. Walau ia sudah melampiaskan kemarahannya dengan menghancurkan segala yang ada di meja itu, tetapi ia tetap butuh jawab atas semua ini.


“Mas,” panggil Manda pelan.


Reza pun langsung menoleh ke sumber suara yang memanggilnya. Ia menatap tajam ke arah Manda seolah ingin menelannya hidup-hidup.


Perlahan, Manda mendekati suaminya. “Mas baca buku aku? Sini kembalikan!”


“Kamu mau ini!” Reza menyerahkan buku tebal itu dan Manda hendak meraihnya.


Namun, Reza dengan cepat menarik kembali buku itu agar tidak jatuh ke tangan Manda. Lalu, ia tertawa seperti orang gila beberapa saat, kemudian kembali terdiam.


Manda berdiri dengan tubuh gemetar. Sejujurnya ia pun takut dengan sikap suaminya yang sangat menakutkan.


“Sejak pertama kamu menjadi sekretarisku. Aku sudah tidak menyukaimu. Entah mengapa? Tapi kau selalu mengambil kesempatan untuk bisa berdekatan denganku.” Reza menghelakan nafasnya mengingat hal itu. lalu, ia kembali berkata, “hingga kamu menjadi istriku saja, aku tetap tidak bisa menyukaimu. Walau Papa selalu mendesakku untuk mengesahkan pernikahan kita. Tapi entah mengapa aku enggan melakukan itu.”


Reza mengalihkan pandangan ke arah Manda yang semula memalingkan pandangan itu ke sembarang arah.


“Dan, sekarang aku tahu mengapa hatiku enggan memilihmu.”


Manda mematung. Bibirnya kelu, tak dapat membalas perkataan Reza.


Brak

__ADS_1


Reza melempar keras buku itu ke meja hingga Manda terkejut dan tubuhnya terperanjat.


“Mas, dengarkan aku dulu. Aku tidak bermaksud untuk ...”


“Diam!” teriak Reza di depan Manda. “Aku tidak butuh penjelasan yang lain. Aku hanya butuh satu jawaban yang jujur.”


Reza semakin mendekatkan tubuhnya pada tubuh Manda yang mematung, hingga mereka berhadapan dekat tanpa jarak. Reza menatap Manda dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia tahu saat ini wanita itu tengah hamil besar. namun, ia tak kuasa menahan diri untuk tidak emosi.


“Apa Noah anakku?” tanya Reza sambil membungkukkan sedikit tubuhnya agar wajah Reza berpapasan dengan wajah Manda.


Manda membisu. Wanita dengan perut besar itu, tidak mampu menjawab perkataan Reza.


Reza geram melihat Manda yang hanya diam. Ia pun mencengkram dagu Manda dengan suara tinggi. “Jawab!”


Manda gelagapan dan menjawab dengan suara lirih. “Ten ... tu saja.”


Dengan cepat kepala Manda menggeleng. “Aku tidak bermaksud melakukan itu.”


Plak


Reza menampar keras pipi Manda, hingga perempuan itu memegang pipinya yang merah dan menangis.


“Maafkan aku, Mas.” Rintih Manda.


Plak


Kini Reza kembali menampar pipi sebelahnya.

__ADS_1


“Mas,” panggil Manda memohon dengan deraian air mata.


Lalu, Reza kembali mencengkeram wajah Manda hingga tlapak tanganya yang besar itu seolah mencekik leher Manda. “Jawab, Sar. Apa Noah anakku?”


Manda masih bungkam dan hanya terdengar isakan tangisnya saja.


“Jawab Manda. Apa kamu tuli? Apa kamu bisu?” tanya Reza dengan wajah yang semakin memerah menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.


“Ti ... dak ta ...hu,” jawab Manda terbata-bata.


“Sh*t.” Reza menghempaskan tubuh Manda, mendorongnya hingga tubuh kecil itu terbentur ranjang dan terjatuh.


Isakan tangis Manda semakin kencang. “Mas.” Ia meraung.


Si Bibi yang mendengar teriakan Reza di dalam kaamr itu pun tak mampu untuk melerai. Ia terlalu takut pada majikannya yang selalu terlihat dingin dan tak pernah tersenyum apalagi tertawa.


“Setelah kau melahirkan, aku pastikan aku akan menalakmu,” ucap Reza yang langsung pergi meninggalkan Manda yang tengah meringis kesakitan sambil memegang perutnya.


“Mas, jangan tinggalkan aku! Aku mohon.” Kata Manda saat melihat Reza yang kembali mengenakan jasnya dan mengambil kunci mobilnya di meja itu.


“Mas, Jangan pergi! Aku sangat mencintaimu.”


Reza melirik ke arah Manda dengan jijik. Ia sungguh kesal dengan wanita licik ini. Walau Manda tidak menjawab pertanyaannya tadi tentang Noah dengan jelas, ia pastikan bahwa ia akan mencari tahunya sendiri dengan tes DNA atau rambut Noah, karena kebetulan anak itu sedang berada di apartemennya bersama Kemal dan Mirna.


Manda melihat kepergian suaminya. Reza meninggalkan istrinya yang sedang kesakitan tanpa iba. Sedangkan Manda terus terisak. Sungguh, ia tak tahu Noah itu anak Reza atau anak dari pria pertama yang berhasil menyentuh Manda dua minggu sebelum Reza. Yang jelas setelah beberapa minggu setelahnya, ia tak lagi menemukan masa periodenya lagi hingga dinyatakan hamil pada bulan kedua setelah kejadian itu.


“Mas.”

__ADS_1


Tubuh Manda luruh di lantai. Air matanya terus mengalir. “Maafin aku, Mas.”


__ADS_2