Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Bonchap 5


__ADS_3

Have I ever told you


I want you to the bone


Have I ever called you


When you are all alone


And if I ever forget


To tell you how I feel


Listen to me now, babe


I want you to the bone


I want you to the bone, oh


I want you to the bone, oh


Oh, maybe if you can see


What I feel through my bones


And every corner in me, oh


That's your presence that grown


Maybe I nurture it more


By saying how I feel


But I did mean it before


I want you to the bone


I want you to


Take me home, I'm fallin'


Love me long, I'm rollin'


Losing control, body and soul


Mind too for sure, I'm already yours


Walk you down, I'm all in


Zayn memainkan piano yang berada di bawah tangga sembari menyanyikan lagu yang berjudul To the bone dari Pamungkas. Sejak dulu, ia sangat menyukai lagu ini. Lagu yang menurutnya pas untuk Rara, karena ia memang mencintai wanita itu dengan sangat dalam hingga sampai ke tulang.


Hold you tight, you call


I'll take control, your body and soul


Mind too for sure, I'm already yours


Would that be alright? Yeah


Hey, would that be alright?


I want you to the bone, yeah


So bad I can't breathe, no


I want you to the bone


Rara menyimak suaminya dengan menatap ke arah sang suami tanpa kedip sembari menopang dagu. Bibirnya tak henti tersenyum. Ia terharu mendengar nyanyian yang sengaja Zayn persembahkan untuknya di minggu malam yang dingin karena diluar hujan tak henti sejak siang.


Of all the ones that begged to stay


I'm still longing for you


Of all the ones that cried their way

__ADS_1


I'm still waiting on you


Sambil bernyanyi, Zayn melirik ke arah Rara dengan sesekali ke arah keyboard piano yang ia tekan. Sungguh satu keajaiban, ia bisa berada di titik ini. Melihat wanita yang ia cintai sekaligus ibu dari anak-anaknya tengah bersama dua buah hatinya di sana dan melihat dirinya memainkan piano, alat musik yang ia sukai selain gitar.


Maybe we seek for something that


We couldn't ever have


Maybe we choose the only love


We know we won't accept


Or maybe we're taking all the risks


For something that is real


'Cause maybe the greatest love of all


Is who the eyes can't see, yeah


Take me home, I'm fallin'


Love me long, I'm rollin'


Losing control, body and soul


Mind too for sure, I'm already yours


Walk you down, I'm all in


And hold you tight, you callin'


I'll take control, your body and soul


Mind too for sure, I'm already yours, no, yeah, yeah, yeah


Oh yeah


Hey, I want you to the bone, oh


I want you to the bone, bone, bone, bone


I want you to the moon and back, hey


“Yeay .... Daddy hebat,” seru Zac dan Zoey sambil bertepuk tangan.


Rara pun ikut bertepuk tangan, setelah Zayn selesai menyanyikan lagu itu.


“Suara Daddy bagus,” kata Zac.


“Memainkan pianonya juga bagus, Dad,” sambung Zoey.


Zayn tersenyum. “Ya, itu karena di depan Mommy. Kalau di depan orang lain, Daddy tidak bisa.”


“Bohong,” kata Zac dan Zoey bersamaan.


Zac dan Zoey langsung berlari ke arah sang ayah yang duduk di depan alat musik yang sedang ia mainkan.


“Daddy ajari aku cara memainkan ini,” kata Zoey.


“Aku juga mau, Dad.” Zac pun ikut merengek.


Keduanya dudu di samping kiri dan kanan Zayn. Lalu, Rara ikut bangkit. Ia mendekati anak dan suaminya di sana. Rara memeluk bahu suaminya dari belakang.


“Mommy juga mau diajarkan, Dad.” Rara ikutan merengek seperti kedua anaknya tepat di belakang telinga Zayn.


Lalu, Zayn menjawab dengan nada berbisik. “Khusus untukmu akan aku ajarkan sesuatu yang spesial.”


“Apa?” tanya Rara yang memang tak menangkap maksud mesum suaminya.


Zayn kembali mendekatkan bibirnya dengan telinga Rara sambil mengajarkan kedua anaknya cara memainkan piano. “Nanti di kamar.”


“Daddy,” rengek Rara yang kemudian memukul bahu suaminya pelan.

__ADS_1


Zayn pun terkikik geli.


Zayn sungguh bahagia karena dikelilingi orang yang ia cintai. Bahkan bisa hidup bersama dengan mereka dalam satu keluarga yang utuh.


****


Keesokan harinya, Rara dan Zayn melakukan aktivitas masing-masing. Setiap pagi, Zayn tidak pernah absen untuk mengantar anak dan istrinya ke sekolah. Rara tidak jadi berhenti mengajar, karena memang belum ada orang yang menggantikan posisinya.


Zac dan Zoey sudah memasuki sekolah dasar, untungnya mereka tetap bersekolah di yayasan milik Reihan itu, sehingga Rara yang waktu selesai belajarnya lebih dulu dari Zac dan Zoey, kemudian menunggu hingga kedua anaknya selesai. Sedangkan Zayn, langsung berangkat ke studio setelah mengantar anak istrinya. Jika ia sedang tidak ke studio, maka ia akan memaksa sang istri untuk cuti dan menemaninya di rumah.


Di tempat berbeda, Reza dan Essy hanya tinggal menghitung hari untuk menuju pelaminan dan merubah status mereka menjadi suami istri. Rara dan Zayn ikut andil dalam pesta pernikahan itu. Bahkan, tim Zayn menjadi tim photografer untuk Reza dan Essy. Saat foto prewed, malah Zayn sendiri yang menshoot mereka.


Siang ini, Reza sengaja mendatangi kantor calon istrinya. Sudah satu minggu mereka tak bertemu. Essy melarang Reza untuk menemuinya, karena mereka sedang dipingit, mengingat lusa adalah ahri pernikahan mereka.


Reza langsung memasuki ruang kerja Essy yang kosong, karena kebetulan wanita itu sedang rapat. Ia duduk di kursi kerja Essy sembari mengotak atik laptop calon istrinya.


Tak lama kemudian, Essy datang dan masuk ke ruangannya sendiri. “Kak, kamu di sini?” tanyanya.


“Hai, Sayang.”


Essy mendekati calon suaminya dan saling berciuman pipi.


“Kak kan kita ga boleh ketemu sampai lusa,” kata Essy.


“Aku ga kuat, Sayang. Aku rindu.”


“Ck,” jawab Essy malas, karena semakin lama Reza semakin mesum.


Lalu, Essy meminta Reza untuk pindah tempat duduk. “Ayo, Mas pindah duduknya.”


Essy berdiri di samping kursi yang sedang Reza duduki, sementara tangan kiri Reza melingkar di pinggang Essy sedangkan tangan kanannya masih mengotak atik laptop itu.


Reza melihat isi chat yang ada di laptop itu.


“Kamu ngapain sih, Mas?” tanya Essy sembari melihat ke arah mata Reza yang serius di depan benda elektronik itu.


“Ga ada chat macem-macem,” kata Essy lagi yang melihat Reza tengah memeriksa setiap nama yang ada di dalam chat nya.


Reza tersenyum. Memang tidak ada nama pria di chat itu. “Cuma lihat saja. Siapa tahu, calon istriku nakal.”


Essy memukul bahu Reza. “Enak aja.”


Reza tertawa dan menarik pinggul Essy untuk duduk di pangkuannya. “Sebentar lagi, kamu akan jadi milik aku.”


Reza hendak mencium bibir Essy. Namun, dengan cepatb tangan Essy menutup mulut Reza. “Jangan mesum. Ini kantor.”


Reza tertawa. “Biarin.”


“Kak, lepasin ga? Aku mau kerja,” rengek Essy. “Duduk di sana, gih!” Essy menunjuk sofa yang ada di depannya.


Reza menggeleng. “Ga mau. Aku maunya duduk di sini.”


“Ck. dasar baege labil,” kata Essy kesal dan kemudian merubah posisinya menghadap laptop.


Reza tertawa dan tetap memangku essy yang duduk membelakanginya.


Essy kembali fokus pada laptopnya dan menjawab pesan di chat itu sembari koordinasi dengan rekan-rekannya di sana.


Sementara, Reza tak tinggal diam. Kedua tangannya berada di pinggang Essy dengan terus bergerilya di paha mulus itu. Reza menyingkap rok Essy dan mengelus kulit mulus itu.


“Kak, tangan kamu bisa diem ga?” ucap Essy sembari mengetik.


“Ngga,” jawab Reza di telinga Essy sembari bibirnya menyusuri leher calon istrinya itu.


“Kak, aku marah ya kalau kamu kaya begini terus.”


Reza tertawa. Lalu, ia menggigit leher Essy.


“Ah, Kak.”


Essy langsung menoleh ke belakang dan memarahi Reza. “Ish, kamu tuh ya bener-bener deh. Kalau aku ga tahan-tahan, aku bisa-bisa hamil duluan ini.”


Reza tertawa dan memeluk tubuh Essy yang masih dengan posisi yang sama. Ia memeluk erat pinggang Essy dari belakang dengan menyandarkan kepalanya di punggung belakang Essy.

__ADS_1


“Aku cinta banget sama kamu, Sayang. Aku ga bisa jauh dari kamu.”


Essy pun tersenyum dengan tangan yang masih berada di keyboard laptop. “Dua hari lagi kok. Sabar ya!”


__ADS_2