
Kemal, Reza, dan Zayn berjalan ke rumahnya. Di sana, Zayn di sambut oleh para pembantu dan penjaga rumah Kemal. Lima tahun lebih, mereka tidak bertemu Zayn.
“Ya, ampun. Den. Makin ganteng aja,” kata si Bibi.
“Bisa aja, Bi.” Zayn tersenyum dan duduk di meja makan. Ia sengaja langsung ke dapur, menghindari kebersamaannya dengan Reza.
Kemal langsung ke kamarnya dan menelepon Mirna. Ia menceritakan semua yang terjadi di sini pada sang istri. Mirna pun akan segera terbang hari ini ke tanah air. Sejak semalam hatinya tidak tenang memikirkan putra-putranya di sini.
Sedangkan, Reza kembali ke kamarnya. Ia memandangi semua fotonya bersama Rara yang menempel di dinding kamar itu. Dinding kamar itu memang di penuhi oleh beberapa foto mereka, juga foto pernikahan mereka.
“Aku tidak ingin berpipsah darimu, Ra. Aku bisa gila tanpamu, Ra.” Ucap Reza sembari emnadang foto pernikahan mereka.
Di Bandung, Manda pun menangis sejak semalam. Ia memang salah karena telah menyukai pria beristri itu sejak pandangan pertama. Entah mengapa aura Reza begitu mempesona dimatanya sejak pertama jumpa. Walau semula, ia tidak meminta pertanggungjawaban atas insiden itu, tetapi ketika Reza bertanggungjawab, ia menjadi tidak ingin lepas dari pria itu. Manda tidak keberatan dijadikan yang kedua, yang penting ia bersama Reza.
Namun, melihat keterpurukan suaminya semalam, membuatnya merasa bodoh, karena sampai kapanpun ia tidak akan emmpunyai tempat dihati Reza, padahal ia sudah melahirkan keturunannya dan sebentar lagi ia pun akan melahirkan keturunan Reza yang kedua.
“Ma, papa ana?” tanya Noah yang sedang bermain bersama sang ibu di taman belakang rumahnya.
Reza membelikan rumah yang cukup besar untuk Manda dan Noah. Ia juga selalu memenuhi kebutuhan mereka. Perhatian yang diberikan Reza untuk Noah pun sangat cukup karena pria itu tidak pernah absen berkunjung walau hanya dua minggu sekali.
Ketika malam dimana Reza melampiaskan hasrat itu pada Manda. Manda senang bukan main. Ia pikir, Reza sudah membuka hati untuknya dan benar-benar akan memperlakukan layaknya istri yang dinikahi karena cinta bukan tanggung jawab. Tapi ternyata, Reza melakukan itu karena cemburu pada istri tercintanya.
“Papa balik ke Jakarta. Papa harus kerja, kan buat Abang sama adek bayi yang diperut Mama.”
“Teyus, kapan Noah bisa maen gi ama Papa?” tanya Noah dengan wajah polos.
“Nanti kalau kerjaan Papa di sana sudah selesai.”
Noah pun mengangguk. Manda mencium kening anak itu berkali-kali. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Rara seperti itu. Sungguh, ia ingin Rara kembali pada Reza. Ia tidak masalah jika terus menjadi yang kedua. Ia juga sudah dekat dengan Rara dan senang jika Rara mau menganggapnya sebagai adik juga sebagai madunya.
Manda terus mengirim pesan pada Rara, walau pesan itu masih ceklist satu sejak semalam.
“Mba Rara, maafin aku. Maafin Mas Reza. Dia sangat mencintai Mbak Rara. Dia mengurung diri semalam di ruang kerja, tidak mau makan. Kasihan Mas Reza, Mbak.”
“Kalau Mbak rara ingin aku yang pergi. Aku akan pergi tapi Mbak Rara ngga boleh pisah dari Mas Reza. Aku mohon.”
Manda kembali mengetik pesan dan mengirimkannya pada Rara. Ia marik nafasnya aksar saat melihat pesan itu masih tetap centang satu.
Di rumah Kemal, Zayn pamit pada sang ayah untuk kembali ke Lembang. Mereka berbincang sebentar, lalu Kemal mengantarkan Zayn hingga anak bungsunya itu menjalankan menyalakan mesin mobil yang ia kendarai. Zayn sengaja tidak berpamitan pada Reza, karena sang kakak sepertinya belum bisa memaafkan kesalahan Zayn.
Di rumah Sanjaya. Ia bersama istrinya masih berada di kamar Rara, menemani putri kesayangannya di sini. Kedua orang tua Rara memberi support pada putrinya. Ia menyerahkan semua keputusan pada sang putri yang semakin dewasa.
__ADS_1
“Jika aku berpisah dengan Kak Reza, bagaimana hubungan Ayah dengan Papa?” tanya Rara lirih.
“Sayang, jangan fikirkan itu! Ayah dan Kemal akan tetap menjadi sahabat. Jangan kamu beratkan hubungan kami! Yang penting dirimu sendiri,” jawab Sanjaya.
“Benar, Ra. Jangan kamu mempertahankan pernikahanmu hanya karena hubungan kami. Wlaau kamu dan Reza tak lagi bersama, Bunda yakin Mia dan Kemal akan tetap menganggapmu putrinya.”
Rara kembali memeluk sang ibu. Dan Sanjaya pun memeluk istri berserta putrinya.
“Kami semua menyayangimu, Nak.”
“Terima kasih, Ayah ... Bunda. Rara merasa tidak sendiri.”
****
Keesokan harinya, Rara baru menyalakan ponsel. Ponsel itu praktis tidak menyala hampir dua hari. Puluhan panggilan dan ratusan notif pesan whatsapp berbunyi berkali-kali, ketika ponsel itu diaktifkan. Banyak sekali pesan dari mulai grup ibu-ibu rumpi, grup teman-teman kampus, pesan dari Reza juga dari Manda.
Rara membuka pesan dari Manda. Ia membaca semua pesan-pesan itu. Ia pun bisa merasakan rasa bersalah itu, padahal ia tahu disini Manda juga korban. Rara tidak pernah tahu bahwa Manda juga menyukai suaminya. Namun, yang ia tahu Manda adalah wanita yang baik, hanya saja ia terjebak dengan keadaan.
Membaca pesan Manda yang mengatakan Reza tak mau makan, Rara menjadi khawatir. Ia pun membuka pesan suaminya.
“Sayang. tolong maafkan aku. Bicaralah padaku. Kiat harus bertemu. Aku sanagt merindukanmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu.”
Seketika airmata yang semula sudah tidak ingin ia keluarkan lagi, akhirnya luruh kembali.
“Ra, jangan lupa, lusa kita raker di Lembang.” Ibu-Ibu rumpi itu berulang kali mengingatkan Rara.
Ah, ia lupa kalau weekend ini ada acara rapat kerja di tempatnya mengajar. Setiap libur akhir semester yayasan itu memang selalu mengadakan rapat kerja untuk mengevaluasi sekaligus merancang kegiatan semester mendatang.
“Ya, aku ingat Wid. Maaf baru membalas.” Rara hanya membalas pesan dari Widya.
Rara masih berpikir keadaan Reza, walau bagaimana pun Reza saat ini masih suaminya. Ia masih memiliki tanggung jawab sebagai istri. Lalu, Rara merapihkan diri dan segera keluar dari kamar.
“Ra, kamu mau kemana?’ tanya Mia.
“Rara mau ke rumah Mas Reza, Bun.”
“Kamu yakin?” tanya Sanjaya.
Rara mengangguk. “Kami memang harus bicara.”
Sanjaya mengangguk, begitu pun Mia.
__ADS_1
“Ya, kamu memang tidak bisa terus menghindar. Hadapilah dan selesaikanlah,” kata Sanjaya.
Mia mengangguk. “Soal kamu mau menerima atau tidak kesalahan Reza. Kami akan selalu mendukungmu.”
Rara kembali memeluk kedua orang tuanya. Sungguh ia beruntung dikeelilingi orang yang selalu mencintai dan selalu ada untuknya.
Rara pun berjalan menuju rumah Kemal.Kemal yang sedang duduk di teras pun langsung tersenyum melihat kehadiran menantunya.
“Rara.”
“Papa.”
Walau hari ini masih hari kerja, tapi Reza atau pun Kemal tidak ke kantor. Energi mereka serasa habis kemarin dan ingin berisitirahat hari ini.
“Kak Reza belum sarapan, Pa?” tanya Rara.
Kemal menggeleng. “Bahkan dari semalam.”
“Sekarang dia dimana?”
“Di ruang kerja. Temuilah, Papa tidak tega melihatnya.”
Rara mengangguk dan langsung berlari menuju ruang kerja.
Brak
Rara membuka pintu itu, sedangkan Reza yang sedang telungkup di meja kerjanya terkejut dan tersenyum ketika melihat wanita yang ia cintai itu berdiri di depan pintu.
“Sayang.” Reza langsung berlari ke arah Rara dan emmeluknya.
Rara masih mematung. Namun isakan tangis Reza meluluhkan hatinya. Ia pun emenrima pelukan itu.
“Jangan tinggalkan aku, Sayang. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku mohon.”
“Aku tidak sengaja melakukan itu, saat itu aku mabuk berat dan ketika bangun aku sudah berada di kamar itu bersamanya. Aku juga terkejut saat kamu menunjuk seorang kasir yang tengah hamil tua. Dia hamil karena ulahku dan aku bertanggung jawab. Sungguh, sayang. aku menikahinya karena sebuah tanggung jawab. Aku tidak pernah mencintainya, karena aku selalu emncintaimu. Kalau pun kesalahan kedua itu terjadi. Itu karena aku cemburu melihat kedekatanmu dengan ketua yayasan itu dan aku melampiaskan kemarahanku padanya.”
Reza bersimpuh di kaki Rara. Ia terus menangis memohon pengampunan.
Namun, Rara hanya terdiam. Ia tak ikut menangis. Sepertinya ia sudah lelah menangis. Justru ia malah mengusap punggung Reza dan menenangkannya.
Memang tidak ada penjelasan yang berbeda antara Reza dan Manda waktu itu. Reza beanr-benar mengungkapkan yang sebenarnya. Apakah Rara akan menerima Reza kembali? Atau ia tidak lagi bisa menangis karena sudah merelakan Reza untuk Manda?
__ADS_1
Saat orang yang sepenuhnya sangat dipercaya, lalu meruntuhkan kepercayaan itu, maka tidak ada lagi yang tersisa. Itu yang dirasakan Rara saat pertama kali melihat Reza mencium kening Manda dari kejauhan dan melihat betapa harmonisnya keluarga itu.