Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Mendapat lampu hijau


__ADS_3

Ting Tong


Zayn menekan bel unit apartemen Jack dan dengan cepat Jack membuak pintu itu.


“Hei, ada angin apa kau menjemputku?” tanya Jack saat ia melihat bosnya berdiri di depan pintu.


“Hanya hari ini.” Zayn langsung mendorong tubuh Jack agar ia dapat masuk ke dalam apartemen itu.


“Jangan bilang kau habis menemui wanita pujaanmu itu?” tanya Jack meledek.


Tenggorokan Zayn terasa kering. Ia sungguh masih terkejut melihat fotonya bersama Rara yang masih wanita itu pajang. Antara terkejut dan bahagia, karena ternyata Rara selalu mengingatnya.


Zayn membuka lemari es dan langsung meneguk ari mineral yang ada di botol itu hingga tandas, membuat Jack menganga.


“Lu abis olahraga di kamar 426?” tanya Jack.


Sontak Zayn melempar botol kosong yang isinya telah masuk ke dalam tenggorokannya itu. “Si*l lu, Rara bukan wanita seperti itu.”


Jack tertawa walau tubuhnya tidak sempat menghindari botol kosong itu hingga tubuhnya terkena benda itu. “Iya, deh percaya.”


Jack terus tertawa.


“Belom mandi lu? Dasar males, mau jalan jam berapa?” tanya Zayn pada asistennya.


“Lu kepagian Bos.” Jack mengajak Zayn untuk melihat jam dindingnya.

__ADS_1


“Ck, ngga apa-apa. Udah ayo jalan!” Zayn mengubrak-gubrak Jack agar bangun dari duduknya dan segera ke kamar mandi.


“Gue belom makan Zayn. Laper.” Jack baru saja membuat sandwich sebelum Zayn membunyikan bel tadi.


Kini, ia akan melahap makanan hasil buatannya itu. Lalu, Zayn beralih ke sofa yang erada tak jauh dari etmpat Jack duduk. Ia duduk di sana dan melipat kedua kakinya lurus di atas meja pendek itu sembari melipat kedua tangannya di belakang kepala.


“Hah ...” Zayn menarik nafasnya panjang.


Ia seperti mendapat lampu hijau dari Rara, walau ketika Zayn bertanya tadi, Rara tak menjawab dan hanya diam saja. Tapi, Zayn yakin, selama ini Rara pun merindukannya. Ia semakin yakin bahwa perasaan Rara pada Reza bukan cinta tapi mengagumi, karena terbukti dengan cepatnya wanita itu pulih dari keterpurukan kemarin. Secara psikologi, untuk wanita yang dikhianati dalam rumah tangga seharusnya Rara trauma dan pulih dengan waktu yang cukup lama. Tetapi ini tidak, bahkan dia sudah bisa menerima Reihan sebagai teman.


“Jack, dia masih memajang foto kami,” ujar Zayn.


“Foto apa?” tanya Jack yang masih menikmati sarapannya itu.


“Gue lihat, dia pajang foto gue sama dia waktu kami masih remaja,” kata Zayn lagi.


“Masa? Tapi kenapa dulu dia nerima cinta Reza?”


“Ya, karena Reza yang mengutarakan cintanya lebih dulu. Mungkin kalau waktu itu lu yang mengutarakan perasaan lu lebih dulu. Keputusan dia akan berbeda,” jawab Jack.


“Begitu?”


Jack tertawa. “Cuma predikat playboy doang lu, tapi ngga ngerti perasaaan perempuan.”


“Emang lu ngerti?” tanya Zayn meledek sembari menoleh ke arah sahabatnya.

__ADS_1


“Ya, ngerti lah. Walau gue belom pernah pacaran.” Jack bangun dari duduknya dan melewati Zayn.


“Jangan lupa! Besok kita berangkat ke Jogya,” kata Jack lagi.


“Ya, gue inget.”


“Kirain gegara mulai deket sama Rara, lu jadi oleng dan lupa sama jadwal.”


“Si*l lu.” Zayn kembali melempar bantal kecil yang ada di sofa itu. Namun kali ini, Jack dapat menangkap benda itu dan menaruhnya kembali dengan benar di sofa itu.


Jack tersenyum meledek, lalu pergi ke kamar mandi.


Zayn sudah meresmikan kantor itu sejak lama, ketika ia pulang bersama Clara dan Marco beberapa bulan lalu, sekalian menjenguk ayah Clara yang sedang sakit. Setelah meresmikan kantor itu dan menjenguk ayah dari ibu sambung Zayn itu, mereka kembali ke Paris. Clara pun membawa ayahnya untuk berobat di negara itu.


Dengan keberadaan Michelle, Zayn, Zac dan Zoey di negera ini, membuat Clara lebih fokus dalam mengurus ayahnya hingga pulih di sana.


Di tempat lain, Sanjaya dan Mia hampir sampai di apartemen putrinya. Mereka memang sengaja ingin mengunjungi sang putri, mengingat sudah lebih dari satu minggu sang putri jarang memberi kabar, membuat kedua orang tua itu pun khawatir.


Beberapa malam, Sanjaya bermimpi di kejar oleh dua anak kecil dengan wajah yang sama. Sanjaya semakin merasa bersalah. Sepertinya, ia harus memberitahu satu rahasia yang belum diketahui Rara selama ini. Ia pun ingin memohon ampun pada puterinya atas keputusan bodoh yang sudah ia ambil waktu itu. Semoga sang putri mau memaafkannya nanti.


“Itu, Yah. Benar itu apartemennya,” ujar Mia yang menunjuk ke sebuah gedung dari dalam mobil.


“Ya, menurut aplikasi petunjuk arah ini sih memang itu gedungnya.”


Mata Mia berbinar. Ia tak sabar ingin bertemu putrinya, apalagi Rara juga mengatakan di pesan singkat yang ia balas pada Mia bahwa hari ini ia sedang tak mengajar.

__ADS_1


Jack sudah lengkap memakai jeans dan kaos berkerah. Di kantor Zayn memang tidak diperlukan stile rapih dan klimis, karena yang Zayn butuhkan adalah otak untuk menghasilkan ide kreatif yang membuat klien mereka terpuaskan.


Zayn dan Jack keluar dari unit apartemen itu. mereka melangkah menuju lift. Namun sesaat kemudian Zayn melihat Sanjaya dan Mia yang keluar dari lift. Untung saja orang tua Rara tidak melihatnya yang juga sedang berjalan di lorong itu. Dengan cepat, Zayn menarik Jack untuk bersembunyi di balik tembok.


__ADS_2