
Reza mencoba mendial nomor sang istri kembali, setelah sebelumnya ia menelepon nomor itu tetapi hanya ada suara operator yang menjawabnya.
"Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi. The number you are call ..."
Reza langsung memutuskan panggilan telepon itu.
"Kenapa teleponmu tidak aktif, Ra?" tanya Reza pada dirinya sendiri.
Reza gusar memikirkan keberadaan sang istri, walau ia ingat semalam Rara sempat meminta izin untuk jalan-jalan sendiri hari ini, tapi tidak biasanya Rara mematikan ponsel. Biasanya Rara yang tak pernah absen menelepon dirinya dan memberi kabar dimana pun ia berada dan biasanya Rara menelepon melalui video call sembari memperlihatkan tempat yang ia sedang kunjungi.
Namun hari ini, sejak pagi hingga siang, Rara tak kunjung menelepon, malah ponselnya pun dimatikan.
Berbeda dengan Reza yang tengah gusar, justru Rara tertawa lepas di zona permainan game arcade yang ada di lantai atas mall itu.
Sedari tadi Rara tertawa karena Zayn selalu kalah dalam memainkan beberapa permainan yang tersedia di sana, seperti walking dead, bowling, street basket, dan air hockey.
Zayn sengaja kalah untuk melihat tawa dan senyum itu, atau paling tidak memberikan sedikit bahagia untuk Rara sebelum ia kembali pulang dan menghadapi masalah yang tengah terjadi dalam rumah tangganya.
"Zayn curang," kata Rara sembari tertawa ketika mereka bermain maximum tune atau balap mobil.
"Aku tabrakin kamu, yeeeay ..."
"Ah, curang!" teriak Rara sembari tertawa.
"Sekarang aku yang menang." Zayn tertawa devil.
"Ngga akan." Rara memacu kecepatan tinggi hingga akhirnya end, karena mobil Rara terbentur dinding pembatas di game itu.
"Yeay ..." Zayn mengangkat kedua tangannya ke aras dan bersorak.
Rara merengutkan bibir. Kemudian Zayn meraih kepala Rara untuk keluar dari area game itu dan kembali menuju game yang lain.
Mereka seperti sepasang remaja yang tengah berpacaran.
"Dance revolution ... coba yang ini!" tunjuk Zayn pada permainan yang mengeluarkan alunan musik dari mesin itu dan menginjak arah panah yang ada di layar monitor besar di sana.
"Oke, siapa takut," ucap Rara.
Rara terlihat antusias memainkan game itu. Ia tetus tertawa karena beberapa kali salah menginjakkan tanda panah yang tertera di monitor. Sudah sangat lama ia tak pernah menginjak tempat permainan ini.
Pernah satu waktu ketika Rara dan Reza berada di pusat perbelanjaan besar dan melewati tempat ini, ia mengajak Reza bermain game arcade, tapi sang suami menolak, lalu berkata "buang-buang waktu, kaya anak kecil aja."
Reza dan Zayn memang sama-sama mencintai Rara, tetapi cara mereka mencintai sangatlah berbeda.
Zayn senang sekali karena bisa membuat Rara tertawa, setelah melewati kesesakan sebelumnya.
"Udah capek?" tanya Zayn ketika duduk di samping Rara yang tengah mengatur nafasnya setelah energi terkuras karena permainan terakhir tadi.
Zayn memberi air mineral pada Rara dan Rara langsung menerimanya. Mereka duduk tempat yabg tersedia di dalam zona permainan itu.
Rara meneguk air mineral dingin itu tanpa jeda. Ia meneguk air mineral botol yang berisi 500ml hingga tandas.
Zayn mengeryitkan dahi. "Haus, bu?"
"Uuu ..." Rara bersendawa dengan suara yang cukup keras.
"Ups sorry keceplosan," kata Rara yang langsung menutup mulutnya.
__ADS_1
Zayn tertawa, Rara sungguh menggemaskan dimatanya. "It's oke. Aku tahu kamu abis makan banyak terus minum satu galon."
Zayn tertawa lagi.
Rara hanya nyengir. Sungguh ia tak pernah seperti ini di depan Reza. Bahkan untuk buang angin saja, ia harus berlari ke kamar mandi. Rara benar-benar menjaga image-nya dihadapan Reza si pria perfect. Namun, saat ini sepertinya ia akan menjadi dirinya sendiri di depan sang suami. Kalau pun Reza ilfil terhadapnya, itu bagus, karena ia tak perlu lagi bertahan jika Reza ingin berpisah.
"Mau nonton?" tanya Zayn.
"Bukannya kamu harus balik ke Lembang?" Rara malah balik bertanya.
Zayn menggeleng. "Santai aja, bisa ke sana malem. Yang penting kamu seneng dulu."
"Hmm ... Zayn." Rada terharu dan menggenggam tangan Zayn. "Terima kasih, Zayn. Kamu memang adik.ipar yang menyenangkan."
Zayn tersenyum tipis. Dalam hati ia berkata, "karena aku mencintaimu, Ra. Aku ngga bisa liat kamu sedih."
"Nonton ngga?" tanya Zayn lagi.
Rara menggeleng. "Ke pantai aja yuk!"
"Oke." Zayn langsung berdiri dan menggenggam tangan Rara untuk segera meninggalkan tempat ini menuju pantai terdekat.
Reza melihat jam di tangannya. Kini waktu menunjukkan pukul dua. Sudah satu jam berlalu dari ia menelepon Rara tadi, tetapi ponsel sang istri masih saja tidak aktif.
Reza semakin gusar. Lalu, ia meraih kunci mobil dan pergi menuju apartemen. Ia khawatir terjadi sesuatu pada istrinya di sana.
Di jalan yang berbeda, Zayn membawa Rara ke pantai Jayanti, pantai yang paling dekat dari kota. Jaraknya sekitar 110 km dari kota Bandung atau sekitar empat jam perjalanan. Pantai itu memiliki pemandangan alam yang begitu mempersona, dan juga terjaga kebersihannya.
Rara menyukai sunset dan pantai itu menyuguhkan view sunset dengan angel terbaik.
Reza sampai di apartemen. Ia berjalan ke dalam apartemen itu dengan tergesa-gesa.
"Sayang," panggil Reza yang langsung menuju kamar dan kosong.
Kamar itu terlihat rapih dan tak berpenghuni. Lalu, ia beralih ke kamar mandi, dapur dan sudut yang lain. Namun, tak ada istrinya di sini.
Reza lemas dan duduk di sofa. Ia memijat keningnya yang terasa berat. Bukan hanya memikirkan dimana Rara, tetapi ia juga memikirkan perusahaannya yang masih mengalami masalah.
Kemal sudah berada di pesawat yang langsung menuju Bandung. Ia berangkat dengan jadwal pagi-pagi sekali.
"Dimana kamu, Ra? Tolong jangan menambah kepusingan aku!" gumam Reza.
Tak lama kemudian ponselnya berdering menampilkan nomor dari salah satu karyawan andalannya di pabrik. Ia pun kembali meraih kunci menuju pabrik. Ia memang hanya ingin ke tempat ini sebentar untuk memastikan keberadaan sang istri, tetapi kedatangannya di apartemen ini sia-sia karena sang istri tak berada di sini.
Hampir empat jam berlalu. Reza masih berkutat dengan pekerjaannya. Sementara Zayn tersenyum melihat Rara tertidur di sampingnya, padahal mereka hampir sampai di tempat tujuan. Sedangkan Manda, berulang kali memberi pesan pada Rara dan menanyakan kabar teman barunya ini.
"Mbak, udah sehat?"
"Mbak, katanya mau ke sini? kok.belum datang. Noah nanyain loh."
"Mbak bosen ngga? jalan-jalan yuk!"
Manda menatap ponselnya yang sedari tadi menampilkan aplikasi pesan dan hanya centang satu.
"Ponsel mbak Rara sepertinya tidak aktif," gumam Manda.
Lalu, Manda mengklik foto profil Rara, di sana terlihat Rara bersama genk ibu-ibu rumpi yang menampilkan latar belakang gedung sekolah.
__ADS_1
"Oh, Mbak Rara guru TK," ucap Manda pada dirinya sendiri sembari tersenyum, karena di foto itu Rara dan teman-temannya menggunakan seragam yang sama dengan nama yayasan yang tertera pada sisi kanan seragam itu.
Akhirnya, Zayn tiba di pantai Jayanti. Ia memarkirkan mobilnya dan mematikan mesin mobil itu. Lalu, ia mendekatkan diri pada tubuh Rara yang tengah tertidur pulas di kursi penumpang di sampingnya.
Zayn tersenyum mencoba mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi itu, hidung itu, dan bibir itu. Namun saat jari telunjuknya baru saja menyentuh pipi, Rara pun bergerak, membuat Zayn langsung menyembunyikan tangan itu dan kembali duduk di kursinya.
Rara mengerjapkan kedua matanya dan terbangun. "Udah sampe?"
"Dari tadi," jawab Zayn sembari memegang kamera SLR terbaru miliknya.
"Kenapa ngga di bangunin?" tanya Rara.
"Gimana mau dibangunin, orang tidurnya kek kebo."
"Zayn," rengek Rara, membuat Zayn tertawa.
Lalu, Zayn mengacak-acak rambut Rara sembari berkata, "udah, ayo turun! bentar lagi sunset."
Zayn turun dari mobil, begitu juga Rara.
"Mana sunsetnya? belum ada," kata Rara ketika sudah keluar dari mobil.
"Banyak omong. Ayo!" Zayn langsung melingkarkan tangannya pada leher Rara menuju posisi yang indah.
Mata Rara berbinar tatkala melihat keindahan pantai itu. "Kamu tau aja sih tempat-tempat bagus," kata Rara sembari melihat ke arah Zayn yang sibuk memoto pemandangan indah itu.
Zayn tak menjawab karena ia terlalu asyik memoto, hingga Rara menimpuknya dengan kerikil batu kecil.
"Aww," lirih Zayn saat kerikil tu mengenai bahunya.
Zayn pun langsung menoleh ke arah Rara yang tengah nyengir ke arahnya. Ia pun tersenyum.
"Tempat ini memang salah satu destinasi yang ingin aku kunjungi sebelum tiba di Lembang. Aku suka keindahannya."
Kemudian Zayn mengarahkan kameranya pada Rara. Ia ingin membidik wanita itu untuk koleksinya. Koleksi foto candid Rara yang ia miliki dan jumlahnya lebih dari ratusan, tapi Rara tidak mengetahui itu.
"Zayn, jangan foto aku!" Rara menutup wajahnya.
Cekrek
Zayn tetap memoto Rara.
"Zayn. Aku bilang jangan di foto," ucap Rara sembari tertawa, karena Zayn menjengkelkan.
"Kamu jadi model aku."
Cekrek.
"Ini bagus." Zayn melihat hasil bidikannya dan kembali mengarahkan kamera itu apda Rara.
"Zayn, ngga." Rara berlari untuk menghindar bidikan itu lagi.
Namun, Zayn mengejarnya dan tertawa. Mereka saling kejar-kejaran sembari tertawa.
Rara sejenak melupakan apa yang sebelumnya terjadi. Hari ini, ia benar-benar melupakan Reza. Di otaknya sama sekali tidak memikirkan keadaan suaminya, bagaimana keadaan Reza di sana dan sedang apa? sudah makan atau belum? Rara tak memikirkan itu. Hari ini ia hanya ingin egois dan menyenangkan dirinya sendiri sebelum nanti kembali pada dirinya yang lain.
Selain itu, ia ingin melepaskan kerinduan pada Zayn, sahabatnya dulu yang tiba-tiba menghilang dan lima tahun tak bertemu.
__ADS_1