
Bu, Non Rara sekarang beda ya?” tanya Bi Inah kepada Mia yang tengah menaruh piring kotor bekas makan malam mereka tadi ke tempatnya.
Mia mengangguk. “Ya, sepertinya begitu.”
“Bibi ngga pernah loh Bu, lihat Non Rara menggunakan pakaian sexy seperti itu.” Bi Inah melirik ke arah Rara yang sedang merapikan meja makan.
Mia pun mengintip ke dari balik dinding dapur ke arah meja makan. Sejak siang tadi, Rara memang selalu menggunakan pakaian terbuka. Seperti saat ini, Rara hanya menggunakan kaos oblong tanpa lengan dengan kerah kaos yang teramat lebar hingga belahan dadanya terlihat sedikit. Rara pun tak menggunakan bawahan, sehingga paha mulusnya terekspose sampai sedikit lagi ke bagian dua bongkahan padat di belakang itu.
“Iya, ya. Kalau diperhatiin si Rara dari tadi pakaiannya sexy banget,” ujar Mia.
“Berarti Den Zayn hebat nih, bisa bikin Non Rara berubah,” sahut Bi Inah.
Bi Inah membayangkan ketika ia muda dulu. Ia pun berubah menjadi liar setelah menikah dengan suaminya. Tapi, semua itu kandas setelah sang suami lebih dulu menghadap sang khalik. Oleh karena itu, hingga saat ini Bi Inah lebih memilih tetap menjanda dan hanya fokus membesarkan kedua anaknya di kampung dari hasil bekerja di rumah ini, karena menurutnya tidak laki-laki yang seeprti suaminya.
Bi Inah pun tertawa.
“Kenapa kamu tertawa?” tanya Mia pada asisten rumah tangga yang sudah mengabdi padanya puluhan tahun.
“Ah, pikiran saya jadi jorok, Bu.”
Pletak
Mia menyentil jidat Bi Inah. “Halah, emang dasar kamu nya aja yang mesum.”
“Haduh, sakit Bu.” Bi Inah meringis sambil mengusap jidatnya.
“Lagian ngadi-ngadi aja kamu.”
Bi Inah pun tertawa.
Malam semakin larut, Rara baru saja menidurkan Zoey dan Zac di kaamr yang sama, tapi berbeda ranjang. Rara mencium kening putra putrinya dan menyelimuti tubuh mereka, lalu Rara mematikan lampu kamar sebelum keluar dari kamar itu dan menutup pintunya rapat.
Rara berjalan menuju kamarnya. Namun, saat ia memasuki kamar, Rara tak menemukan Zayn. Arah mata Rara tertuju pada kotak besar yang dibawa suaminya siang tadi sepulang dari rumah Kemal. Rara sama sekali belum membuka kotak itu, karena Zayn langsung meletakkannya di pojok kamar. Zayn pun tidak memberitahu apa isi kotak itu dan untuk siapa?
Rara mendekati kotak besar itu dan hendak membukanya, tapi ia ragu khawatir benda itu bukan miliknya. Lalu, Rara kembali keluar kamar untuk mencari sang suami.
Rara menuruni anak tangga dan kakinya melangkah ke sebuah teras yang berada di bagian samping rumah itu. Ia melihat Zayn tengah duduk berhadapan dengan Sanjaya. Dua pria beda geenrasi itu sedang serius bermain catur. Sejak kecil, Sanjaya memang tidak pernah menang dari Zayn ketika melakukan olahraga ini. Bahkan Zayn pernah mengalahkan mertuanya ini di depan orang banyak, karena saat itu mereka tengah menjadi lawan di acara tujuh belasan kompleks.
“Ayah, udah dong sabotase suami Rara,” rengek putri Sanjaya.
__ADS_1
Sanjaya menoleh ke arah Rara datar. Tampak wajah Sanjaya yang serius. “Sebentar lagi, Nak.”
Zayn pun tidak menoleh ke arah Rara karena ia sedang serius menyusun strategi untuk mengalahkan ayah mertuanya.
“Dad, kamu ngga tidur? Dari pagi kamu belum istirahat loh,” kata Rara dengan menatap suaminya dekat, pasalnya saat ini Rara duduk di pegangan sofa tempat Zayn duduk.
Zayn tetap tidak melirik ke arah istrinya. Lagi-lagi Rara merasa diabaikan. Rara tahu bahwa suaminya masih merajuk.
“Daddy.” Rara menggoyangkan lengan Zayn.
“Ra, kamu jadi manja gini sih,” kata Mia sambil tersenyum dan merungutkan dahinya ke arah sang putri.
Mia juga baru saja akan menghampiri Sanjaya di tempat itu.
“Abis Zayn nyebelin, Bun.” Rara masih merengek.
“Nyebelin apa sih, Sayang?” tanya Zayn yang akhrinya menatap wajah istrinya.
“Itu, mentingin main catur dibanding aku.”
“Skal,” ucap Zayn saat mengerakkan jarinya di papan catur itu.
“Zayn.” Rara masih merengek karena terabaikan.
“Udah deh, selesai. Urus dulu istrimu,” kata Sanjaya.
“Ih, Ayah curang. Zayn hampir menang tuh.”
“Tapi Rara dari tadi berisik,” kata Sanjaya lagi.
“Anak Ayah emang berisik, apalagi kalau di ran ...”
Rara langsung membekap mulut Zayn membuat si empunya mulut pun tertawa. Rara membulatkan matanya ke arah Zayn.
“Ya udah, tidur. lagian sih Ayah ganggu Zayn aja.” Mia punj merapikan peralatan catur itu.
“Oke pagi kita lanjutkan,” ucap Sanjaya pada Zayn.
“Oke, Yah.”
__ADS_1
Mia mengajak suaminya masuk ke dalam kamar mereka dan meninggalkan Zayn yang masih bersama Rara di sana.
“Ish ... nyebelin.” Rara memelintir kulit pinggang Zayn.
“Aww ... sakit, Sayang.” Zayn meringis.
Lalu. Rara pun hendak eprgi meninggalkan suaminya. Ia segera berdiri. Namun, Zayn langsung mencekal lengan istrinya.
“Mau ke mana?” tanya Zayn sambil menatap sang istri.
“Tau ah.” Rara masih kesal karena Zayn hampir saja membuka kartunya pada sang Ayah.
Rara melengos dan tetap hendak pergi dari sofa yang di duduki Zayn.
“Eit, sini!” Zayn langsung menarik tubuh Rara hingga terjatuh di pangkuannya. “Kok jadi kamu yang ngambek. Kan aku yang lagi ngambek.”
Rara melirik ke arah suaminya. “Ngambek kamu lama. Sebel.”
Zayn tertawa. Lalu, ia mengusap pipi Rara. “Abis, siapa yang ngga kesel liat istrinya di cium mantan. Udah gitu yang dicium juga nerima aja lagi. Ngga ada usaha buat ngehindar gitu?”
“Kejadiannya terlalu cepat, Zayn. Aku ngga bisa menghindar. Lagian aku kan udah minta persetujuan kamu pas dia ngajak salaman. Terus sama kamu dibolehin.”
“Aku ngebolehinnya salaman doang ya, bukan cium pipi.” Zayn masih mengelus pipi mulus Rara. “Ini kan punya aku sekarang.”
Suara Zayn terdengar lucu di telinga Rara. Pria dewasa itu tampak seperti anak kecil, membuat Rara tertawa. lalu, Rara membenarkan posisi duduk di pangkuan itu menjadi berhadapan. Rara duduk di paha Zayn dengan melingkarkan kedua kakinya pada pinggang itu. Rara sengaja memasang posisi duduk seperti ini untuk menggoda suaminya.
“Kalau begitu cium aku, supaya jejaknya hilang,” ucap Rara dengan menatap lekat wajah suaminya.
Zayn tersenyum. Lalu, mencium kedua pipi Raar dan menjilatnya. Rara hanya memejamkan mata, menikmati sentuhan itu. Hanya seperti ini saja, bagian sensitif milik Rara sudah bereaksi. Tangan Zayn pun tidak diam. Seperti biasa, kedua tangan itu akan bergerilya meraba seluruh tubuh itu hingga jemarinya tepat menyentuh bagian sensitif di bawah sana.
“Basah banget, Sayang.” Suara Zayn terdengar berat, setelah ia puas menghilangkan jejak di kedua pipi itu hingga merambat ke bagian leher jenjang Rara.
“Eum, kamu yang membuatnya seperti itu.” Rara melayang merasakan kenikmatan jari Zayn yang mempermainkan miliknya.
Zayn tersenyum. Ia sangat menyukai wajah Rara yang bergairah seperti ini. “Aku pria bertanggung jawab, Sayang.”
Tiba-tiba Zayn melepas jarinya dari bagian yang membuat Rara hampir saja meledak.
“Eum ... kok dilepas sih, baru aja mau sampe,” rengek Rara membuat Zayn kembali tertawa.
__ADS_1
“No, kamu harus di hukum dulu.” Zayn mengangkat tubuh istrinya dan membawa Rara menuju kamar istrinya itu.