Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Kebiasaan yang hilang


__ADS_3

Reza menatap punggung Rara yang membelakanginya saat keduanya tengah berbaring satu ranjang. Sang istri benar-benar berbeda. Tidak ada pembicaraan dari keduanya, bibir Rara mengatup tanpa ada sepatah kata pun dari bibir mungilnya. Ia hanya menjawab apa yang Reza tanyakan tanpa memulai pembicaraan terlebih dahulu, padahal biasanya ketika Reza pulang kerja, sang istri tak pernah absen menanyakan perihal pekerjaannya.


Reza menghela nafasnya panjang. Biasanya Rara tidak bisa tidur jika tidak berada dalam pelukannya.


“Sayang, kamu sudah tidur?” tanya Reza lirih.


Rara diam dan tidak menjawab. Padahal di balik itu, airmatanya tak kunjung berhenti berderai. Ia menyeka airmata itu segera dengan kain yang menyelimuti bantal yang ia gunakan untuk menyangga kepalanya.


“Maafkan aku, Sayang. Maaf kalau tadi aku bicara dengan nada tinggi.” Reza tidak bisa marah pada Rara, karena ia tahu bahwa dirinya pun memiliki kesalahan.


“Kamu boleh pergi kemana pun, tapi aku mohon pulanglah ketika aku akan pulang. Aku sungguh mengkhawatirkanmu, Sayang. Sejak pagi aku telepon tapi ponselmu tidak aktif. Aku mengkhawatirkanmu seperti orang gila.” Suara Reza terdengar lirih dan bergetar.


“Aku bolak balik apartemen dan pabrik untuk mengecek keadaanmu, tapi kamu tidak ada. Aku sungguh khawatir.”


Di balik tubuh sang suami, Rara yang memang belum tidur, mendengar semua perkataan Reza. Airmatanya kembali berderai. Ia bisa merasakan getaran suara itu. Ia bisa merasakan penyesalan sang suami. Ia bisa merasakan betapa Reza mencintainya. Ia tahu bahwa suaminya sudah melakukan kesalahan, tapi apa yang ia lakukan diluar kendalinya. Haruskah ia memaafkan? Sungguh hati Rara sangat bergemuruh.


“Sayang,” panggil Reza lirih dan menyentuh bahu Rara yang tertidur miring membelakanginya. “Aku ingin memelukmu.”


Rara tak kuasa. Ia pun membalikkan tubuhnya dan menatap sendu wajah sang suami dengan mata berkaca-kaca. Rara memeluk tubuh itu dan Reza langsung menerima pelukan itu dengan erat.


“Aku mengkhawatirkanmu, Sayang.” Reza menangis di bahu Rara.


Mereka berpelukan erat di atas ranjang, tempat mereka memadu kasih.


Rara pun ikut menangis. “Jangan abaikan aku, Kak! Kamu terlalu sibuk.”


“Maaf, Sayang.” Reza berpikir, jika perubahan sang istri terjadi karena ia tak menemaninya jalan-jalan selama berada di kota ini, sehingga Rara harus berjalan-jalan sendiri.


Rara melonggarkan pelukan itu. ”Mengapa kamu sangat sibuk, hingga semakin tak ada waktu denganku? Apa ada yang tidak aku ketahui?”


Deg


Perkataan Rara sontak membuat jantung Reza seakan terhenti. Apa Rara mengetahui pernikahannya dengan Sarasmanda, mantan sekretarisnya dulu?


Reza menatap wajah Rara yang tengah menangis. Ia menghapus air yang jatuh di pipi mulus itu. Ia berusaha tenang untuk menyembunyikan apa yang seharusnya tidak Rara tahu. Ia ingin tetap Rara tetap di sampingnya dan ia pun ingin Manda tetap bersamanya untuk menjaga dan melahirkan keturunan untuknya. Egois bukan?


“Apa ada yang kamu sembunyikan dariku?” tanya Rara lagi untuk memancing Reza agar berkata jujur. Mungkin, jika Reza berkata jujur dan meminta maaf, Rara akan bersedia menerima kenyataan ini.


Reza menggelengkan kepala. “Tidak.”


“Sungguh?” tanya Rara lagi menatap kedua manik-manik berwarna cokelat itu.


Reza pintar sekali menutupi kebohongannya. Mata itu benar-benar mengisyaratkan bahwa ia tak berbohong. Kedua bola mata Reza pun menatap Rara dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


“Tidak ada yang aku sembunyikan darimu. Kesibukanku memang karena masalah pabrik yang belum selesai.”


Akhirnya, Rara menyerah. Ia tersenyum getir. Ternyata Reza bukan pria gentle yang akan mengakui kesalahannya.


“Baiklah.” Rara mengusap sisa-sisa airmata yang masih menempel di pipinya.


Ia akan mengikuti alur permainan sang suami. Ia ingat perkataan Zayn. Ya, jika ia tak kuat bertahan, maka ia akan pergi. Jika kuat bertahan, maka ia akan bertahan dan itu semua tergantung pada Reza, sejauh mana pria itu bisa mempertahankannya. Ia tak akan lagi menangis. Malam ini adalah malam terakhir ia menangis.


Rara membaringkan tubuhnya kembali memunggungi Reza. “Ayo tidur!”


Reza pun ikut memposisikan tubuhnya untuk tidur dan memeluk sang istri dari belakang dengan erat. “Aku sangat mencintaimu, Sayang.” bisik Reza tepat di belakang telinga Rara.


Rara diam dan tak menjawab. Biasanya ia akan membalas pernyataan cinta dari sang suami, tapi malam ini lidahnya kelu untuk mengucapkan itu. Sejak ia menyaksikan pemandangan menyakitkan itu, entah cinta untuk sang suami sekarang berada dimana?


Reza memunculkan kepalanya di atas bahu sang istri yang tertidur miring, karena tak biasanya Rara tidak membalas pernyataan cintanya itu. Lalu, ia menatap Rara yang sudah meemjamkan matanya sempurna. Ia menghelakan nafasnya lagi, Rara cepat sekali tertidur.


****


Ceklek


Reza keluar dari kamar mandi. Matahari mulai menyinari bumi. Sebelum masuk ke kaamr mandi, Reza terbangun lebih dulu dan membuka jendel-jendela di sana, agar matahari itu menyinari kamarnya.


Reza melihat Rara yang sudah duduk di atas ranjang dan menyandarkan tubuhnya pada dinding ranjang itu. Ia melirik ke arah Rara yang asyik memainkan ponselnya sembari tersenyum.


Rara di sana tengah membalas pesan Zayn.


Rara membalas dengan emot tertawa. “Iya, ini ilernya sampe kering di pipi.”


Zayn pun membalas dengan emot tertawa. “Berkerak dong.”


“Ish, jorok banget.” Jawab Rara.


“Ih, kamu yang ileran. Kok aku yang dibilang jorok.”


“Zayn ... jelek.”


Mereka saling membalas pesan, hingga Rara lupa bahwa sang suami sudah keluar dari kamar mandi dan tengah meliriknya beberapa kali.


Semalam pun seperti itu, Zayn memberi kabar bahwa dirinya suadah sampai di Lembang tengah malam. Rara langsung terbangun dan mengambil ponselnya yang berbunyi. Ia melepaskan tangan Reza yang berada di pinggangnya, lalu membalas pesan itu hingga ia tersenyum sendiri. Reza terbangun karena gerakan sang istri dan sekilas memperhatikan apa yang sedang dilakukan istrinya.


“Bajuku belum disiapkan?” tanya Reza yang membuat Rara tersentak.


“Oh ya, maaf.” Rara langsung bangkit dari tempat tidur dan meletakkan ponselnya asal.

__ADS_1


Ia pun segera menuju lemari dan memilih pakaian kerja suaminya. Sedangkan Reza duduk di meja rias sembari mengeringkan rambutnya. Ia terus memperhatikan sang istri. Sejak bangun tadi, ia tak melihat istrinya yang tersenyum ke arahnya. Wajah Rara datar, wanita itu hanya tersenyum pada ponselnya tadi.


Penampilan Rara sangat berantakan. Ia sengaja menguncir asal rambutnya dan tidak langsung mandi. Wajahnya natural tanpa ada polesan apapun. Biasanya ketika bangun Rara langsung mandi dan sedikit berdandan untuk menyenangkan suaminya. Namun, kini ia tampil apa adanya, tanpa pengharum di tubuhnya, kali ini tubuh Rara benar-benar aroma tubuh aslinya.


“Kamu ngga langsung mandi?” tanya Reza yang tengah memakai pakaian yang diberikan Rara.


Rara pun membantu sang suami mengancingkan kemejanya.


“Hmm ... males. Kenapa? Bau ya?” Rara mencium ketiak kiri dan kanannya.


“Jorok banget kamu.”


Rara cuek dan mengabaikan perkataan sang suami. Ia pun meninggalkan Reza di sana dengan sisa dua kancing kemeja yang belum dikaitkan di bagian paling bawah.


Rara berjalan menuju dapur. Ia menyiapkan kopi dan teh manis hangat dengan lemon untuk dirinya sendiri.


Tak lama kemudian, Reza keluar kamar dan menghampirinya. Sebelum itu, Reza mengambil ponsel Rara yang tergeletak di atas tempat tidur. Ia ingin melihat isi ponsel yang membuat istrinya tersenyum sedari semalam. Namun, Rara memberi kode pada ponselnya, padahal selama mereka menikah dan berpacaran, Rara tak pernah sama sekali mempassword ponselnya. Berbeda dengan Reza yang memang selalu mempassword ponselnya.


Reza memeluk Rara dari belakang. Rara terlihat serius membuatkan kopi dan lemon tea hangat. Reza menelusuri leher jenjang itu, tetapi Rara seperti menghindar.


“Aku bau, Kak. Belum mandi.” Rara bergeser menjauh dan langsung membawa dua gelas panas itu ke meja makan.


Rara meletakkan dua gelas itu di atas meja dan menggeser kursi, lalu duduk. “Maaf, aku tidak menyiapkan sarapan. Hanya kopi saja. Aku malas masak.”


Reza mengikuti Rara dan duduk berhadapan. “Ya, tidak apa. Aku sarapan di kantor saja.”


Reza mengambil cangkir itu dan sedikit menyuruputnya. Sementara Rara bangkit dari kursi itu lagi untuk mengambil ponselnya yang masih berada di kamar. Lalu, ia kembali ke meja makan dan duduk di hadapan Reza.


“Oh iya, Papa tiba pagi ini.”


“Oh, ya? Siapa yang menjemput Papa di bandara?” tanya Rara.


“Supirku, karena Papa langsung ke pabrik.”


Rara hanya mengangguk dan kembali memainkan ponselnya.


“Ponselmu di password?” tanya Reza.


Rara menengdahkan kepalanya, menatap wajah sang suami yang berada persis did epannya. “Oh, iya. Lagi pengen aja.”


“Kenapa?” tanya Reza. “Biasanya tidak pernah.”


“Hmm ... lagi pengen aja,” jawab Rara singkat dan ambigu.

__ADS_1


Reza terdiam. Sejak semalam banyak keanehan yang terjadi pada istrinya. Hingga saat ia berangkat pun, Reza tak melihat senyum itu. Wajah Rara terlihat datar dan biasa saja ketika mengantarkan dirinya di pintu depan. Biasanya, Rara melambaikan tangan dengan senyum manis dan berkata, “hati-hati, Kak.”


Semua yang biasa Rara lakukan terhadapnya, lenyap sejak kemarin. Reza mulai berpikir, Apa Rara tahu tentang Manda dan Noah? Tapi itu tidak mungkin, karena ia menutup pernikahan itu dengan rapih. Tidak ada yang tahu pernikahan antara dirinya dan Manda, bahkan kedua orang tuanya sendiri. Reza menepis pikiran itu, karena ia yakin Rara tidak mengetahui pernikahan keduanya dengan Manda dan sudah memiliki anak.


__ADS_2