
Dret ... Dret ... Dret ...
Ponsel Rara berdering. Ia sedang bersama Reihan dan ibunya di dalam mobil. Mereka baru saja menjemput ibu Reihan di Bandara dan kini mereka tengah dalam perjalanan pulang. Reihan juga bercerita pada ibunya bahwa saat ini di apartemen Rara sedang ada kedua orang tua Rara dan rencananya nanti malam orang tua Rara akan bertandang ke rumah mereka untuk makan malam.
“Siapa?” tanya Reihan, ketika Rara melihat ponsel yang sedang berbunyi itu.
“Ayah.”
“Angkat dulu, Nduk.” Kata Ibu Reihan.
Lalu, Rara menekan tombol hijau yang tertera di layar itu.
“Assalamualaikum, Yah.”
“Waalaikumusalam, Nak,” jawab Sanjaya. “Nak, Ayah mau pamit ke kamu.”
“Loh, katanya Ayah dan Bunda mau menginap.”
“Maaf, Sayang. Barusan Ayah mendapat kabar kalau restoran di Singapura kebakaran. Sepertinya Ayah dan Bunda harus segera ke sana.”
“Apa? Kok bisa, Yah?” tanya Rara panik.
Nada suara Rara yang panik membuat Reihan menoleh dan Ibu Reihan pun ikut bertanya-tanya.
“Ayah juga ngga tahu kenapa? Makanya Ayah mau langsung ke TKP. Ayah sudah pesan tiket untuk nanti malam.”
“Ya sudah kalau begitu. Ayah dan Bunda hati-hati.”
“Iya, Sayang. Kamu juga hati-hati di sini.”
“Iya, Yah. jangan khawatir!” jawab Rara yang kemudian di akhiri dengan sahutan salam dari keduanya.
Rara menutup pangilan telepon itu.
“Ada apa, Ra?” tanya Reihan.
“Iya, Ra. Kenapa orang tuamu?” Ibu Reihan ikut bertanya.
“Restoran Ayah yang di Singapura kebakaran, Bu, Mas.”
“Apa? Terus?’ tanya Reihan terkejut.
“Ya, Ayah dan Bunda langsung berangkat ke sana nanti malam.”
“Semoga hanya kebakaran kecil,” sahut Ibu Reihan sembari mengelus pundak Rara yang duduk di samping putranya, sedangkan ia duduk di kursi penumpang belakang.
“Aamiin, Bu. Terima kasih. Maaf, untuk acara makan malamnya jadi tidak bisa terealisasi. ” Rara pun ikut panik, pasalnya restoran itu baru saja Sanjaya resmikan, karena ia mulai melebarkan bisnis kulinernya di negera tetangga.
“Tidak apa, Ra. Yang penting urusan Ayah di sana lancar,” jawab Reihan dan Rara tersenyum. “Aamin, Mas.”
****
“Zac ... Zoey. Ayo berangkat!” teriak Michelle meminta dua keponakannya segera keluar dari kamar.
Sejak awal Michelle tidak pernah mau dipanggi tante oleh Zac dan Zoey. Gadis cantik berambut pirang itu lebih suka di panggil nama, karena sebutan tante membuatnya seperti sudah tua. Begitu pun dengan Jack. Dua orang itu memang sama-sama aneh.
“Wait,” teriak Zoey.
Lalu, anak perempuan itu berlari ke arah Michelle. “Apa kunciranku sudah rapih?”
Michelle meneliti penampilan keponakan perempuannya itu. Pasalnya walau Zoey masih kecil, tetapi ia sudah mengerti trend dan memantaskan diri ketika berpenampilan.
Kemudian mengangkat ibu jarinya ke atas. “Beautiful.”
“Aku sudah siap,” ucap Zac yang keluar dari kamar sang ayah.
__ADS_1
Michelle yang mulai hari ini bertuga mengantar dan menjemput Zac dan Zoey pun langsung menggandeng anak kembar itu menuju mobil.
“Zac, Zoey,” panggil Zayn. “Kalian belum mencium pipi Daddy.”
“Ups.” Zac dan Zoey menepuk jidatnya dan langsung berlari ke arah sang ayah.
“Daddy berangkat hari ini?” tanya Zoey pada sang ayah yang hendak keluar kota untuk menjalankan projeknya.
“Tidak boleh lebih dari tiga hari, Dad.” Ucap Zac.
Zayn tersenyum. “Ya ... Ya ... Daddy usahakan dalam tiga hari projek Daddy selesai.”
“Itu harus,” sahut Zac sembari bertolak pinggang, membuat Zayn semakin tersenyum lebar.
Zayn mengusap rambut kedua anaknya. Lalu berkata pada Zac, “jaga adikmu, ya.”
“Siap Daddy. Don’t worry.”
Zayn kembali mengelus puncuk kala Zac dan Zoey, lalu menciumnya bergantian. “Salam dari Daddy untuk gurumu nanti.”
“Okey,” sahut Zoey polos, tapi Zac malah mengeryitkan dahi, karena sang ayah tidak pernah genit dengan wanita dan Zac tahu bahwa semua guru di sekolahnya adalah wanita. Padahal yang di maksud Zayn adalah Rara. Zayn menitipkan salamnya untuk Rara melalui anak mereka.
Rara bersama Bu Nur berdiri di dalam gerbang sekolah, menyambut kedatangan siswa mereka.
“Oh iya, Bu Rara. Kemarin dua anak baru itu sudah masuk,” kata Bu Nur.
“Oh, iya dari kemarin Bu Zahra sudah cerita. Bagaimana anaknya, Miss? Ngga nakal kan?” tanya Rara.
“Ngga sama sekali kok, Bu. Malah sepertinya Bintang yang suka ngejahilin anak baru itu, karena anak nya cantik sih.”
“Loh bukannya perempuan dan laki-laki.”
“Iya, yang laki-lakinya ganteng, yang perempuannya juga cantik. Yang perempuan adiknya, cantik Miss. makanya si Bintang suka ngejahilin terus.”
“Hmm ...” Rara berpikir. Ia harus mencari cara agar bisa mengendalikan Bintang.
Arah pandang Bu Nur tetap ke depan dan tersenyum. “Itu dia anak-anaknya.”
Sontak, Rara menoleh. Ia pun langsung tersenyum lebar. “Zac dan Zoey.”
“Benar. Namanya Zac dan Zoey.”
Senyum Rara semakin mengembang. Entah mengapa ia rasanya sangat senang karena dipertemukan lagi oleh kedua anak yang pintar dan menggemaskan itu. Gerakan mata Rara yang mengedip pun terasa lambat karena melihat sosok dua malaikat itu.
“Miss Cantik,” panggil Michelle pada Rara saat mereka berpapasan.
Rara tersenyum.
“Miss Rara,” panggil Zoey dan langsung memeluk Rara.
Rara pun berjongkok dan ikut memeluk tubuh mungil itu. Zac tidak mau kalah, ia juga mengerubuni Rara.
“Miss Rara itu guru kalian di kelas. Kemarin Miss Nur hanya menggantikan sementara karena Miss Rara sedang ada urusan,” ucap Bu Nur.
“Yeeay ...” Zac dan Zoey bersorak.
“Ayo ke kelas!” Bu Nur memerintahkan Zac dan Zoey untuk segera memasuki kelas sedangkan mereka masih menunggu hingga semua anak-anak datang.
Sesaat Michelle meneliti wajah Rara dengan sekasama. Ia seperti pernah meilhat wajah utu tapi dimana?
“Mbak,” panggil Rara pada Michelle.
“Oh, ya.” Michelle tersadar dari lamunannya.
“Mbak kakaknya Zac dan Zoey?” tanya Rara.
__ADS_1
Sontak, Michelle terdiam. Ia bingung harus menjawab apa? Lalu, ia pun hanya menganggukkan kepala agar pertanyaan itu sepat selesai.
“Kalau begitu saya permisi Miss,” ucap Michelle sembari pamit kepada dua guru si kembar yang berada di dekatnya.
Rara dan Bu Nur pun mengangguk sembari tersenyum.
“Bule banget ya, Miss,” ucap Bu Nur.
Rara mengangguk. “Ya emang pindahan dari luar kan?”
“Iya, bapaknya aja ganteng banget, Miss.”
“Ya ampun Bu Nur. Inget suami, Bu.”
Keduanya tertawa sembari berjalan menuju kelas masing-masing karena hampir semua ssiwa sudah masuk dan gerbang itu pun segera di tutup oleh penjaga sekolah.
Setengah jam, Zac dan Zoey belajar bersama Rara dan beberapa temannya di dalam kelas.
“Aww ... Bintang, What are you doing?” tanya Zoey kesal, karena Bintang dengan sengaja menarik satu kunciran rambutnya dan membuang kunciran itu keluar jendela.
“Kau selalu menguncir rambutmu seperti itu. seperti kuda tau.”
“Memang kenapa?” tanya Zoey lagi dengan memegang rambutnya sebelahnya yang tergerai.
“Hei, mengapa kamu selalu mengganggu adikku?” Zac langsung turun tangan dan menghampiri Bintang sembari bertolak pinggang.
“Suka suka aku mau ngapain. Berani kamu sama aku.” Bintang mendekati Zac.
“Hei, ada apa ini?” tanya Rara sembari berteriak dari depan kelas. Keebtulan Zac dan Bintang berada di tempat duduk paling belakang.
Rara bangkit dari duduknya dan mengahmpiri kedua pria kecil yang seperti tengah akan bergelut. Benar apa yang dikatakan Bu Nur, Bintang kembali berbuat onar di kelas.
“Bintang,” panggil Rara lirih pada putra sulung Reihan.
“Bukan salahku, Miss. Dia yang mengajakku bertengkar.” Bintang mengelak dan menunjuk ke arah Zac.
“Bintang, Kamu sudah janji kan?”
“Tapi Miss, dia yang duluan.”
“Dan, ini apa?” tanya Rara dengan memegang rambut Zoey yang setengah terurai sementara yang satunya lagi terikat.
“Kedua rambutnya yang bergoyang menganggu pandanganku saat belajar, Miss.”
Rara tersenyum dan menghelakan nafasnya. “Baiklah, kalau begitu Zoey pindah tempat duduk. Ayo!”
Rara menggandeng tangan Zoey untuk berjalan ke depan dan Rara meminta Zac untuk kembali duduk di tempatnya.
Zoey menoleh ke arah Bintang dan menjuulurkan lidah. Hal itu justru membuat Bintang berang dan Bulan pun cemburu, karena perhatian guru kesayangannya kini beralih pada dua anak baru itu.
“Dasar purang,” umpat Bintang.
Rara menyuruh Zoey duduk di sampingnya. “Kamu tidak membawa kunciran lagi?” tanya Rara pada Zoey.
Zoey menggeleng. “Tidak.”
“Kalau begitu, dikuncir satu saja ya!”
Zoey mengangguk dan Rara menyuruh Zoey memutar tubuhnya agar memudah Rara untuk menguncir rambut itu dengan benar. Namun, Sesaat sebelum berputar, Zoey membaca nama yang tertera pada pin yang menempel di dada kiri Rara.
“Nama panjang Miss, Cleopatra?” tanya Zoey dengan wajah membelakangi Rara.
“Ya, benar,” jawab Rara dengan gerakan tangan di kepala Zoey.
“Kata Daddy, nama ibuku juga Cleopatra, sama seperti Miss. Daddy juga bilang, Dia sangat cantik sama sepertiku. Hanya saja rambutnya tidak pirang.”
__ADS_1
Deg
Sontak Rara terdiam dan menghentikan gerakan tangan itu.