
Reihan, Rara bersama Bulan dan Bintang sampai di sebuah mall yang cukup besar. Mall yang cukup dekat dengan tempat tinggal Reihan juga apartemen Rara. Mereka melangkahka kaki menuju ke dalam tempat itu.
“Papi, maen tim*zon*.”
“Iya, Papi. Ayo main dulu seetelah itu baru kita belanja.”
Bulan dan Bintang merengek pada sang ayah untuk memasuki tempat permainan itu.
“Oke. Ayo!” Reihan berjalan di belakang Bulan dan Bintang yang langsung berlari ke tempat permainan itu.
Demi kedua anaknya, Reihan bermain di sana, padahl ia tidak begitu menyukai permainan ini.
Rara pun mengikuti keluarga itu. Ia berjalan perlahan sembari mengelilingi pandangan ke beberapa tempat permainan. Lalu, Rara tersenyum sendiri melihat sepasang remaja yang sedang tertawa sembari bermain dance di permainan itu. Rara teringat pada Zayn. Rara membayangkan sepasang remaja itu adalah dirinya dan Zayn. Kemudian, ia kembali tersenyum.
“Hei, kenapa tersenyum?” tanya Reihan yang melihat senyum di bibir Rara.
“Ah ngga. lucu aja lihat mereka.” Rara menunjuk ke arah sepasang remaja itu.
“Oh.”
“Oh iya Bulan dan Bintang dimana?” tanya Rara.
“Itu.” Reihan menunjuk ke arah permainan bola basket untuk anak.
Bulan dan Bintang terlihat antusias dan saring berebut bola di kotak itu.
“Mas, aku lihat toko aksesoris di depan itu ya,” kata Rara menunjuk ke arah toko yang berada di sebrang tempat bermain bulan Bulan dan Bintang. “Aku mau ganti casing.” Rara menggoyangkan ponselnya ke atas sembari tersenyum.
Reihan tersenyum dan mengangguk. “Oke.”
“Nanti aku ke sini lagi.”
Reihan kembali mengangguk dan keduanya terpisah. Reihan mendekati putra putrinya yang berlari ke arah permainan yang lain. Sedangkan Rara, keluar dari tempat permainan itu menuju toko aksesoris.
Rara masuk ke dalam toko itu dan melihat-lihat pernak pernik yang unik dan lucu-lucu di sana. Lalu, ia melihat gadis kecil yang tengah bergaya di depan cermin sembari menjajal bando princes dengan tiga model bando itu di tangannya.
“Yang itu bagus,” ucap Rara tersenyum dan berdiri di belakang gadis kecil itu.
Gadis kecil itu langsung menoleh ke belakang. Bibirnya tersenyum lebar. “Hai Miss.”
“Hai.” Rara mendekati gadis kecil yang cantik itu dan berjongkok. “Kita ketemu lagi.”
“Ya, kita ketemu lagi.” Gadis kecil itu tak kalah memberikan senyum.
“Yang ini lebih cocok untukmu,” kata Rara lagi.
“Oh, ya? Aku terlihat cantik?” gadis kecil itu kembali membalikkan tubuhnya dan bercermin.
Rara menempelkan kepalanya di samping kepala gadis kecil itu. Entah mengapa ia gemas sekali dengan gadis kecil ini. “Ya, tentu saja. Kamu sangat cantik.”
__ADS_1
“Wajah kita mirip, Miss.”
Rara memperhatikan wajahnya dengan wajah gadis kecil itu dari balik cermin. “Iya, wajah kita mirip. Hidung dan matamu sama sepertiku.”
“Tapi aku tidak menggunakan ini.” gadis kecil itu menyentuh kain yang menutupi kepala Rara.
“Belum, karena kamu masih kecil.”
“Baiklah, kalau besar nanti aku akan memakai ini.”
Rara tertawa. “Kalau tidak salah dengar, namamu Zoey. Benar?”
Zoey mengangguk. “Benar. Darimana kamu tahu?”
“Saat Mamimu memanggil.”
“Oh, itu bukan Mommy ku. Itu GranMa, tapi aku memanggilnya Mommy, seperti Michelle.”
“Kalau begitu kamu ke sini dengan Mami dan Papimu? Di mana mereka? Dan kembaranmu, dia tidak ikut?” tanya Rara.
“Zac sedang bersama Daddy dan Uncle Jack. Dan aku bersama Michelle.” Zoey mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Michelle, tapi ternyata Michelle tidak berada di toko ini.
“Michelle itu ibumu?” tanya Rara lagi.
Zoey tertawa dan menggeleng. Melihat Zoey tertawa, membuat Rara ikut tertawa. Benar saja, gadis ini memang mirip dengannya, cara tertawanya pun sama.
“Michelle itu adiknya Daddy. Kata Daddy Mommy ku sedang marah dengan Daddy dan pergi. Mungkin kalau Mommy tidak marah lagi dengan Daddy, dia akan pulang.”
“Kalau begitu, aku akan menemanimu.”
“Benarkah?”
Rara mengangguk.
Rara dan Zoey saling tertawa ketika masing-masing memilih barang yang mereka inginkan. Bahka ketika Rara memilih casing untuk melindungi ponselnya, Zoey sangat berperan memilih gambar casing itu.
“No, Miss. Gambarnya tidak oke,” kata Zoey saat Rara memperlihatkan casing pilihannya.
“Why?”
“Hmm ... tidak seperti perempuan.”
Rara tertawa. Ia menertawakan gaya Zoey yang dewasa sebelum waktunya. “Baiklah, mana yang cocok untukku.”
“This is. Beautiful.” Zoey mengambil satu casing dengan gambar kartun wanita berhijab.
Rara menganggukkan kepalanya. “Ya, ini sangat cantik.”
“Like you.”
__ADS_1
“Sepertimu juga.” Rara mencubit gemas ujung hidung Zoey.
Lalu, meeka ke kasir untuk membayar barang yang mereka ambil.
“Zoey, apa kau sudah selesai?” tanya Zac berlari menghampiri adiknya.
Sontak Rara yang sedang berdidi di depan kasir pun menoleh ke sumber suara yang emmanggil gadis kecil itu.
“Hai Zac,” sapa Rara dengan melambaikan tangannya.
Sesaat Zac meneliti wajah Rara, karena penampilan Rara tidak seperti saat mereka bertemu di pantai. Berbeda dengan Zoey yang langsung mengenali Rara walau penampilannya tak lagi sama.
“Kau wanita yang di pantai itu?” tanya Zac ragu.
“Yes, Zac. Itu adalah dia.”
Rara kembali tersenyum. Namun, baru saja Rara akan memperkenalkan diri, tiba-tiba ponselnya berdering.
“Halo.”
“Oh, iya. Aku segera ke sana.”
Rara menutup teleponnya dan memasukkan kembali ke dalam tas. Kemudian, ia menyelesaikan pembayaran dan kembali berjongkok di depan Zac dam Zoey.
“Sampai ketemu lagi.” Rara membenarkan rambut depan Zac dan membenarkan poni Zoey juga kuncir kudanya itu.
Lalu, ia meninggalkan Zac dan Zoey untuk kembali ke tempat permainan tadi, karena Reihan mengatakan di telepon bahwa mereka sudah selesai bermain.
Saat Rara keluar toko aksesoris itu dan berbelok ke kanan, dari arah kiri Zayn dan Jack datang.
Michelle melihat Rara yang berlari ke arah Tim*Zon*. Mishelle merasa pernah bertemu Rara. Lalu, ia pun melihat Rara di sambut oleh Reihan dan kedua anaknya di depan tempat bermain itu.
“Zoey, kamu sudah memilih benda yang kamu inginkan?” tanya Zayn.
Zoey mengangguk. “Sudah.”
“Baiklah, berapa semuanya, Mbak.” Zayn mengarahkan matanya pada kasir seraya merogoh kantung celana dan membuka dompetnya.
“Sudah di bayar pak,” jawab kasir itu.
“Sudah dibayar, Dad.” Zoey dan Zac bersahutan.
“Siapa yang bayar?” tanya Zayn dengan mengeryitkan dahinya.
“Wanita cantik yang kami temui di pantai bersama Mommy.”
Zayn semakin tak mengerti. lalu, Michelle memasuki toko itu dan bergabung bersama Zayn dan keluarganya.
“Ya, aku melihat wanita cantik itu. Dia bersama keluarganya bermain di sana.” Michelle menunjuk ke arah tempat permainan.
__ADS_1
Zayn pun ikut menoleh, tetapi ia tak melihat orang yang ia kenal, karena Rara, Reihan dan kedua anaknya sudah pergi dari tempat itu.
“Ya sudah ayo kita keluar!” Jack menggiring Zac, Zoey dan Michelle keluar, sementara Zayn masih penasaran siapa wanita cantik yang dimaksud anak dan adiknya.