
Siang ini, Rara hadir pada rapat kerja untuk membicarakan program yayasan selama satu semester ke depan. Ia berada di sebuah hotel bintang lima bersama teman-teman yang lain di kota Lembang. Pukul delapan, mereka berkumpul di Yayasan pusat dan berangkat bersama ke tempat ini. Kemudian pembukaan, lalu break makan siang, setelah itu mereka memulai rapat.
Di ruang meeting hotel yang cukup luas itu juga dihadiri pemilik Yayasan yang bernama Reihan, seorang duda beranak dua dan sudah dua tahun menduda karena istrinya meninggal dunia. Istri Reihan termasuk salah satu korban dari insiden jatuhnya pesawat dengan rute Jakarta - Belitung. Kala itu sang istri ingin pulang ke kampung halaman untuk menemui ayahnya yang sedang sakit. Hingga dua tahun, jasad sang istri tidak juga ditemukan, hingga tim Sar menyatakan bahwa tidak ada korban yang selamat atas insiden itu.
Reihan dan Rara cukup dekat. Pria berperawakan timur tengah itu terpesona sejak pertama kali Yasmin, kepala sekolah taman kanak-kanak memperkenalkan Rara padanya. Ia terpesona dengan kecantikan dan kelembutan Rara. Tanpa sepengetahuan Rara, terkadang Reihan sering memperhatikan Rara saat ia mengajar di luar kelas. Rara begitu lembut ketika menghadapi anak-anak yang nakal atau yang mencari perhatiannya.
Reihan memiliki dua anak yang hanya terpaut satu tahun dari anak pertama ke anak kedua. Semula, ia ingin menaruh kedua anaknya di TK tempat Rara mengajar, tetapi karena jarak antara rumah dan yayasn tempat Rara mengajar terlalu jauh, akhirnya ia mengurung niatnya itu. Kemudian, ia memasukkan kedua anaknya di cabang yayasan miliknya yang dekat dengan rumah.
“Sesi selanjutnya, saya ingin mendengar program dari Taman Kanak-Kanak. Silahkan bu Yasmin,” ucap Raihan, pemilik yayasan itu.
Reihan memiliki beberapa jenis usaha, salah satunya pendidikan. Darah antusias keilmuan dilahirkan dari seorang ibu yang semula seorang kepala sekolah dari sekolah SMA negeri, ayahnya merupakan pejabat militer yang kini bergelar jenderal bintang satu. Kemudian, Ibu Raihan mulai mendirikan yayasan ini sejak ia berusia lima belas tahun.
Di ruang rapat itu, Rara memperhatikan dengan seksama apa yang pimpinannya katakan, karena setelah ini Rara yang dipercaya oleh Yasmin yang merangkap sebagai tim marketing akan membantu Yasmin berbicara setelah ini.
“Selanjutnya untuk program marketing dan target siswa untuk periode mendatang. Saya serahkan pada Ibu Rara untuk menjelaskan.” Arah mata semua orang yang hadir di sana, kini tertuju pada Rara.
Rara menarik nafasnya ketika ia hendak akan berbicara. Ia harus fokus. Untuk saat ini ia tidak boleh memikirkan masalahnya. Ia harus profesional. Untung saja, jauh sebelum masalah rumah tangganya terjadi, ia sudah mengerjakan beberapa materi untuk pagi ini.
Tidak ada pria yang tidak terpesona pada Rara. Siapa yang tidak kenal pesona Cleopatra? Ketika sekolah hingga kuliah, hampir semua kaum adam di angkatan Zayn dan Reza mengenal Rara. Pesona dan namanya yang jarang digunakan orang, membuat Rara mudah diingat. Pesona Rara pun sampai pada Reihan.
Reihan menatap Rara tanpa berkedip. Ia memangku dagunya sembari memperhatikan setiap yang diucapkan Rara. Arah matanya terus tertuju pada bibir ranum Rara yang sedang bergerak menyampaikan persentasi di depan forum. Hal itu pun mengundang perhatian Ratmi, Nayra, dan Widya. Sedangkan Yasmin, fokus pada apa yang disampaikan Rara dan Husna justru fokus pada ketampanan pemilik yayasan itu.
“Liat deh Pak Rei, ngeliatin Rara ampe ngga kedip,” bisik Ratmi pada Nayra yang kebetulan duduk di sebelahnya. Ia sengaja menempelkan bahunya pada bahu Nayra.
“Iya, saya liat, Bu. Saya juga liat beberapa kali Pak Rei tatapannya beda banget ke Rara,” jawab Nayra.
“Ish, dasar laki-laki. Rara kan udah punya suami.” kesal Ratmi.
“Mengagumi mah ngga apa-apa Bu,” celetuk Widya.
Mereka memang mengagumi sosok Reihan yang tampan dan sukses. Belum lagi perangainya yang santun dan taat pada agama, membuat para wanita yang berada di tim pengajar Taman kanak-kanak mengidolakan pria itu, apalagi Husna. Bahkan Husna rela jika dijadikan istri kedua.
“Iya sih,” sahut Ratmi.
Tiba-tiba Yasmin menyenggol siku Nayra. “Fokus. Jangan ngobrol!” katanya berbisik dengan wajah serius.
Akhirnya ketiga wanita beda usia itu pun tidak melanjutkan rumpian mereka.
****
Hari semakin sore. Sementara Rarap diistirahatkan pukul lima untuk istirahat, sholat, hingga makan malam. Setelah itu, baru mereka akan berkumpul lagi di ruangan itu dan mungkin akan berakhir hingga pukul dua belas malam atau lebih, karena seperti itu biasanya. Belum lagi jika ada masalah, maka evaluasinya akan semakin alot.
Saat makan malam, Rara duduk sendiri di meja restauran itu. Di seberang sana, Widya dan Ratmi masih berada di meja prasmanan. Sedangkan Husna dan Nayra berdiri di meja buah dan camilan. Mereka sibuk mengisi perut masing-masing, mumpung semua makanan enak ada di tempat ini. Sementara Yasmin berbincang dengan kepala sekolah yang di tugaskan memimpin Sekolah Menengah Atas.
“Sendirian?” tanya Reihan saat melihat Rara duduk di meja itu sendiri dan hanya memainkan ponselnya.
Rara tengah berkomunikasi dengan Zayn, ketika Zayn menanyakan keberadaannya.
Rara langsung menengadahkan kepalanya dan menatap wajah Reihan yang sudah duduk di depannya. “Eh, iya.”
“Mainin handphone terus sampe lupa dengan sekitar,” kata Reihan yang mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. “Makananmu aja sampe masih utuh.”
Rara tersenyum. “Iya, lagi chat sama ...”
“Suami? Suami kamu possesive banget ya. Kalau liat aku tuh kaya yang pengen, Arrrggg..” kata Rei memeragakan singa yang tengah ngamuk. “Makan orang gitu.”
Rara tersenyum, menahan tawanya. Senyum yang manis yang membuat setiap orang mellihatnya pun ingin ikut tersenyum.
“Ketawa aja. Aku suka kok lihat ketawa kamu.”
Rara kembali tersenyum. “Bapak lagi godain saya?” Rara mengeryitkan dahinya.
Memang Reihan itu ramah dan supel. Sehingga mereka pun mudah akrab, tetapi tetap dengan batasan antara pimpinan dan bawahan.
“Mana berani saya.” Rei mengangkat bahunya. Ia cukup kenal sosok suami Rara yang sukses dan disegani.
“Beruntung ya, Pak Reza. Memiliki istri yang cantik dan bisnis yang pesat. Luar biasa.”
__ADS_1
“Tapi masih beruntung Bapak, yang sudah memiliki buah hati sepasang, sedangkan kami tidak,” jawab Rara.
“Bukan tidak, hanya belum.”
Tidak ada yang tahu tentang operasi pengangkatan rahim yang Rara alami. Pihak Yayasan hanya tahu bahwa Rara kecelakaan cukup berat dan harus istirahat total, pada saat ia cuti panjang waktu itu. Hanya Ratmi dan Nayra yang tahu tentang operasi mengerikan itu.
Rara dan Reihan kembali berbincang. Mereka saling bercengkrama ria dan sesekali Rara tertawa karena Reihan menceritakan kelucuan putra putrinya.
“Tuh liat,” Ratmi kembali menyenggol lengan Widya dengan arah mata menuju meja yang diduduki Rara dan Reihan.
“Ya udah, Bu. Kita duduk disini aja. Jangan ganggu Rara!” kata Widya yang semula hendak duduk bersama teman sejawatnya itu.
“Uuh, Pak Rei kok ngobrolnya sama mbak Rara terus sih. Coba sama aku,” ucap Husna.
“Ih, mau banget.” Ledek Nayra.
Kini, keempat wanita itu duduk dalam satu meja.
“Ya, kan Mbak Rara udah punya suami, kasih kek ke yang jomblo gitu,” celetuk Husna lagi, membuat ketiga wanita yang duduk bersamanya itu tertawa.
“Nasib, Na.” Sahut Ratmi.
Kemudian, Husna merengutkan bibirnya.
Setelah menghabiskan makanan di piring, Rara menengok ke kiri dan kanan. Ia mencari keberadaan teman-teman sejawatnya, karena ketika berjalan menuju restoran ini, teman-temannya itu akan duduk bersamanya di sini.
Rara tersenyum ke arah meja teman-temannya yang duduk cukup jauh dari meja yang ia duduki. Ia pun melambaikan tangan dan langsung dibalas Nayra dan Ratmi.
“Kok mereka duduk di sana,” gumam Rara yang cukup terdengar Reihan.
“Mereka ngga jadi duduk di sini, karena aku yang lebih dulu duduk di sini.”
“Ah, iya.” Rara pun tersenyum ke arah Reihan. “Kalau begitu, aku menemui mereka. Maaf ya, pak.” Rara berdiri dan sedikit membungkukkan tubuhnya.
Reihan pun begitu. “Ya.” Ia mengangguk dan tersenyum. Kemudian, Reihan pun berdiri dari tempat duduk itu dan keluar untuk menikmati suasana hotel di penjuru yang lain.
Rara mengeryitkan dahi, saat melihat Zayn di lobby. Tapi ada yang aneh, di sana Zayn tengah berbincang dengan Reihan. Lalu, Rara menghampiri kedua pria tampan yang menjadi pusat perhatian itu.
“Zayn,” panggil Rara.
Zayn yang sedang duduk di sofa lobby bersama Reihan itu pun menoleh. “Ra.”
“Loh, kalian kenal?” tanya Reihan ketika melihat Zayn dan Rara saling menyapa.
“Zayn itu adik ipar saya, Pak.” Jawab Rara.
“Oh, ya? Kamu adik Fahreza, suami Raea yang pengusaha sukses itu?” tanya Reihan tak percaya, pasalnya perangai Reza dan Zayn sangat berbeda.
Zayn mengangguk.
“Oh, ya ampun,” kata Reihan.
“Terus, kok kalian bisa saling kenal?” tanya Rara pada Zayn dan Reihan.
“Kami kenal sejak lima tahun lalu, Ra. Kebetulan Zayn jadi photografer di prewed dan wedding aku di jogya.”
“Oooh.” Rara membulatkan bibirnya.
Ya, ia ingat sewaktu Zayn akan pergi di malam dirinya dan Reza akan bertunangan.
Rara pun ikut duduk bersama kedua pria tampan itu. Kini, mereka berbincang bertiga. Cukup lama mereka berbincang, hingga telepon Reihan berdering dan ia pamit meninggalkan Rara dan Zayn berdua.
“Kamu tinggal di hotel ini?” tanya Rara.
Zayn mengangguk.
“Tim kamu mana?” tanya Rara lagi.
__ADS_1
“Mereka lagi shoot di dekat pegunungan. Kebetulan aku lagi break, digantikan photografer cadangan karena dari kemarin aku belum libur.”
“Oh.” Rara menganggukkan kepalanya.
“Ra, keluar sebentar yuk! Diluar udara dan pemandangannya enak loh.”
Saat keduanya berdiri, tiba-tiba seseorang meninju Zayn.
Bugh
Zayn tersungkur.
Orang itu adalah Reza. Di rumah Kemal, Reza resah memikirkan Rara ketika istrinya mengatakan akan rapat kerja di tempat Zayn berada. Kemudian, menjelang sore, Reza menyusul istrinya ke tempat ini. Ia hanya ingin memastikan di sini Rara tidak bertemu Zayn dan ternyata apa yang ia khawatirkan pun terjadi. Persis sesaat ketika ia memasuki hotel ini, ia langsung melihat kedekatan Zayn dengan Rara dan itu sungguh membuatnya murka.
“Za, apa-apaan sih kamu,” teriak Rara dan mendorong dada suaminya agar tidak memperlakukan adiknya demikian.
“Masih aja lu deketin istri gue. Hah. Seneng kan lu kalau gue dan Rara bermasalah.” Reza terus mengumpat adiknya.
Seketika, Rara, Reza, dan Zayn menjadi pusat perhatian, termasuk Reihan yang harus menghentikan panggilan telepon itu untuk melihat keributan itu.
Zayn masih tersungkur di lantai sembari memegang bibirnya yang sobek akibat pukulan Reza. Ia hendak bangun. Reza yang kalap, mendekatinya dan mencoba ingin memukulnya kembali. Namun, Rara ikut mendekati kedua pria itu. Ia menghalau tubuh Zayn, tetapi dengan cepat dan tanpa Reza sadari, ia menyingkirkan tubuh Rara dengan keras, hingga istrinya terjatuh ke lantai. Tapi, sebelum sampai di lantai, kepala Rara terbentur ujung meja yang berada di sana.
“Aaaa ...” teriak Rara, saat tubuhnya di rorong Reza dan terbentur.
“Rara ...” teriak Zayn.
“Sayang ...” teriak Reza.
Reihan pun langsung berlari ke arah Rara untuk menolong wanita itu, karena Rara sudah tak sadarkan diri.
“Ambulance,” teriak Rei.
Zayn langsung berlari ke arah resepsionis. “Ambulance.”
Pihak hotel pun dengan sigap mengeluarkan mobil darurat itu. Sedangkan Reza hanya terduduk membisu, ia masih syok dengan apa yang dilakukan, hingga bingung mau berbuat apa.
Rara langsung di gendong Zayn menuju mobil ambulance, sementara Reihan membantunya. Ketika mobil ambulance itu ingin ditutup, Reza menahan pintu itu dan masuk bersama Zayn. Kedua pria itu menunggu Rara di dalam mobil itu menuju rumah sakit. Sementara, Reihan tetap di hotel untuk menyelesaikan pekerjaannya.
“Stop Zayn!”
“Ah, Zayn sakit.” Rintih Rara yang juga tak di dengar oleh Zayn.
“Aaa ...” jeritan Rara semakin menyayat hati Zayn. Tetapi hasrat itu lebih menguasainya.
“Maaf, Ra. Aku tidak bisa berhenti. Tidak bisa.”
“Sakit, Zayn. Ini yang pertama untukku,” kata Rara dengan deraian airmata.
“Ini juga yang pertama untukku, Ra.”
“Sebentar lagi Kak Reza pulang. Dia akan melihat kita.”
“Justru aku ingin dia melihat kita dalam keadaan ini.”
“Zayn, kamu gila. Kamu telah menghancurkan hidupku.” Rara kembali menangis.
“Aku akan bertanggung jawab, Ra. Aku akan menikahimu dan membahagiakanmu.”
“Tidak, aku tidak mau. Aku tidak mau menikah dengan pria brengs*k sepertimu.”
“Aku mencintaimu, Ra. Sungguh Aku tulus mencintaimu,” ucap Zayn lirih.
Di dalam bawah sadar Rara yang tengah pingsan akibat benturan kepala pada ujung meja tadi. Rara mengingat suatu peristiwa yang tidak pernah ia ingat sebelumnya.
“Sayang, bangun!” Reza menggenggam tangan Rara, sedangkan Zayn hanya terdiam dan menatap tajam ke arah Reza. Zayn kesal dengan tindakan sang kakak hingga membuat Rara terluka seperti ini.
Zayn tidak menyadari di balik ketidaksadaran Rara saat ini, ternyata ia telah pulih. Di alam bawah sadarnya, memori peristiwa buruk di malam itu akhirnya kembali Rara ingat. Peristiwa yang merenggut kesuciannya hingga Rara koma selama satu tahun.
__ADS_1
Rara pun ingat ketika ia koma. Ia selalu mendengar suara Zayn yang setiap hari mengurusnya dan memberi semangat untuk segera bangun. Ia pun sering mendengar tangisan Zayn sembari meminta maaf. Apa setelah Rara sadar nanti, ia akan memaafkan Zayn? Karena sepertinya ingatan itu sudah kembali utuh.