Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
"Sekarang boleh kan panggil Sayang?”


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Reza mengurung diri di ruang kerjanya. Ia tahu bahwa pagi ini adalah hari pernikahan Zayn dan Rara. Ia tahu hal itu dari Kemal dan Mirna, ketika kedua orang tuanya datang untuk melihat cucu mereka.


#Flashback On#


“Ini benar rumahnya, Pa?” tanya Mirna yang sengaja tidak memberitahu kedatangannya hari ini pada sang putra.


“Benar, Ma. Papa, masih ingat,” jawab Kemal.


Kedua orang tua Reza berdiri di depan pagar rumah itu. Setelah pulang dari rumah Zayn, mereka menyempatkan diri ke rumahnya sendiri bersama Sanjaya dan Mia. Keesokan harinya, mereka baru berangkat ke Bandung dengan mobil yang dikendarai oleh sopir pribadi Kemal yang baru.


Sopir Kemal, menekan bel rumah itu.


Sesaat kemudian, pengasuh Noah pun keluar. Sebelumnya, pengasuh Noah itu memang pernah bertemu Kemal.


“Bapak, ayo masuk!” ucapnya.


Mirna terus menggandeng suaminya.


“Ayo, Ma.” Ajak Kemal pada sang istri untuk memasuki rumah itu.


Mirna masih terdiam. Ia ragu untuk menemui istri siri Reza. Tapi, mereka juga tidak ingin sang putra merasa diabaikan. Dulu sewaktu Zayn terpuruk, mereka ada untuk Zayn dan sekarang mereka pun akan ada untuk putranya.


Akhirnya kaki Mirna mengikuti langkah sang suami.


“Pa, rumah ini Reza belikan untuk wanita itu?” bisik Mirna tak terima.


Pandangan Mirna beralih pada sekeliling rumah ini. Rumah ini memang Reza beli atas nama Manda. Rumah minimalis yang tidak kecil, tetapi cukup besar untuk keluarga kecil seperti mereka. Rumah ini dihiasi banyak pohon, sehingga terlihat asri.


“Mbak,” panggil Noah dengan berlari ke arah pengasuhnya itu.


Mirna tertegun melihat anak berusia tiga tahun itu. Ya, benar, Noah memang mirip sekali dengan putranya saat kecil.


“Opa,” ucap Noah ketika melihat Kemal.


Kemal berjongkok dan mengambil tubuh Noah untuk di gendong. “Hai.”


“Ini siapa?” tanya Noah ketika melihat ke arah Mirna.


“Ini Oma,” jawab Kemal.


Mirna terenyuh. Anak ini memang tidak bersalah. Ia tak pantas kesal dengan anak ini, karena yang bersalah adalah orang tuanya.


“Mau peluk, Oma?” tanya Kemal pada cucunya.


Mirna mulai membentangkan kedua tangannya untuk memeluk Noah dan Noah pun memajukan tubuhnya untuk masuk ke dalam gendongan Mirna.


“Oh, cucu Oma.” Mirna memeluk tubuh Noah erat.


Mereka masih berada di teras depan rumah itu. Sementara Reza seperti biasa, ia berada di ruang kerjanya dan Manda di kamarnya.


“Di mana Mama dan papamu?” tanya Kemal.


“Tuan ada di ruang kerja, Pak dan Nyonya di kamar,” sahut pengasuh Noah.


“Panggil mereka,” ucap Kemal.


Kemal dan Mirna duduk di ruang tamu ditemani Noah, hingga Reza turun dan Manda keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Ini adalah kali pertama Manda bertemu Mirna, ibu dari suaminya. Mirna menatap sinis pada Manda yang masih berdiri di sana.


“Papa ... Mama ... Kapan datang?” tanya Reza senang ketika mendapati kedua orang tuanya berada di sini.


“Kemarin,” jawab Kemal menerima pelukan itu.


Reza memeluk sang ayah cukup lama. Lalu beralih pada sang ibu. “Mama ...”


“Za,” panggil Mirna lirih. Dapat ia lihat kondisi putranya kini.


Reza tampak lebih kurus dengan jambang yang semakin banyak.


“Kamu seperti tidak terurus. Apa dia tidak mengurusmu dengan baik?” tanya Mirna sinis dengan melirik ke arah Manda.


“Ma,” panggil Kemal pada istrinya agar tidak bersikap demikian pada Manda.


Namun, Mirna tetap menampilkan tidak sukanya pada Manda dan Reza tidak membela istrinya di hadapan sang ibu. Hal itu membuat Manda semakin tidak berarti dimata Reza.


Cukup lama Reza berbincang dengan Reza di ruang tamu. Manda pun berada di sana. Tetapi Manda hanya diam, tak ada yang mengajaknya berbincang kecuali Kemal yang menanyakan kabar bayi yang tengah di kandung Manda. Kemal berusaha netral dan tidak memihak.


“Oh iya, Za. Lusa Rara dan Zayn akan menikah,” kata Mirna.


“Uhuk ... Uhuk ...” Reza terbatuk ketika meminum teh hangat buatan si Bibi.


Deg


Manda pun terkejut. Cepat sekali mantan istri suaminya itu menikah.


“Aku tidak heran, Ma.” Sahut Reza.


“Ya, makanya Papa datang lebih cepat, karena mereka mempercepat pernikahannya,” ucap Kemal.


Reza terdiam dan hanya menganggukkan kepala. Tidak ada orang yang tahu isi hatinya. Tidak ada wanita mana pun yang dapat menggantikan Rara dihatinya. Cukup hanya ia yang tahu hal itu.


“Life must go on, Za.” Kata Kemal lagi.


“Ya, aku tahu. Dan, aku tetap menjalani hidupku, Pa,” jawab Reza.


Mirna tersenyum tipis. Ia tahu bahwa putranya masih belum baik-baik saja, tapi inilah bukti kedewasaan Reza. Pria itu memang harus bisa melewati ini.


Sedangkan Manda hanya menunduk. Ia tak berani berucap apa pun.


#Flashback Off#


Reza ingat hari ini, saat itu Kemal dan Mirna pun tak memaksa Reza untuk menghadiri acara hari ini. Kedua orang tuanya tahu betul karakter sang putra.


Rahang Reza mengeras ketika melihat sosial media Rara yang menampilkan Zayn tengah mencium kening istrinya. Tangannya mengepal ketika melihat semua foto-foto yang di tag oleh Husna, Widya, dan Nayra. Walau Reza tahu bahwa hal ini akan terjadi, mengingat Rara adalah wanita yang lembut dan keibuan, pasti dia tidak akan menerima Zayn demi anak-anaknya.


Reza mengusap wajahnya kasar. Di atas meja kerjanya, ia menutup wajah dengan kedau tangannya. Ini sudah kesekian kalinya ia menangis dan meratapi kebodohannya. Rara pernah menjadi miliknya, tetapi ia tidak bisa menjaga itu.


Ceklek


Manda membuka pintu ruang kerja suaminya dan berkata, “ Mas, kamu belum sarapan dari tadi.”


Reza menoleh ke arah Manda. Ia butuh pelampiasan untuk menghilangkan kesedihannya dan itu adalah Manda.


Reza berdiri dari kursinya dan mendekati Manda. Tanpa kata, ia menggiring Manda menuju kamarnya.

__ADS_1


“Mas kamu mau apa?” tanya Manda yang tidak siap untuk melayani suaminya.


Sejak kemarin Badan Manda terasa tidak enak. Ia lelah mengurus Noah yang super aktif, walau Noah memiliki pengasuh tetapi terkadang anak itu hanya ingin menempel padanya.


“Layani aku,” ucap Reza yang sudah mulai menggerayangi tubuh istrinya.


“Mas, jangan sekarang! Aku lelah,” kata Manda lirih.


Reza tak menghiraukan perkataan Manda. Ia tak peduli dengan kondisi sang istri. Ia langsung melucuti pakaian yang melekat di tubuh Manda dan melakukan intinya, menghujam milik sang istri yang belum siap.


“Ah,” rintih Manda yang tidak merasakan kenikmatan itu.


Di sisi lain, Zayn dan Rara terus melebarkan senyumnya di hadapan para tamu. Zac dan Zoey pun demikian. Kedua anak kecil itu tampak sangat bahagia. Jika ditanya siapa yang paling bahagia dengan pernikahan ini? pastinya ketiga Z itu, Zac, Zoey, dan Zayn tentunya. Zayn seperti mimpi ketika tangannya terkepal erat oleh tangan Zanjaya saat ijab qobul. Tidak pernah terbayang ia akan memiliki Rara, menjadikan wanita cantik itu sebagai istrinya.


Zayn dan Reihan berdiri berhadapan. Sedangkan Rara dan Chintya berada di seberang mereka dan anak-ana mereka pun bermain bersama. Kini, Bintang tidak sejahil dulu. Bintang, Zac dan Zoey sudah sedikit akrab. Begitu pun dengan Bintang.


Semula Zayn ingin mengadakan pernikahannya di sebuah hotel mewah. Namun, Rara melarang. Sehingga pernikahan ini hanya diadakan di rumah Zayn dengan tema Garden party. Kebetulan taman di rumah ini cukup luas. Rara hanya ingin pernikahan sederhana yang dihadiri keluarga serta kerabat dan sahabat dekat saja. Walau di sana ada beberapa wartawan, karena Zayn cukup terkenal sebagai fotografer Handal.


“Aku ngga sangka kalian punya kisah yang dramatis,” ucap Reihan ketika berbincang dengan Zayn berdua.


Zayn menatap ke arah Rara yang sedang tertawa bersama Chintya. “Ya, aku juga ngga pernah nyangka bisa jadi suaminya sekarang.”


Reihan tertawa. “Untung aku belum melamar Rara waktu itu.”


Zayn pun ikut tertawa. “Jujur, Mas. Waktu kalian deket. Aku cemburu banget.”


“Tapi sekarang udah ngga cemburu kan?” tanya Reihan meledek.


“Ngga lah, karena sekarang ada Mbak Chintya. Mas Reihan udah ada pawangnya.”


Sontak Reihan tertawa, begitu pun Zayn.


Beberapa menit kemudian, Chintya di tarik Bintang untuk mengambil makanan. Rara berdiri sendirian di sana dengan senyum lebar. Ia melihat ke sekeliling orang yang tengah menikmati makanan yang disajikan dengan wajah suka cita, sama seperti hatinya yang juga sedang bersuka cita.


“Hai, sayang,” bisik Zayn di telinga Rara membuat Rara menoleh dan tersenyum.


“Sekarang boleh kan panggil Sayang?” tanya Zayn tersenyum ke arah istrinya yang tidak melihat ke arahnya tetapi tetap mengulas senyum.


Lalu, Rara menolehkan wajahnya ke arah Zayn. “Itu terserah kamu, asal jangan modus!”


“Tapi kalau sekarang modus ngga dilarang kan?” Zayn melingkarkan tangan kanannya pada pinggang Rara.


Rara melirik ke arah tangan itu. “Zayn, aku bilang jangan modus!”


“Udah muhrim, Sayang.”


“Tapi masih banyak orang.”


Zayn semakin mengeratkan pegangan tangannya di pinggang itu hingga dada Rara menempel pada dada bidang Zayn, membuat Rara tersenyum malu karena tatapan Zayn tak beralih sedikitpun dari wajahnya yang tanpa jarak.


Cekrek


Jack langsung mengambil momen itu dan Rara sadar setelah Jack membidik mereka dengan kamera ditangannya beberapa kali.


“Zayn, malu. Jack memfoto kita.”


Cekrek

__ADS_1


Jack mengambil lagi foto dengan posisi Zayn yang memeluk erat Rara dan berusaha menciumnya, tetapi Rara menghindari ciuman itu dengan mencondongkan punggungnya ke belakang. Chemistry itu makin kuat karena walau Rara menghindar setiap kemesuman Zayn, wanita itu tetap tertawa ceria.


Zayn selalu menggoda Rara di setiap kesempatan, agar wanita itu semakin nyaman berada di dekatnya dan tidak menyesal menjadi istrinya.


__ADS_2