
Langit kembali gelap. Siang sudah berganti malam, Baik keluarga Sanjaya mau pun keluarga Kemal tengah menikmati makan malam di rumah mereka masing-masing.
“Ayo, Zayn makannya tambah,” ucap Mia pada menantunya yang dengan lahap memakan ayam pepes buatan sang ibu mertua.
Sejak kecil, Zayn memang selalu menyukai masakan Mia. Semua makanan yang di olah dari tangan Mia tidak pernah tidak enak menurut Zayn. Bahkan terkadang Mirna cemburu pada Mia ketika Zayn memuji masakan wanita itu dibanding ibunya sendiri.
“Masakan Bunda memang ngga ada lawan,” kata Zayn sambil menunjukkan ibu jarinya ke atas.
“Iya, ayamnya enak, Nek,” sahut Zoey dan Zac pun ikut mengangguk.
“Jadi masakan Mommy ngga enak nih?” tanya Rara seraya menatap ke arah anak dan suaminya bergantian.
“Masakan Mommy juga enak kok,” sahut Zac dan Zoey pun mengangguk. “Yup, masakan Mommy juga enak.”
“Tapi tetap enakan Bunda,” celetuk Zayn santai sambil tetap memakan lahap makanannya, membuat Rara cemberut.
Mia tertawa, begitu pun Sanjaya.
Zayn sengaja membuat Rara kesal sedari tadi, karena ia pun masih kesal dengan kejadian tadi siang, ketika Reza mencium kedua pipi istrinya dan Rara pun tidak berusaha menghindar.
Rara tahu bahwa Zayn saat ini tengah merajuk. Sejak siang tadi, ia sudah berusaha mengajak bercanda atau menggoda suaminya, tapi Zayn tetap merajuk. Padahal Zayn hanya berpura-pura merajuk, padahal ia sudah tidak apa-apa. Zayn hanya ingin melihat sejauh mana Rara menggodanya, karena menurut Zayn Rara belum menggodanya.
“Kalian tahu yang membuat Kakek saangaat mencintai Nenek?” tanya Sanjaya pada Zac dan Zoey dengan menekan kata ‘sangat’ hingga panjang.
Kedua cucu Sanjaya itu menggeleng.
“Karena masakannya,” jawab Sanjaya.
__ADS_1
“Kalau Daddy, apa yang membuat Daddy saangaat mencintai Mommy?” tanya Zoey mengikuti gaya bicara sang kakek.
“Hmm ...” Zayn terkejut dengan pertanyaan putrinya. Ia pun melirik ke arah Rara yang juga sedang meliriknya. “Apa ya?” Zayn pura-pura berpikir.
“Ayo Daddy! Jawab,” seru Zac.
Mia dan Sanjaya juga melihat ke arah menantunya.
“Mungkin karena Mommy jelek,” gurau Zayn membuat Rara merengutkan bibir.
“Eum ...” Rara terlihat merajuk dan Zayn pun tertawa.
Mia dan Sanjaya tersenyum.
“Tapi Mommy ku itu cantik, Dad.” Zac membela Rara.
Zayn tertawa.
“Daddy ... serius,” ujar Zoey.
“Iya, iya. Daddy serius.” Zayn menatap wajah Rara. “Karena Mommy baik, karena Mommy cantik, karena Mommy smart.”
Rara tersenyum dan tersipu malu.
“Ya, sama sepertiku. Aku juga smart,” ucap Zoey.
“Ya, makanya Bintang menyukaimu,” jawab Zac menggoda adiknya.
__ADS_1
“What?” tanya Zayn. “Really?”
“Siapa Bintang?” tanya Sanjaya.
“Itu loh, Yah. anaknya Reihan,” jawab Rara.
“Oh, pria yang pernah ketemu di apartemenmu itu?” tanya Mia.
Rara mengangguk. “Zoey dapet surat dari Bintang.”
“Mommy, jangan ceritakan! Aku malu,” Zoey merengek menggelayuti lengan ibunya yang duduk di persis di sampingnya.
Rara tertawa. “Okey, Mommy tidak cerita,” jawabnya.
“Dasar anak sekarang. Masih TK saja udah kirim-kiriman surat.” Mia menggelengkan kepala sambil tertawa, begitu pun dengan Sanjaya.
“Wah sepertinya, Daddy harus ekstra menjagamu Zoey,” ujar Zayn yang ketar ketir memiliki putri yang cantik.
Sanjaya dan Mia terus mengulas senyum melihat keharmonisan keluarga putrinya. Rara tampak bahagia dengan keluarganya sekarang, di tambah kehadiran Zac dan Zoey yang membuat keluarga putrinya itu terlihat lengkap. Sungguh, Sanjaya merutuki kebodohannya dulu yang memutuskan sepihak keputusan yang ia kira terbaik untuk putrinya.
Mia pun merasakan hal yang sama. Ia sungguh bahagia melihat putrinya bahagia. Bahkan kali ini ada yang berbeda dari putrinya. Rara terlihat agresif. Beberapa kali Mia memergoki Rara yang tengah menggoda suaminya, padahal dulu ketika bersama Reza, Rara tidak seperti ini.
Kondisi makan malam di rumah Kemal pun tak seramai rumah Sanjaya. Suasana makan malam di rumah Kemal tampak berbeda dengan makan malam di rumah Sanjaya. Meja makan itu terdengar sepi, hanya bunyi alat makan yang bersentuhan piring saja. Orang-orang yang tengah duduk tampak tak bersuara.
Manda memang belum bisa beradaptasi di rumah ini. Reza juga tidak pernah mengajak istrinya untuk bisa beradaptasi di sini. Manda dibiarkan untuk bisa beradaptasi sendiri di keluarga ini. Untjngnya Kemal dan Mirna bukan orang jahat. Walau semula Mirna tidak menerima kehadiran Manda, tapi kini wanita paruh baya itu berusaha untuk menerima takdir.
Reza makan tanpa bersuara. Ia diam dan entah sedang memikirkan apa? Sedangkan Kemal dan Mirna hanya saling melirik, karena mereka pun bingung harus berbuat apa? Untung ada Noah yang sesekali berceloteh membuat suasana rumah ini sedikit cair.
__ADS_1
Sesekali Reza melirik ke arah Manda yang sedang melayani putranya makan. Reza mengakui bahwa Manda cantik. Wanita itu juga cukup pintar merawat Noah dan lagi Manda juga sangat mencintai Reza. Reza bisa merasakan hal itu, tapi entah mengapa pria itu belum bisa membalasnya hingga kini. Mungkinkah ini kutukan dari Rara yang dulu sakit hati? Entahlah. Yang pasti saat ini Reza mempertahankan Manda hanya sekedar tanggung jawab dan sampai kapan ia akan bertahan? Ia pun tidak tahu. Dan, sampai kapan Manda akan bertahan? Reza pun tak tahu. Hanya waktu yang akan menjawab.