
Hari semakin larut, Zayn berjalan mondar mandir di dalam kamarnya. Sesekali ia meggosok telapak tangannya yang dingin. Entah dingin karena gugup atau canggung karena mulai malam ini, ia akan tidur ditemani Rara.
Zayn berada di dalam kamar ini sendiri. Sementara Rara masih berada di kamar Zoey dan bergantian ke kamarr Zac. Rara menemani kedua anaknya di kamar masing-masing hingga mereka terlelap. Sedangkan Zayn di dalam kamarnya tengah menimbang apa Rara sudah bisa ia sentuh atau belum, karena ia tidak ingin Rara merasa tidak nyaman. Walau sebenarnya Zayn sangat ingin sekali menyentuh tubuh Rara lagi.
Kejadian malam naas itu, sangat membekas untuk Zayn. Ia masih ingat betul lekuk tubuh wanita pujaannya. Walau itu adalah sebuah kesalahan, tapi menurut Zayn hal itu adalah kesalahan terindah, kesalahan yang tak mampu ia ulangi pada orang lain.
“Zoey, kok belum tidur juga?” tanya Rara setelah selesai membacakan dongeng kedua kalinya untuk putrinya.
“Zoey tidak bisa tidur?”
“Kenapa? Padahal hari ini sangat melelahkan. Zac saja sudah tidur,” jawab Rara.
“Tapi buat Zoey hari ini hari yang menyenangkan, sampai Zoey tidak bisa tidur.”
Rara tertawa dan memeluk lagi putrinya. “Zoey bahagia, Mama pulang?”
Zoey mengangguk dan tersenyum lebar. “Sangat, sangaat senang.”
“Kalau begitu, Sekarang Zoey tidur ya. Kamu harus istirahat. Oke! Besok kita bersenang-senang lagi.”
Zoey mengangguk, lalu memejamkan matanya. Ia memaksa matanya untuk terpejam dan Rara mengecup kening itu
“Putri Daddy, belum tidur?” tanya Zayn yang tiba-tiba membuka kamar Zoey.
Zayn baru saja ke kamar Zac untuk memastikan putranya sudah istirahat dan tidak memainkan gadget-nya. Kemudian, beralih ke kamar Zoey.
“Ssstt ...” Rara menutup bibirnya dengan jari telunjuk. “Dia baru saja tidur.”
“Ups ..” Zayn langsung mengatup bibirnya dan menghampiri sang istri yang masih duduk di tepi ranjang sang putri.
Zayn mengecup kening Zoey.
“Susah sekali membuatnya tertidur,” kata Rara sembari menatap wajah Zoey.
“Dia terlalu senang karena kamu sudah pulang.”
Rara mengalihkan pandangannya ke arah Zayn. Zayn pun demikian.
“Apa kalian sangat merindukanku?” tanya Rara.
“Sangat.”
Rara tersenyum dan Zayn menggandeng sang istri untuk keluar dari kamar itu. Zayn juga mematikan lampu sebelum menutup rapat pintu kamar itu.
Zayn menggandeng tangan Rara menuju kamarnya. Mereka berjalan beriringan. Dada Rara, jangan ditanya seperti apa bunyinya. Dag dig dug rasanya. Ia seperti akan melakukan malam pertama, padahal ia bukan lagi seorang gadis.
Rara berjalan menunduk dan sesekali menoleh ke arah Zayn. Ketika Rara menoleh, Zayn pun menoleh ke arahnya hingga tatapn mereka bertemu dan mereka tertawa. Jantung Zayn pun berdetak tak karuan. Padahal mereka hanya berjalan bergandengan tangan menuju kamar.
Zayn dan Rara kembali tertawa.
“Kita udah kaya agebe aja,” ucap Zayn yang kemudian membuka pintu kamarnya.
“Itu sih, kamu. Aku sih ngga,” jawab Rara bohong.
“Yakin?” Zayn menggelitiki pinggang Rara.
“Ah, Zayn. Geli.” Rara tertawa dan menghindari suaminya.
__ADS_1
Namun, Zayn tetap mendekat dan kembali menggelitiki Rara. Mereka masih berdiri di antara ranjang dan sofa. Rara berlari menghindari gelitikan suaminya.
“Udah ah, tidur. udah malem,” kata Rara yang langsung duduk di atas ranjang king size itu dan menarik selimut.
Nafas Rara masih tersengal karena ulah Zayn yang mengajak istrinya bercanda. Zayn pun sama, Ia duduk di atas ranjang itu dengan nafas tersengal dan masih sedikit tertawa.
“Masih aja sih gelian,” kata Zayn.
Sejak kecil Zayn memang senang menggelitiki Rara, karena wanita itu akan langsung tertawa jika digelitiki pinggangnya dan tubuhnya pun akan ikut bergoyang.
“Kamu juga gelian. Nih ya, aku kelitikin juga.” Rara membalas dengan menoel pinggang Zayn dan ternyata Zayn pun kegelian.
Rara tertawa senang karena dapat membalas Zayn.
“Kata orang, pria yang geli digelitiki tandanya sayang istri,” ucap Zayn.
“Masa? Itu sih bisa nya kamu aja. Ngarang!” tanya Rara.
“Ih, ngga percaya.”
“Ngga. Udah ah, tidur!” Rara membaringkan tubuhnya miring menghadap ke arah Zayn tanpa sengaja, lalu langsung memejamkan matanya.
Zayn pun merebahkan tubuhnya dan miring ke arah Rara. Ia menyanggahkan kepalanya dengan tangan sembari menatap wajah teduh sang istri.
Mata Rara sudah terpejam, tetapi pikirannya menerawang perkataan Zayn. Ia mengingat sikap Reza dulu ketika menjadi suaminya. Ya, Reza memang tidak bisa digelitiki. Pria itu tidak merasa geli sama sekali ketika Rara menggelitiki pinggangnya.
Hampir dua puluh menit mata Rara tertutup, tetapi sebenarnya ia tidak tidur. Pikiran Rara meenrawang ke semua hal yang sudah etrjadi antara dirinya, Zayn, dan Reza. Ternyata jalan Tuhan begitu indah. Ia tak menyangka bahwa ia merasakan sebuah cinta yang sesungguhnya, karena dengan Zayn, ia menjadi dirinya sendiri tanpa dibuat-buat harus menjadi sempurna dihadapannya. Memang seperti itulah mereka sejak kecil, selalu apa adanya.
Rara membuka matanya perlahan, ternyata wajah Zayn berada tepat didepannya. Mereka berhadapan tanpa jarak. Kedua mata Zayn pun tengah menatap Rara.
“Loh, kamu belum tidur,” ucap Rara lembut.
“Hmm ... maaf Zayn tapi aku belum ...”
“Ssst ...” Zayn menempelkan jari telunjuknya ke bibir Rara. “Tidak apa. Aku tidak mempermasalahkan itu. Aku akan menunggumu hingga siap.”
Zayn menjeda ucapannya dan kembali bicara. “Aku hanya terlalu bahagia karena bisa tidur satu ranjang denganmu. Ngeliatin kamu aja boleh kan?”
Zayn tersenyum sambil memandangi istrinya.
“Huu ... Dasar gombal.” Rara mengusap wajah Zayn yang mesum.
“Ck, orang ngomong serius dibilang gombal sih.”
“Ya, emang. Kamu kan dari dulu playboy cap kadal.”
Zayn tertawa. “Aku melakukan itu, hanya untuk membuat kamu cemburu. Eh, malah aku yang jadinya cemburu.”
“Salah sendiri, kenapa ngga bilang dari dulu kalau menyukaiku. Aku kan bisa berubah pikiran waktu itu.” Rara tertawa.
Mereka tidak jadi tidur, malah asyik bercengkrama sembari berbaring miring berhadapan dengan menjadikan tangan mereka sebagai alas untuk merebahkan kepalanya masing-masing.
“Aku udah hopeless duluan waktu itu,” ucap Zayn lirih.
“Tapi berani berbuat kurang ajar,” sahut Rara.
“Maaf,” ucap Zayn lagi lirih.
__ADS_1
Mereka saling berpandangan.
“Aku siap mendapat hukuman darimu. Aku juga siap menunggu.”
“Kalau aku tetap tidak bisa memberikan kewajibanku sebagai istri. bagaimana?” tanya Rara untuk menguji sejauh maan kesabaran Zayn.
“Aku akan menunggu.”
“Kalau sampai satu bulan, bahkan satu tahun. Bagaimana?” tanya Rara lagi.
“Aku akan menunggu.”
Hati Rara langsung tersenyuh mendengar jawaban Zayn. “Kenapa?”
“Apa?” Zayn balik bertanya.
“Kenapa kamu mau menunggu?” tanya Rara.
“Karena aku mencintaimu.”
Rara terdiam dan ia membalikkan tubuhnya. Ia membelakangi Zayn. Entah cinta apa yang diberikan Zayn untuknya. Cinta itu sungguh membuat Rara seperti wanita sempurna. Rara pun menangis.
Zayn merasakan tubuh Rara yang bergetar. Ia pun memeluk tubuh itu. “Jangan menangis, Sayang! Setelah ijab qobul tadi, aku janji pada diriku sendiri, tidak akan membuatmu menangis.”
“Kamu tidak boleh seperti ini, Zayn. Nanti aku akan semakin mencintaimu.”
Zayn tersenyum. “Itu yang aku mau.”
Zayn menarik lagi tubuh Rara agar berhadapan dengannya. Ia pun menghapus jejak air mata itu. “Jangan nangis, Ra! Dari kecil kamu tuh jelek kalo nangis. Jadi aku ngga mau buat kamu nangis.”
“Zayn,” teriak rara sembari memukul dada suaminya.
Zayn tertawa dan memeluk tubuh itu. “Sudahlah. Ayo kita tidur! Aku akan memelukmu hingga terlelap.”
Rara kembali membalikkan tubuhnya dan Zayn tidur dengan memeluk tubuh Rara dari belakang. Rara pun menerima pelukan itu dan merasakan sesuatu di belakang bok*ngnya.
Rara bukanlah seorang gadis dan bukan juga seorang wanita yang baru menikah. Ia tahu persis apa yang mengganjal di belakang tubuhnya.
“Zayn,” panggil Rara lirih.
“Hmm ...” jawab Zayn dengan mata yang sudah terpejam. Ia menikmati harumnya tubuh Rara yang memabukkan.
“Ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana,” ucap Rara pelan.
“Dia memang seperti itu jika didekatmu, Sayang. Jadi biarkan saja,” sahut Zayn dengan mata yang masih tertutup dan kedua tangan mendekap erat tubuh sang istri.
“Kamu yakin tidak apa-apa?” tanya Rara lirih.
“Kamu siap menidurkannya?” tanya Zayn yang kemudian membuka matanya.
Rara menoleh ke belakang dan Zayn pun menatap wajah cantik itu. Lalu, Rara menggeleng.
“Ya sudah, kalau begitu tidak usah bertanya. Biarkan dia seperti itu.”
Rara kembali membelakangi suaminya. Pikirannya berkecambuk antara kasihan dan takut.
“Tidurlah, Sayang. Aku ikhlas. Kamu tidak akan dosa karena tidak melayaniku malam ini,” ucap Zayn lembut di telinga Rara, membuat rasa bersalah dibenak Rara hilang.
__ADS_1
“Ah, Zayn. Selalu ada saja hal yang membuatku semakin mencintaimu. Terima kasih,” gumam Rara dalam hati sambil tersenyum dan mulai memejamkan matanya.