Istri Yang Ternodai

Istri Yang Ternodai
Bonchap 4


__ADS_3

Manda dan Sam, baru saja selesai menggelar resepsi pernikahan yang cukup mewah. Ini adalah kali pertama bagi Sarasmanda merasakan acara resepsi pernikahan. Karena ketika bersama Reza, jangankan acara resepsi pernikahan, pernikahannya saja tidak dimasukkan ke departemen agama secara resmi. Itu semua karena ia terlalu memaksakan kehendak. Dan, mulai sekarang Manda akan belajar dari pengalaman buruk itu.


“Hmm ... Wangi,” ucap Sam yang memeluk Manda dari belakang.


Pria itu masih mengenakan jas hitam, sama seperti saat mereka berada di pelaminan. Sam baru saja masuk ke kamar, setelah tadi ia masih menemani beberapa teman-teman seprofesinya yang baru datang.


“Noah sama siapa?” tanya Manda yang sejak memasuki kamar ini, tidak bertemu putranya.


“Sama Mama dikamarnya.”


Keluarga Sam sangat menerima Manda, apalagi Sam menceritakan bahwa dirinyalah yang membuat Manda menderita selama ini. Ia telah menghamili Manda dan tidak bertanggung jawab ketika wanita itu hamil juga melahirkan.


Orang tua Sam merasa sedih. mereka pun prihatin mengingat Manda adalah anak yatim piatu.


Manda merasakan kedua tangan Sam yang melingkar erat di perutnya. Ia juga mersakan hembusan nafas Sam yang mengenai kulit lehernya yang terbuka.


“Terima kasih, Sam. Kamu sudah mau menungguku.”


“Terima kasih juga, karena kamu mau menerimaku. Aku sungguh minta maaf padamu. Mungkin kalau sejak awal aku bertanggung jawab dan tidak pergi, kamu tidak perlu merasakan hal yang menyakitkan itu.”


Manda membalikkan tubuhnya. “Itu juga salahku, Sam. Dan sekarang aku belajar dari kesalahan itu.”


“Aku juga belajar dari kesalahanku.”


Manda tersenyum. Lalu, Sam menempelkan keningnya pada kening Manda. “Mulai sekarang hanya ada aku, kamu, dan Noah.”


“Kalau ada wanita yang datang padaku dengan mengatakan bahwa dia pacarmu, bagaimana?” tanya Manda manja sembari melingkarkan kedua tangannya pada leher Sam.


“itu dusta, karena tidak ada wanita yang aku pacari.”


Manda tersenyum. Ia tahu betul bahwa suaminya ini adalah mantan one night stand.


“Terus, kalau ada yang datang padaku dengan mengatakan bahwa dia mengandung anakmu, Bagaimana?” tanya Manda lagi.


San tersenyum. “Kamu cemburu?”


“Ngga, aku kan cuma tanya.”


“Aku tahu kamu cemburu,” ledek Sam.


“Ngga,” jawab Manda tertawa karena jari Sam mulai menggelitiki pinggangnya.


“Hayo, bilang kalau cemburu.” Sam masih menggelitiki pinggang Manda.


“Ngga, Sam ... Aww ... Sam geli.” Manda menjauh dari tubuh Sam dan berlari ke atas ranjang.


“Sam, geli. Ah ... hahahaha ...” Manda terus tertawa dengant ubuh menggeliat di atas tempat tidur.


“Ayo katakan, kalau kamu cemburu! Aku ingin mendengarnya.” Sam masih sama dengan aktivitasnya.


“Ngga ... hahahaha ...” jawab Manda tertawa.

__ADS_1


“Aku akan menggelitikimu, kalau kamu ngga bilang cemburu.”


“Ish, mau banget sih aku bilang cemburu.”


Sam tertawa dam menindih tubuh istrinya. “Iya dong, karena kalau kamu cemburu, itu artinya kamu sudah mencintaiku.”


Nafas Manda tersengal karena aktivitas Sam yang menggelitikinya tadi. Ia memelankan tawanya dan menatap wajah Sam yang kini mulai serius.


“Aku mencintaimu, Sarasmanda. Sungguh, aku sangat mencintaimu.”


Tangan kanan Manda terangkat untuk mengelus rahang kokoh yang memiliki jambang panjang. Pria ini tidak jelek, justru dia memiliki wajah yang tampan. Terkadang, Manda takut menjadi istri Sam dengan segala track record dan profesinya. Hal itu pula yang membuat Manda agak lama untuk menerima pinangan ayah dari putranya itu.


“Aku juga menyayangimu, Sam.”


Sam tersenyum. “Benarkah?”


Manda mengangguk. “Sejak kamu datang dan menolongku serta selalu ada untukku. Aku sudah menyayangimu.”


“Hanya sayang? tidak cinta?” tanya Sam.


Manda tertawa. “Memang beda ya? Bukannya menyayangi juga berarti mencintai.”


Sam menggeleng. “Mencintai posisinya lebih tinggi dari menyayangi.”


“Oh ya?” tanya Manda tersenyum. “Seperti kamu pakarnya dalam hal ini.”


Cup


“Ish, mandi dulu,” protes Manda karena suaminya masih menggunakan pakaian itu sejak pagi.


“Biarin, kecut-kecut malah sedep.”


“Jorok,” kata Manda manja.


Sam tertawa dan bangkit dari atas tubuh Manda yang semula ia tindih. “Baiklah, aku akan mandi dulu. Tapi jangan tidur duluan ya. Awas loh!”


Manda tertawa. “iya, iya ... engga tidur duluan. Janji!”


Manda menampilkan jari kelingkingnya. Lalu, Sam menautkan jari kelingking miliknya ke jari sang istri dan hendak beranjak. Namun, manda menahan lengan Sam.


“Sam, kamu belum jawab pertanyaanku tadi.”


“Yang mana?” tanya Sam.


“Bagaimana, jika ada wanita yang mendatangiku dan mengatakan bahwa dia tengah hamil anakmu atau malah sudah memiliki anak darimu.”


Sam tersenyum. “Aku tidak pernah tidak memakai pengaman dengan wanita lain. Hanya kamu satu-satunya wanita yang aku gunakan tanpa pengaman.”


“Kenapa?” tanya Manda.


“Karena aku nikmat dan tanpa pengaman semakin nikmat.”

__ADS_1


“Sam,” teriak Manda dengan suara manja.


“Aku mandi dulu ya.” Sam mengedipkan satu matanya sebelum beranjak dari sisi Manda menuju kamar mandi.


“Sam,” panggil Manda lagi pada suaminya, ketika Sam sudah melenggang jauh dari sisinya.


Sam menoleh ke belakang. Ia menatap wajah wanita yang selalu menghiasi pikirannya.


“Aku mencintaimu, Sam,” ucap Manda tersenyum.


Sam ikut melebarkan bibirnya. “Siapkan dirimu, Sayang. Aku sudah lama puasa.”


Manda membalas dengan mengerucutkan bibirnya. “Kalau begitu aku tidur duluan.”


“Eh enak saja. Kalau kamu tidur duluan, akan aku buat besoknya tidak bisa jalan.”


“Sam ... rese,” teriak Manda lagi.


Sam hanya tersenyum dan menjawab Manda dengan kecupan jauh, membuat Manda menggelengkan kepalanya.


Manda baru menyadari ternyata ia lebih nyaman bersama pria seperti Sam. Entah mengapa saat bersama Reza, ia terlalu memaksakan diri. Padahal ketika dicintai, ia bagai ratu. Itu yang ia rasakan saat ini dengan Sam.


Manda kembali tersenyum dan mengucap syukur. Akhirnya, ia juga bisa menemukan kebahagiaannya dan keluar dari lingkaran yang membuatnya semakin terpuruk.


“Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Mbak Rara,” gumam Manda.


Kedekatan Manda dan Rara justru semakin terjalin erat. Apalagi kedekatan mereka kali ini, bukan hanya untuk mereka saja, melainkan suami mereka yang juga sangat dekat bahkan bekerja dengan profesi dan lebel yang sama.


Manda mengambil ponselnya dan mengetikkan ucapan terima kasih kepada wanita yang mengajarkannya untuk selalu sabar dan yakin bahwa bahagia itu ada. Siapa lagi kalau bukan Rara.


Di tempat berbeda, Rara langsung membaca pesan itu dan membalasnya.


“Aku sangat bahagia, melihatmu bahagia, Nda. Met malam pertama ya. Ah, aku ga mau ganggu pengantin baru.”


Rara tersenyum sambil mengetik pesan balasan itu dan mengirimnya.


“Senyum-senyum sendiri, chat sama siapa sih?” tanya Zayn yang baru saja naik ke atas tempat tidur da mendapati sang istri tengah asyik dengan ponselnya.


“Ada deh,” jawab Rara memancing kecemburuan sang suami.


“Sama Kak Reza ya?” tanya Zayn mengintimidasi.


“Apaan sih? Ngga. lagian ngapain aku chat sama Kak Reza.”


“Siapa tahu?”


Rara tertawa. “Sengaja merajuk ya, supaya dapet service lebih?”


Zayn tak bisa menyembunyikan bibirnya yang ingin tertawa. “Ah, ketahuan.”


“Daddy, rese. Nyebelin. Jelek.” Rara memukul dengan brutal lengan Zayn membuat pria itu tertawa.

__ADS_1


Keduanya bercanda riang di atas tempat peraduan itu, hingga suara yang semula terdengar suara tawa berubah menjadi suara sensual yang penuh gairah.


__ADS_2